Dua menteri tersebut adalah Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani serta Menteri Pariwisata Arief Yahya.
Kehadiran kedua menteri ini tentunya menunjukkan betapa pentingnya Banyuwangi Ethno Carnival sebagai salah satu festival di Tanah Air. Bahwa selain untuk menunjang pariwisata, kegiatan ini juga berdampak pada pengembangan kemanusiaan serta kebudayaan masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan, nantinya kedua menteri dan rombongan akan melihat langsung parade busana yang dibawakan 160 talent putra putri daerah. Atraksi dari kanak-kanak hingga remaja, semua bakal disaksikan dari panggung kehormatan.
"Melalui ajang ini Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berupaya untuk membingkai kekayaan khasanah budaya, sebagai penghubung antara modernitas dengan seni budaya tradisional," ujar Djuang.
BEC yang tahun ini memasuki tahun ke-7 diharapkan melahirkan sebuah bentuk dari transformasi budaya tradisional ke dalam bentuk-bentuk baru yang lebih menarik untuk dinikmati.
Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, M Yanuarto Bramuda menjelaskan, dalam BEC tahun ini Pemkab Banyuwangi mengangkat tema Majestic Ijen yang akan mengambil sejumlah angle.
Angle pertama Belerang. Bongkahan batu mineral berwarna kuning yang terdapat di Gunung Ijen. Belerang ini setiap hari dieksplorasi secara manual oleh penambang yang jumlahnya sekitar 100 orang. Lalulalang para penambang dengan memanggul bongkahan belerang menjadi pemandangan sehari-hari yang menambah keindahan panorama Ijen.
Kedua adalah Blue Fire yakni pancaran keindahan api biru yang menari-nari di bibir kawah Ijen yang terlihat pada malam hari. Munculnya api biru ini merupakan fenomena alam akibat pertemuan antara sulfur dan panasnya vulkanik yang dipadu dengan bias sinar dari warna hijau tosca danau kawah Gunung Ijen.
Selain Belerang dan Blue Fire, landscape yang ada di Gunung Ijen juga punya pesona. Lembah, hutan dan panorama pepohonan di lereng pegunungan yang diselimuti awan serta munculnya sinar matahari pagi akan memunculkan cahaya keindahan surga di Gunung Ijen.
"Yang terakhir adalah flora dan fauna. Defile BEC yang diikuti anak-anak SD usia 8 sampai 12 tahun yang akan menggambarkan keberadaan lingkungan kawasan Gunung Ijen dan sekitarnya. Yang memiliki flora dan fauna endemic Elang Jawa dan bunga Edelweis," ujar Bramuda.
Deputi Bidang Pengembangan dam Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astuti mengatakan, penyelenggaraan BEC tentunya sebagai salah satu upaya penguatan city branding Kabupaten Banyuwangi melalui potensi budaya.
Selain itu sebagai sarana publikasi dan promosi Kabupaten Banyuwangi di kancah nasional, regional dan internasional.
"Sehingga Kabupaten Banyuwangi bisa dikenal luas dengan segala potensinya serta dapat mendorong Kabupaten Banyuwangi sebagai daerah tujuan wisata dan investasi di dalam negeri maupun investasi dari pihak asing," ujar Esthy.
Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan pariwisata telah ditetapkan sebagai salah satu leading sector perekonomian nasional. Sehingga pengembangan pariwisata di daerah, seperti yang dilakukan Banyuwangi melalui Banyuwangi Ethno Carnival ini sangat penting untuk diapresiasi.
"BEC ini sendiri merupakan satu dari sekian banyak festival yang digelar Pemkab Banyuwangi dan terbukti telah menjadikan Banyuwangi berkembang menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan," ujarnya.
Bahkan pada 2016, jumlah wisnus di Banyuwangi telah melebihi target yang ditetapkan. Jumlah wisnus yang ditargetkan sebesar 2,3 juta justru mencapai 4 juta.
"Begitu juga target wisman sebesar 45 ribu realisasinya mencapai 77 ribu," ujarnya. (adv/adv)











































Komentar Terbanyak
Ketika Ijazah Wakil Presiden Indonesia Dipajang Abadi di Kampus Top Belanda
Jadi PSK-Ogah Bayar Makan Jadi Alasan 8 WNA Diusir dari Bali
Liburan di Bali, Turis China Kehilangan Perhiasan Senilai Rp 178 Jutaan