Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti mengatakan bila acara ini sangat bermanfaat untuk memantik sinergi Kota Kreatif Pariwisata Indonesia untuk mendatangan wisatawan.
Golnya bagaimana kami bisa bersinergi dengan semua pihak. Badan Ekonomi kreatif maupun penthahelix pariwisata lainnya. Karena saat ini kondisinya bukan hanya karena bentangan alam para wisatawan yang hadir, namun juga karena kreatifnya kota tersebut dalam mendatangkan wisatawan," ujar Esthy.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Eddy, sinergitas itu menempatkan kreativitas sebagai faktor strategis untuk pembangunan berkelanjutan dengan melibatkan semua pihak terkait. Pihak itu antara lain pemerintah, swasta, organisasi profesional, komunitas, dan institusi budaya.
"Jadi nantinya pasca-workshop bisa dirancang untuk memfasilitasi proses pertukaran pengalaman, pengetahuan, dan sumber daya antaranggotanya sebagai jalan untuk mengangkat industri kreatif lokal dan menumbuhkan kerjasama di seluruh dunia dalam pembangunan perkotaan yang berkelanjutan. Dan pastinya, untuk pariwisata Indonesia," sambungnya.
Sekadar informasi, pada tahun 2014, pemerintah telah memfasilitasi empat kota untuk dapat secara resmi masuk dalam jaringan Creative City Network (CCN), yaitu Bandung dan Surakarta sebagai Kota Design, Yogyakarta dan Pekalongan sebagai Kota Craft and Folk Art. Pada akhirnya yang menjadi bagian dari CCN adalah Pekalongan dan Bandung. Hingga kini sudah puluhan kota yang masuk ke dalam Kota Kreatif.
Dalam acara workshop yang digelar pada 9 September 2017 itu, Pelaku Usaha dan juga Sekjen ICCN Arief Budiman, Konsultan, Creativepreneur, dan penulis Buku Affi Khresna ditunjuk menjadi pembicara.
Arief Budiman pun mengucapkan terima kasih kepada Kemenpar yang mau mendukung workshop tersebut. Acara yang juga masuk ke dalam rangkaian Makassar F8 itu bisa berjalan dengan sukses berkat dukungan Kemenpar.
Menteri Pariwisata Arief Yahya menambahkan, kota kreatif harus memiliki inkubator startup company, tempat anak-anak muda mengembangkan ide, mengasah kreativitas, dan membangun usaha baru.
"Di incubator, generasi muda dibina dan dipersiapkan untuk berani bersaing dengan nilai kreatifnya, sebelum produk yang dihasilkan dilepas ke pasar dan wisatawan," kata Arief.
Menurut Arief , tidak cukup hanya pengalaman dalam membina anak-anak muda dengan basis digital dan modal semangat saja. Selain itu, harus didukung dengan tahapan creativity to commerce (C-2-C).
"Harus ada pengujian apakah produk startup dibutuhkan pasar atau tidak. Validasi pasar harus dilakukan di setiap level. Jika tidak dibutuhkan pasar, hentikan sebelum naik ke level berikut. Industri kreatif bukan hanya start up berbasis digital. Industri kreatif juga berlaku di bidang lainnya termasuk Pariwisata," kata pria asli Banyuwangi ini. (adv/adv)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru