Belajar Sejarah Lewat Aroma dan Artefak di Museum Nasional

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Belajar Sejarah Lewat Aroma dan Artefak di Museum Nasional

Qonita Hamidah - detikTravel
Kamis, 08 Jan 2026 07:07 WIB
loading...
Qonita Hamidah
Koleksi wayang Kulit di Museum Nasional Indonesia.
Ruangan replika koin dan mata uang pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah dalam sejarah Islam.
Suasana di ruangan Museum Nasional pengunjung fokus membaca keterangan sejarah yang ada di dinding.
Pengunjung bisa ngobrol langsung dengan Sukarno dengan teknologi AI di Museum Nasional.
Parfum yang dipamerkan di Museum Nasional yang bisa dicium oleh pengunjung.
Belajar Sejarah Lewat Aroma dan Artefak di Museum Nasional
Belajar Sejarah Lewat Aroma dan Artefak di Museum Nasional
Belajar Sejarah Lewat Aroma dan Artefak di Museum Nasional
Belajar Sejarah Lewat Aroma dan Artefak di Museum Nasional
Belajar Sejarah Lewat Aroma dan Artefak di Museum Nasional
Jakarta -

Melangkah ke dalam Museum Nasional Indonesia, pengalaman belajar sejarah terasa berbeda. Bukan sekadar membaca panel informasi, pengunjung diajak menelusuri perjalanan panjang bangsa Indonesia melalui zona-zona pameran tematik yang disusun secara interaktif dan imersif.

Salah satu area yang langsung menarik perhatian adalah pameran rempah-rempah Nusantara. Di ruang ini, deretan cengkeh, pala, kayu manis, jahe, lengkuas, hingga kunyit dipamerkan secara terbuka. Rempah-rempah yang dahulu menjadi komoditas bernilai tinggi itu kini bisa dilihat dari dekat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya melihat, pengunjung juga diajak menggunakan indera penciuman. Aroma rempah-rempah yang khas langsung tercium begitu mendekat, menghadirkan sensasi yang membuat sejarah perdagangan rempah terasa lebih hidup, terutama bagi anak-anak dan pelajar.

ADVERTISEMENT

"Pengunjung senang sekali karena bisa menghirup aromanya langsung. Apalagi kayu manis yang baunya harum," ujar Angel, tour guide Museum Nasional, saat mendampingi pengunjung.

Di antara berbagai rempah, cengkeh menjadi salah satu koleksi favorit. Rempah yang dikenal sebagai "emas hitam" ini pernah memiliki nilai yang sangat tinggi dan menjadi alasan utama kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara.

"Dulu harga cengkeh bisa sama atau bahkan lebih mahal dari emas karena sangat langka," jelas Angel.

Perjalanan sejarah kemudian berlanjut ke lantai atas, menuju ruang pamer Melawan Tanpa Getar atau Fearless Defiance. Ruang ini menyuguhkan kisah perjuangan rakyat Nusantara dalam melawan penjajahan, jauh sebelum Indonesia terbentuk sebagai negara.

"Perjuangan meraih kemerdekaan itu tidak selalu lurus. Banyak liku dan pengorbanan," ujar pemandu saat menjelaskan konsep ruang pamer tersebut.

Di dalamnya, pengunjung dapat melihat koleksi asli milik para pahlawan dari berbagai daerah, mulai dari Aceh, Banten, Makassar, hingga Jawa. Koleksi-koleksi ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap penjajah pada masa itu bersifat kedaerahan dan tersebar di banyak wilayah.

Salah satu yang paling menyita perhatian adalah artefak milik Pangeran Diponegoro, seperti keris, tombak, dan payung. Benda-benda bersejarah ini merupakan hasil repatriasi dari Belanda dan menjadi saksi langsung perjuangan sang pahlawan.

Narasi perjuangan di ruang ini juga tak hanya menyoroti tokoh besar. Kisah rakyat biasa, perempuan, hingga anak-anak yang ikut terlibat dalam perang turut dihadirkan, memperlihatkan bahwa perjuangan kemerdekaan melibatkan seluruh lapisan masyarakat.

"Semua koleksi di sini asli, dan ini cocok sekali untuk edukasi anak-anak sekolah supaya mereka tahu perjuangan para pahlawan," kata Angel.

Melalui pendekatan visual yang kuat, artefak asli, serta cerita yang disampaikan secara naratif, Museum Nasional Indonesia menghadirkan pengalaman belajar sejarah yang relevan, mudah dipahami, dan membekas bagi generasi masa kini.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads