Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Minggu, 05 Des 2021 21:12 WIB

TRAVEL-TIPS

5 Saran Ahli buat Bertahan Hidup Saat Tersesat di Alam Liar

Gunung Gede menjadi salah satu destinasi wisata favorit warga Jabodetabek karena lokasinya yang strategis. Pihak taman nasional sudah kembali membolehkan pendakian ke Gunung Gede saat pandemi COVID-19.
Ilustrasi pendaki (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Begitu banyak cerita pendaki yang tersesat di alam liar di hutan belantara. Lalu bagaimana cara bertahan hidup di keadaan demikian?

Melansir CNN, ada beberapa kejadian pendaki tersesat di hutan. Pertama, setelah berkemah di Oregon pada bulan Mei, Harry Burleigh secara spontan memutuskan untuk menjelajah jalan setapak sebelum kembali ke rumah.

Dia ingin mendaki dalam waktu singkat dan malah secara dramatis menjadi lebih buruk ketika tersesat. Selama 17 hari dia harus bertahan hidup di hutan belantara Oregon hingga dicari oleh istri hingga sukarelawan.

Lalu ada Tyson Steele yang kehilangan kabin, anjing, dan barang-barang miliknya di Alaska karena kebakaran pada Desember 2019. Ia lalu terdampar sendirian dalam cuaca yang sangat dingin.

Kisah-kisah orang-orang ini mencontohkan bagaimana peristiwa tak terduga dapat mengubah keadaan aktivitas di luar ruangan menjadi perjuangan bertahan hidup.

"Bagi mereka yang tidak berniat pergi ke hutan belantara, kecelakaan seperti salah belok atau mobil mogok juga perubahan cuaca yang parah bisa menjadi penyebabnya," kata Dr. David Townes, profesor kedokteran darurat di University of Washington.

"Untuk petualang yang mencari tantangan luar ruangan, penyebab umum adalah bahwa meremehkan yang mereka rencanakan untuk dilakukan. Dan, kebanyakan dari mereka jumawa dengan kemampuan mereka sendiri," imbuh dia.

"Jadi, kesiapan dan persiapan menjadi faktor penentu apakah Anda dapat kembali ke tempat yang aman atau menderita cedera serius, sakit, atau tewas," terang dia.

Tim detikcom bersama Sat Samapta Polres Garut berserta Ade Leji (Kuncen) Gunung Guntur berkesempatan menelusuri Curug Cikoneng tempat Gibran pertama ditemukan.Ilustrasi pencarian pendaki (Foto: Muhammad Ridho/detikcom)

Berikut saran para ahli untuk mengatasi skenario terburuk saat tersesat di alam liar:

1. Perencanaan ke depan

"Sebelum Anda pergi, teliti tujuan yang Anda pilih dengan melihat secara online dan/atau berbicara dengan penduduk setempat yang akrab dengan destinasi tersebut," kata Townes.

Keduanya dapat memberi tahu Anda tentang segala hal yang perlu diketahui terkait kualitas jalur, keberadaan hewan, aksesibilitas air, peta, dan lainnya.

Selain itu, terlepas dari waktu dalam setahun, selalu lihat ramalan cuaca dari beberapa hari sebelumnya hingga hari keberangkatan.

"Setelah Anda merencanakan perjalanan Anda, berikan semua detail penting kepada seseorang. Itu termasuk ke mana Anda pergi, apakah dan berapa banyak orang lain yang pergi, kendaraan yang dipakai, jalan yang direncanakan untuk dilalui dan kapan Anda akan kembali," saran Dinas Kehutanan Departemen Pertanian AS.

Tergantung ke mana akan pergi, Anda harus mengemas barang-barang penting berikut yang dapat membantu mencegah atau meringankan keadaan darurat saat tersesat di alam liar:

- Tablet atau tetes pemurni air dan air
- Makanan yang tidak mudah busuk dan bernilai gizi seperti buah-buahan kering atau kacang-kacangan, batangan energi atau dendeng sapi
- Perlengkapan P3K termasuk disinfektan, torniket, perban, dan bidai aluminium
- Sepatu yang nyaman dengan penyangga pergelangan kaki
- Isolasi (selimut darurat, jaket, topi, sarung tangan, pelindung hujan tahan air, pakaian dalam termal)
- Tabir surya dan topi
- Tempat berlindung yang ringan, jika memungkinkan, seperti karung bivy, terpal atau tenda satu orang
- Senter atau lampu depan
- Korek api tahan air, korek api, dan pemantik api
- Lakban, pisau, obeng dan gunting
- Peta, kompas, dan suar pelacak
- Baterai portabel yang terisi daya

Selain pakaian yang tercantum di atas untuk menjaga kehangatan, Anda juga harus memakainya. Jika cuaca dingin, pakaian katun tidak akan ideal karena kapas basah tidak akan mengering dengan cepat.

Pilih bahan yang tahan air atau mempertahankan sifat isolasi setelah basah, seperti wol atau bahan sintetis.

Bahkan jika Anda pergi ke padang pasir, Anda tetap harus membawa jaket hangat karena suhu bisa turun di malam hari. Dan di banyak daerah pegunungan, kondisi cuaca dapat berubah secara dramatis sepanjang hari.

Puncak Ciremai Masih Jadi Favorit Pendaki Nikmati Libur LebaranPendaki di Gunung Ciremai (Foto: Bima Bagaskara/detikcom)

Selanjutnya: Menangani Skenario Terburuk Tersesat di Alam Liar

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Mang Ade, Sosok yang Temukan Gibran di Gunung Guntur Dapat Hadiah"
[Gambas:Video 20detik]
BERITA TERKAIT
BACA JUGA