Tak ada restoran atau warung makan di puncak gunung. Oleh karena itu, semua peralatan dan bahan makanan harus dibawa sendiri. Bukan sekadar bawa yang mudah, tapi juga yang bergizi.
detikTravel berbincang bersama Harley Sastha, pecinta gunung sekaligus penulis buku Mountain Climbing for Everybody mengenai cara makan dan cuci peralatan yang baik saat naik gunung. Dari perbincangan yang ditulis Kamis (28/5/2015), inilah 6 cara makan dan cuci piring saat naik gunung:
1. Jangan tergantung dengan mie instant
Memang, mie instan adalah satu makanan yang paling mudah dibawa, dimasak dan menggugah selera. Tapi, jangan hanya mengandalkan makanan instan saja karena bisa mengganggu kesehatan.
Usahakan membawa makanan lain yang kaya serat dan protein. Sehingga asupan gizi tetap terpenuhi. Yang namanya naik gunung, sudah tentu butuh tenaga dan tenaga dihasilkan dari makanan yang kita konsumsi.
2. Masak nasi
Intinya, jangan malas masak nasi. Jika tidak tahu bagaimana cara masaknya, belajar dulu sebelum berangkat.
"Kuasai kemampuan untuk bertahan hidup di gunung," ujar Harley.
Itu termasuk bisa memasak. Kenapa harus nasi? Karena mengandung karbohidrat yang bisa menjadi cadangan tenaga. Makan sehat dan acara naik gunung pun tetap berjalan lancar.
3. Bawa camilan untuk dikonsumsi sepanjang jalan
Camilan juga penting untuk mengisi perut sepanjang perjalanan. Misalkan memasak terlalu repot, maka camilan adalah jawabannya.
Pendakian biasanya memakan waktu berjam-jam. Selama itu, tenaga dikuras dan perlu ada asupan makanan yang masuk ke perut. Daripada kelaparan dan makin lemas, bawalah camilan yang Anda suka.
Beberapa makanan yang bisa dibawa untuk camilan adalah buah, kacang-kacangan dan biskuit. Ini bisa menambah tenaga sekaligus mengenyangkan.
4. Buang sampah organik dengan ditanam
Sampah plastik sudah jelas harus dikumpulkan dan dibawa kembali untuk dibuang ke tempat sampah. Nah, bagaimana dengan sampah organik?
"Bukan berarti sampah organik bisa dibuang begitu saja. Pertimbangkan hewan yang hidup di sekitar sana. Jika mereka mengkonsumsi sampah tersebut, bisa bahaya," tutur Harley.
Jika setelah makan masih ada sampah organik yang tersisa. Kamu bisa menggali tanah dan menguburkan sisa sampah organik di sana.
"Kenapa perilaku hewan bisa berubah, itu karena salah manusia juga. Kalau mereka mengenal makanan manusia, bisa lebih agresif dan merubah sifat dasar para hewan tersebut," lanjutnya.
5. Cuci piring dengan wadah tersendiri
Akui saja, banyak dari traveler yang masih sering mencuci peralatan makan langsung di tepi sungai atau danau. Padahal, itu menjadi sumber air banyak orang juga sumber air dari hewan yang tinggal di sekitar sana.
"Kalau cuci piring di sana kan jadinya berminyak, airnya kotor, tidak bisa diminum," kata Harley.
Lalu bagaimana cara mencuci peralatan makan yang benar? Harley memberi tahu cara yang jitu. Yaitu dengan membawa air dengan wadah tersendiri. Bawa ke tempat yang agak jauh, lalu cucilah di sana.
"Nanti, air bekas cuciannya jangan langsung dibuang ke tanah, tapi diciprat-ciprat ke sekeliling sampai habis," lanjutnya.
6. Hindari penggunaan sabun
Separah apapun sisa makanan di peralatan makan, jangan sekali-kali mencucinya dengan sabun. Karena bahan kimia yang terdapat di sabun bisa merusak ekosistem asli yang ada di area hutan dan pegunungan.
Jadi usahakan hanya menggunakan air untuk membilas. Misal tidak terlalu bersih, bisa menggunakan tisu basah atau tisu kering. Eits, jangan lupa membawa pulang sampah tisunya ya!
(Faela Shafa/Fitraya Ramadhanny)












































Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Nyeleneh! Jemaah Zikir di Candi Prambanan: Mau Lepaskan Kutukan Roro Jonggrang
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama