Menteri Pariwisata Arief Yahya tidak henti-hentinya mengimbau pelaku pariwisata untuk siap menghadapi perubahan dan perkembangan. Di tengah timbulnya disruption di banyak industri, 3T (Telecommunication, Transportation, Tourism) diyakini menjadi industri yang paling banyak mengalami perubahan.
Maka dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II Association of the Indonesian Tour & Travel Agencies (ASITA), Arief memberikan paparan mengenai digital tourism kepada 300 delegasi ASITA dari seluruh Indonesia. Rakernas ini digelar di Ballroom Ciputra World, Surabaya, Jumat (10/11/2017) hingga Minggu (12/11/2017).
Ia menjelaskan pariwisata akan menghadapi perubahan yang revolusioner. Cepat atau lambat, mau tidak mau, suka tidak suka, industri pariwisata harus mengikuti perubahan konsumen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga memberi contoh pada bidang transportasi ketika bertemu dengan digital, seperti Grab, Gojek, dan Uber. Dengan munculnya digital transportation, harga pasar langsung berubah total, harga drop drastis. Begitupun di telekomunikasi, semakin murah, semakin gratis, akan semakin untung. Karena itu WhatsApp, Google, Baidu, dan Line mengirimkan pesan secara gratis.
Sementara, revolusi ketiga adalah tourism. Menurut Arief, jika travel agent tidak bisa mengikuti perubahan zaman, dikhawatirkan akan bernasib sama seperti warung telekomunikasi (wartel), yakni terbunuh dengan sendirinya. Travel agent konvensional akan sulit bersaing dengan online travel agent, seperti Traveloka, Booking.com, TripAdvisor, Ctrip, dan lainnya.
"Mereka para online travel agent ini melakukan sharing economy, mengoptimalkan kapasitas, menjual yang kosong dengan harga murah dan mencari return dari cross selling. Ini semua bisa berjalan dengan cara digital. Bila travel agent masih berharap pada transaksi dengan pertemuan, ini pasti akan bernasib sama seperti wartel yang mati dengan munculnya selular," jelasnya.
Arief mengakui revolusi ini pasti ada resistensi dari incumbent (travel agent konvensional). Namun ia meyakinkan hal ini akan terjadi karena pengalamannya selama puluhan tahun menggeluti dunia telekomunikasi, termasuk saat menjadi Direktur Utama PT Telkom.
"Saya tidak asal ngomong. Contohnya saat di Telkom, bila saat itu kami tidak masuk ke lini selular, Telkom akan habis karena sudah menjadi kepastian masyarakat atau customer Telkom akan mematikan telpon rumahnya dan beralih ke ponsel. Begitu juga dengan tourism, turis sudah mencapai 70% melakukan search and share via online," tuturnya.
Ia menyampaikan perubahan kinerja dalam organisasi Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang bergerak semakin cepat dan berorientasi ke arah program Digital Tourism.
Dalam presentasinya, ia menjelaskan bahwa salah satu rahasia mengapa pertumbuhan wisatawan mancanegara (wisman) Indonesia termasuk 20 besar dunia, atau naik hingga 25% di saat regional ASEAN dan dunia hanya naik rata-rata 6%. Ia mengaku semua disebabkan digital tourism yang diterapkannya.
"Karena kami semakin digital. Dari soal penggunaan media sosial, big data, e-Commerce dan krusialnya digitalisasi untuk mendekatkan diri kepada konsumen," katanya.
Ketua DPP ASITA Indonesia Asnawi Bahar mengakui apa yang disampaikan Arief benar adanya. ASITA pun sudah mempersiapkan diri untuk terus beradaptasi mengikiti perubahan yang menuju digital tourism untuk tetap bisa memberikan kontribusi kedatangan wisman yang ditargetkan pemerintah.
"ASITA menyadari betul apa yang disampaikan Pak Menteri memang sedang terjadi. Karena itu, ASITA juga menyiapkan aplikasi-aplikasi yang bisa digunakan para anggotanya untuk bisa turut bersaing di era digital tourism sekarang ini," ujar Asnawi.
Ia menegaskan salah satu yang menjadi pokok pembahasan dalam Rakernas II ASITA adalah mematangkan aplikasi-aplikasi yang bisa digunakan anggotanya yang 90% adalah UMKM.
"Ini untuk menjawab tantangan yang datang kepada ASIT sehingga kami terus mendorong digitalisasi kepada anggotanya. Sebab, kami menyadari tidak bisa menolak keadaan ini sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, kami akan berada di tengah-tengah keadaan ini. Ini harus kita jalani agar bisa tetap bersaing," lanjutnya.
Maka Rakernas kali ini sengaja digelar di Jawa Timur. Ia menjelaskan salah satu pemimpin daerah di Jawa Timur, yakni Banyuwangi telah berhasil menerapkan digital tourism yang didengungkan Kemenpar.
"Tidak dipungkuri bahwa Banyuwangi adalah daerah yang berhasil memajukan sektor pariwisatanya paling pesat di Indonesia. Semua karena pemimpinnya berhasil menjadi CEO yang bisa menerapkan dan menjawab tantangan perubahan zaman. Semua juga karena sinergi yang bagus dengan Menteri Pariwisata. Karena itu kami sepakat menjadikan Banyuwangi sebagai motivasi dalam memajukan pariwisata di daerah lainnya," ungkapnya.
Dalam Rakernas II ASITA ini, disepakati mempromosikan destinasi wisata yang ada di Jawa Timur. Baik yang sudah tersohor ataupun belum dikenal. Konsep Rakernas II mengambil tema 'Fun Business', 'Explore the Beauty of Mount Bromo', dan 'Effective & Efficient B2B Forum'.
"Rakernas II dihadiri perwakilan DPD Asita di seluruh Indonesia ada 33 DPD. Juga ada Bromo Tengger Semeru Travel Mart Jatim juga yang mempertemukan buyer dan seller dalam sebuah forum B2B dan B2C," paparnya.
Dalam pertemuan bisnis tertutup antara buyer dan seller yang berlangsung dalam satu hari, para seller berasal dari agen wisata, hotel, penyelenggara MICE, tempat wisata dan atraksi wisata sebanyak dari 30 kota/kabupaten di Jawa Timur.
"Sementara buyer adalah agen-agen travel dari Indonesia dan berbagai negara di dunia yang ingin menjual paket tur wisata Jawa Timur (inbound). Ada juga pandangan berbeda pada table top antara sektor wisata dan sektor industri. Pada sektor industri, buyer adalah importir produk-produk Indonesia," paparnya. (adv/adv)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru