Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 22 Agu 2016 21:20 WIB

ADVERTORIAL

Batak Punya Naniura, Sajian Kuliner Ikan Mas Tanpa Dimasak

Advertorial
detikTravel
Jakarta - Memang tak lengkap rasanya jika berkunjung ke suatu daerah wisata, tapi tidak mencoba kulinernya. Apalagi jika berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia, Anda akan menemukan berbagai sajian kuliner yang menggugah selera. Tak hanya kaya akan bumbunya saja, tetapi juga proses pembuatannya yang menarik.

Salah satunya adalah kuliner yang bisa Anda dapatkan di Danau Toba, Sumatra Utara. Anda bisa menemukan sebuah sajian kuliner yang di makan secara mentah, tapi tidak berbau amis. Jika di Peru Anda bisa menikmati Ceviche – makanan khas Peru di mana proses memasaknya tidak menggunakan api, melainkan ikan kakap mentah atau scallop direndam air jeruk lemun agar matang, di Medan Anda bsia merasakan Naniura.

Bedanya, jika Ceviche disajikan dengan irisan bawah merah besar di atasnya, Naniura disiram dengan bumbu halus berwarna kuning. Naniura adalah salah satu makanan khas Batak Tapanuli Utara yang bisa ditemui di Danau Toba, Medan dan Pematang Siantar.

Dahulu, Naniura hanya dihidangkan untuk raja-raja Batak. Namun, kini sudah bisa dinikmati oleh banyak orang, bahkan bisa ditemui di restoran tertentu di sana. "Di Balige kita perlu memesannya karena persiapan dan proses pembuatannya membutuhkan waktu, juga harus dari ikan yang segar," ujar Vita Datau - Ketua Tim Percepatan Wisata Kuliner dan Belanja Kemenpar di Jakarta.

Sajian kuliner Naniura memiliki proses pembuatan yang menarik. Ikan mas mentah atau disebut Dekke, dibersihkan terlebih dahulu dari duri dan lendir. Kemudian, dimatangkan dengan cara merendamnya dengan air asam Jungga atau jeruk purut. Melalui proses ini, kualitas protein di ikan mas menjadi lebih utuh karena tidak terkena api sama sekali. Tidak direbus, tidak digoreng, tidak dibakar, tidak diasap, dan tidak terkena panas api sama sekali.

Jika ingin membuat Naniura, ikan yang digunakan sebaiknya berukuran kecil agar matangnya merata dan masih hidup agar tetap segar. Dibutuhkan waktu 2 hingga 3 jam untuk memasak Naniura yang juga menjadi makanan wajib di acara-acara adat Batak. Naniura siap disantap apabila daging ikan sudah kenyal dan mudah disobek.

Lalu, bumbu siramnya terdiri dari gabungan 10 macam bumbu termasuk andaliman dan kecombrang yang memiliki cita rasa gurih yang kuat, harum, dan khas. Paduan bumbu ini akan membuat selera makan Anda tergoda untuk segera mencicipi. Tekstur kenyal dari daging ikan yang sudah meresap asam jungga menghadirkan sensasi tersendiri.

Berbeda dengan arsik makanan khas Batak lainnya, Dekke di Naniura ini memiliki tekstur kenyal namun mudah dikunyah. Menariknya, ikan yang digunakan juga harus ikan air tawar, pas dengan Danau Toba yang airnya tawar.

Melihat dari komposisi bumbu Naniura, makanan ini sangat bermanfaat bagi kesehatan. Bisa dibuktikan mengapa orang-orang tua kita lebih panjang umur, ini karena mereka mempunyai kebiasaan makan makanan yang sehat, yakni dengan menggunakan bahan-bahan yang segar. Kebiasaan ini yang harus diturunkan kekeluarga. Contohnya, dengan memperkenalkan anak anak mengenai cara makan makanan yang baik yang biasanya ada di makanan tradisional. Bisa dikatakan juga bahwa kearifan lokal tidak pernah salah. Cara makan dan jenis makanan di suatu daerah ditentukan oleh kondisi alam sekitar. Itulah salah satu prinsip gastronomi yang terkenal dengan sebutan otentiksitas.

Menpar - Arief Yahya menyebut jenis makanan Naniura ini adalah khas Batak dan hanya bisa ditemukan di budaya makan Tapanuli. "Tidak semua tempat di tanah air punya jenis makanan khas seperti Danau Toba ini. Karena itu, sayang kalau tidak mencicipi makanan khas itu. Kalau di Eropa ada Samlon yang dimakan ala sushi, di Batak ada Naniura yang juga fresh datidak dimatangkan dengan api. Penasaran kan? Inilah produk budaya kuliner lokal yang sangat khas di Batak," ujarnya.

Menurut Arief Yahya, kuliner adalah salah satu cabang dari wisata berbasis budaya dan tidak bisa dipisahkan dari akar budayanya. Orang Batak menciptakan jenis makanan Naniura melalui perjalanan panjang yang cocok dengan karakter budaya setempat. Ada istilah, asam di gunung, garam di laut, berjumpa dalam belanga. "Perbedaan budaya itu selalu punya satu hal yang sama, salah satunya adalah musik dan kuliner. Enak dan nyaman itu universal," tutup Arief Yahya. (adv/adv)

BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED