Selepas dari pertigaan Subulussalam kami dihadiahi langit yang cerah dan pemandangan perkebunan kelapa sawit di kanan dan kiri kami. Hampir kurang lebih 7 jam perjalanan kami sampai disebuah kabupaten yang bernama Singkil. Yang ada dipikiran saya pertama kali adalah sepi tidak ada keramaian yang berarti. Jarak dari satu rumah ke rumah yang lain berjauhan. Beberapa terpisah oleh kebun kelapa sawit dan baru ketika memasuki ke daerah kotanya sudah tampak rumah yang lumayan banyak dan satu hal yang unik adalah plang-plang Asmaul Husna yang berderet sepanjang jalan mengingatkan saya saat berada di kota Padang.
Ketika sore hari baru tampak kegiatan masyarakat setempat disekitar pelabuhan. Malam harinyapun demikian kota sunyi senyap tak banyak lalu lalang kendaraan ketika kami ingin menikmati makan malam disekitar hotel yang kami tumpangi. Kedai kopipun tidak seramai yang saya bayangkan walau kadang terdengar suara dentingan gitar dan nyanyian pemuda setempat dari kamar tempat kami menginap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong