Bencana banjir bandang yang menyapu Nepal menyisakan duka dan perjuangan berat di sektor pariwisata. Pemandu wisata tak berdaya.
Setiap tahunnya, Pushpraj Rimal, seorang perencana tur dan sopir taksi di ibu kota Nepal, Kathmandu, menantikan bulan September. Bulan ini adalah musim puncak di mana pariwisata biasanya berkembang pesat.
Namun yang didapatnya kali ini justru serangkaian pembatalan oleh wisatawan. Ya, Nepal sedang tidak baik-baik saja. Banjir dahsyat bulan lalu menewaskan lebih dari 1.450 orang dan menghancurkan jalan raya utama negara itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Situasinya masih seperti lockdown," kata pria berusia 42 tahun itu dikutip dari Al Jazeera, Jumat (2/10/2026).
Pushpraj, yang berbicara bahasa Nepal dan Hindi, bekerja berdasarkan komisi untuk beberapa hotel dan perusahaan trekking di Kathmandu dan kota Pokhara yang indah, yang dikenal dengan danaunya yang terletak di pegunungan Annapurna. Pokhara juga berfungsi sebagai basis bagi para pendaki Himalaya.
Musim wisata Nepal mencapai puncaknya setelah musim hujan berakhir pada Agustus dan langit lebih cerah. Lewat pariwisata, Nepal menarik ribuan wisatawan internasional, menyumbang hampir 8 persen dari produk domestik bruto dan mempekerjakan lebih dari 1 juta orang.
Tahun lalu, Nepal menerima lebih dari 1,15 juta wisatawan yang mengunjungi negara itu, hampir sepertiganya selama musim September-November.
Namun banjir tahun ini, yang dipicu oleh runtuhnya gletser di sepanjang perbatasan Nepal-Tibet di utara, telah mendorong wisatawan menjauh dari daerah yang tidak terkena dampak.
"Saya menyewa dua mobil selama dua bulan, tetapi saya hanya mendapatkan seperempat dari bisnis yang biasanya saya dapatkan dalam satu musim. Wisatawan biasanya mulai berdatangan dari bulan September, tetapi sebagian besar dari mereka telah membatalkan perjalanan tahun ini," ujar dia.
"Saya tidak akan mendapatkan komisi dari hotel atau penyelenggara pendakian, dan bisnis taksi juga tidak berjalan dengan baik. Sekarang saya hanya menunggu musim ini berakhir," kata dia.
Pushpraj memiliki dua anak, Hema (14) dan Rahul (12). Kepada mereka, ia telah menjanjikan tablet, berharap pada Festival Dussain tahun ini, yang jatuh pada Oktober.
"Tetapi tampaknya sekarang mustahil. Saya harus mengecewakan mereka dan mengingkari janji saya kepada mereka untuk pertama kalinya," kata dia dengan nada sedih.
Kisah ini tak hanya dialami oleh Pushpraj, tapi juga Seeta Nepali (61). Ia dan suaminya, Ramakant Nepali (68) menjual buttermilk buatan sendiri di jalan raya yang menghubungkan Kathmandu dengan kota-kota wisata Pokhara dan Chitwan. Pasangan ini, yang juga menjual keju cottage di lingkungan mereka, bergantung pada penjualan harian ini untuk memenuhi kebutuhan hidup.
"Kota kami mungkin tidak hancur oleh banjir, tetapi banjir menjauhkan pembeli. Kami tidak bisa mendapatkan penghasilan selama 11 hari setelah banjir karena jalan terblokir," kata Seeta.
Bahkan setelah dibuka kembali, hanya kendaraan pemerintah yang diizinkan lewat. Hanya beberapa turis datang, namun hasil penjualan bahkan tidak sampai setengah dari yang biasanya dijual.
"Kami hanya menghasilkan seperempat dari penghasilan kami biasanya," dia menambahkan.
Turis Ramai-ramai Membatalkan Liburan ke Nepal
Alexa, seorang warga negara Inggris, berencana mengunjungi Pokhara dan Dhulikhel, sebuah kota pegunungan dekat Kathmandu yang terkenal dengan pengalaman budaya dan penginapan rumahan, bersama lima temannya. Namun, banjir memaksa kelompok tersebut untuk membatalkan perjalanan mereka.
"Ini akan menjadi kunjungan pertama kami ke Nepal, dan kami telah memesan dua taksi dari bandara Kathmandu ke Pokhara pada bulan Juli, beserta hotel, trekking, dan perkemahan. Ketika kami mengetahui tentang bencana tersebut pada tanggal 26 Agustus, kami harus membatalkan semuanya," katanya.
Seorang pelancong dari Jepang, yang meminta untuk tetap anonim, mengatakan bahwa jalan dan jembatan yang rusak akibat banjir bukanlah masalah terbesarnya.
"Kami bisa saja naik pesawat, tetapi situasi dan lingkungan akibat banjir, mayat-mayat yang terdampar bisa membahayakan saya dan keluarga saya, jadi kami memilih untuk membatalkan perjalanan kali ini," kata ayah dari dua anak itu.
Sementara Tapas Kumar dari India tak rela membatalkan liburannya di Nepal. Ia lebih memilih mengubah rencana perjalanan daripada membatalkannya.
"Anak kami tinggal di Amerika Serikat. Dia khawatir tentang kami dan bersikeras agar kami membatalkan perjalanan ke Nepal untuk sementara waktu. Jadi kami menemukan jalan tengah. Kami membatalkan perjalanan ke Pokhara dan memperpanjang masa tinggal kami di Kathmandu selama tujuh hari," kata Kumar, yang bepergian bersama istri dan teman-temannya.
Banyak turis asing mengatakan bahwa mereka juga memeriksa peringatan perjalanan yang dikeluarkan oleh kedutaan mereka di Nepal sebelum membatalkan atau menjadwal ulang perjalanan mereka.
"Beberapa orang juga takut dan salah memahami informasi dan langkah-langkah keselamatan yang dikeluarkan oleh kedutaan negara lain di Nepal dan memilih untuk membatalkan rencana perjalanan mereka. Tetapi kami ingin orang-orang tahu bahwa Nepal terbuka dan aman. Hanya beberapa bagian yang perlu dihindari," kata Surendra Thapa, kuasa usaha di kedutaan Nepal di New Delhi.
Meskipun dampak ekonomi penuh dari penurunan pariwisata masih sedang dinilai, pemilik usaha kecil seperti Pushpraj dan Seeta sudah berada di ambang kesulitan. Seeta kembali berjualan dengan botol-botol susu menteganya, tetapi tidak banyak pembeli.
"Kami hanya makan nasi pipih dan susu mentega untuk makan siang karena pendapatan telah berkurang drastis dan kami tidak mampu membeli cukup sayuran," kata Seeta.
Kedutaan Inggris mengeluarkan peringatan pada tanggal 11 September, memperingatkan bahwa banjir telah membuat banyak daerah tidak stabil dan sulit untuk menjamin perjalanan yang aman di Nepal.
Kedutaan Besar AS mengeluarkan peringatan serupa, menyatakan bahwa banyak daerah tidak aman dan menetapkan zona larangan perjalanan.
"Setiap hari, kami datang ke sini dengan harapan lebih banyak wisatawan mungkin datang untuk melihat Nepal kami yang indah dan membeli dari kami. Namun tetap tidak ada turis," kata dia.
Simak Video "Video: Seminggu Setelah Banjir Mematikan Nepal yang Tewaskan Ribuan Orang"
[Gambas:Video 20detik] (bnl/ddn)










































