Dalam perjalanan menelusuri TNBD ini kami beberapa kali menemui suku anak dalam yang sedang keluar hutan. Ciri-ciri mereka antara lain, biasanya mereka hanya memakai cawat/penutup di kemaluan mereka. Bahkan sebagian dari mereka tidak berpakaian sama sekali. Untuk laki-laki, terkadang mereka juga membawa tombak untuk berburu. Mereka terlihat melintas di depan masyarakat sekitar TNBD. Namun, kalau saya perhatikan, tidak terdapat konflik antara kehidupan suku anak dalam dengan masyarakat sekitar. Kami juga menemui seorang dari suku anak dalam yang sudah memakai celana dan bahkan jam tangan. Menurut orang sekitar, hal itu merupakan pemberian dari masyarakat sekitar.
Terdapat beberapa adat dari suku anak dalam yang harus dipatuhi. Sebisa mungkin anda harus meminta izin dahulu. Salah satu adat yang harus dipatuhi adalah semua wanita tidak boleh difoto. Untuk memfoto suku anak dalam, dalam hal ini laki-laki, harus meminta izin terlebih dahulu dari mereka. Ketika kami bertemu dengan beberapa suku anak dalam, kami berhenti, memberikan makan, dan mencoba berkomunikasi dengan mereka. Dari pengalaman kami, suku anak dalam memiliki bahasanya sendiri yang sulit dimengerti. Mereka menggunakan bahasa Indonesia hanya terbatas pada kosakata tertentu. Mereka mengerti ketika kami ajak foto. Kami tanya, "foto?". Mereka menjawab dengan, "oo, wanita engga bole". Hal ini mungkin dikarenakan banyak wisatawan atau pendatang yang mengajak foto, sehingga mereka terbiasa dengan kata "foto".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Bule yang Ngamuk Dengar Warga Tadarusan di Gili Trawangan Ternyata Overstay
Viral 'Tembok Ratapan Solo', Politisi PSI: Bukti Jokowi Dicintai
Sejarah Tembok Ratapan yang Asli: Tempat Suci Umat Yahudi