"Di sini ada 34 keluarga," jelas Bapak Paulus Ngidar (87). Hal itu menunjukkan betapa eratnya persaudaraan dan solidaritas yang mereka jaga. Jika ada yang hendak meninggalkan Rumah Betang Saham, ia harus membuat acara semacam syukuran dengan memotong babi atau ayam yang dimasak untuk seluruh penghuni rumah. Hal semacam ini sudah menjadi kesepakatan atau hukum adat tidak tertulis yang masih berlaku di antara mereka. Kalaupun ada yang nekat pindah tanpa mengadakan syukuran maka ia tidak bisa membawa barang-barangnya. Rumahnya pun akan dialihfungsikan untuk keperluan lain seperti perpustakaan atau penginapan.
Tinggal di rumah tradisional saat zaman telah berkembang pesat seperti ini tidak berarti mereka ketinggalan zaman. Saya melihat ada beberapa gadis remaja yang sedang bermain-main dengan telepon selulernya. Sebagian besar dari penghuni rumah betang bekerja sebagai penyadap karet dan berladang. Namun, ada juga keluarga yang membuka toko kelontong, ada yang menjual sayur-mayur, bahkan ada sepeda motor di dalam rumah. Jujur, saya sangat bingung bagaimana caranya motor itu bisa ada di dalam rumah. Padahal saya saja sedikit takut menaiki tangga kayu yang licin dan berlumut itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Bule Rusia Hajar Warga Banyuwangi gegara Sound Horeg, Korban Tempuh Jalur Hukum
Saat Gibran Ikut Memikul Salib Paskah di Kupang
Setuju Nggak, Orang-orang Jepang Paling Sopan?