Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 20 Apr 2017 14:14 WIB

ADVERTORIAL

Bisnis Pariwisata di Daerah Perbatasan Jadi Prioritas Kemenpar

adv
detikTravel
Parade seni dan tradisi di acara Hari Jadi Kota Sanggau, Kalimantan Barat ke-401 yang digelar 2-8 April 2017.
Parade seni dan tradisi di acara Hari Jadi Kota Sanggau, Kalimantan Barat ke-401 yang digelar 2-8 April 2017.
- Demi mewujudkan target wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 15 juta orang di tahun ini, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus melangsungkan strategi. Salah satunya dengan menyiapkan ekosistem pariwisata di kawasan perbatasan atau crossborder.

Kemenpar memiliki tujuan agar bisnis berbasis wisata turut tumbuh berkembang sejalan dengan pertumbuhan jumlah wsiman yang masuk melalui daerah perbatasan.

"Juga agar berbagai event Wonderful Indonesia Festival di Aruk, Sambas, Entikong, dan banyak lokasi lain di perbatasan Kalimantan-Serawak bertumbuh bisnis pariwisata dan sustainable," ujar Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.

Arief Yahya juga mengatakan, ia tak ingin cepat puas setelah menggaet 3,6% kunjungan wisman dari wilayah perbatasan. Ia ingin membuat area perbatasan semakin hidup dan menjadi destinasi yang ramai dikunjungi wisman.

"Silakan belajar dari banyak negara di Eropa yang maju karena crossborder. Perancis dan Spanyol hebat mengelola crossborder tourism sebagai sebagai pendulang devisa. Malaysia juga untuk market travelers Singapura," tambahnya.

Salah satu pariwisata di perbatasan yang telah disiapkan adalah kawasan pariwisata di Pontianak, Kalimantan Barat. Kemenpar menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Penyusunan Strategi Pemasaran Cross Border di Pontianak pada tanggal 19 hingga 21 April 2017.

"Dalam bisnis, 3S yang harus dilihat Size, Sustainable, dan Spread. Crossborder bisa masuk ketiga kategori itu," tukas Arief Yahya.

Seluruh unsur Pentahelix dilibatkan dalam FGD ini, seperti Instansi/lembaga, pelaku industri/bisnis, asosiasi, akademisi, komunitas, dan media. Sebanyak 52 peserta diajak berdiskusi merumuskan ide dan gagasan dalam membangun pariwisata di wilayah perbatasan Kalimantan Barat.

Dalam mewujudkan kawasan pariwisata di kawasan perbatasan, Menpar Arief Yahya mengusung Rumus ABCGM, yang merupakan singkatan dari Academician, Business, Community, Government, dan Media.

Dalam acara ini dihadirkan akademisi, yakni Rektor Universitas Tanjung Pura. Kalangan pebisnis diwakili oleh maskapai penerbangan Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, Lion Group, Citilink, dan Kalstar. Ada juga asosiasi HPI, INCCA, ASITA, dan PHRI.

Dari unsur komunitas melibatkan para blogger dan pemerhati pariwisata Kepulauan Riau. Lalu untuk unsur pemerintahannya diwakili Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota di Provinsi Kalimantan Barat, perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Provinsi Kalimantan Utara, Imigrasi kelas II Entikong, BPS Kota Pontianak, BAPPEDA Kota Pontianak, Kadin Kota Pontianak, dan Polda Metro Jaya.

Kemenpar juga mengusung jurus Win Way Champions (WWC). Para peserta akan diberikan motivasi oleh Plt Asdep Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Hariyanto, Public Relation Ogilvy Budi Riyanto Binol, dan Praktisi Bidang Kepariwisataan Surya Yuga.

"Ke depannya kita harus bisa mengalahkan atau minimal menyamai Malaysia dan Thailand. Kita harus jadi pemenangnya, menjadi yang terbaik dengan budaya solid, speed, dan smart," ucap Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Esthy Reko Astuti. (adv/adv)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA