Setelah berbagi tempat, kendaraan keluaran tahun terakhir yang disini berfungsi sebagai angkutan umum itupun mulai bergerak menuju Pegunungan Arfak. Sungguh miris, karena di Jakarta kendaraan sejenis itu menjadi kendaraan pribadi yang mewah. Disini, menjadi pengangkut sayur, hewan ternak dan penumpang. Tarif reguler angkutan umum dari Manokwari ke wilayah Arfak ini adalah 350.000 rupiah per orang. Tarif yang mahal bukan karena jaraknya, melainkan karena medan sulit yang harus dilaluinya.
Perjalanan dimulai dengan melewati jalan lurus perkebunan kelapa sawit yang luas. Berakhir di sebuah distrik bernama Warmare. Di distrik itulah kita memiliki kesempatan terakhir untuk membeli perbekalan. Karena setelah itu hanya kampung-kampung kecil yang akan dilalui.
Jalan tanah berbatu kami lalui selepas Distrik Warmare. Tanjakan terjal, jalan menurun yang curam dan sesekali menyebrangi aliran sungai berbatu-batu. Di kiri-kanan jalan, dinding cadas dan jurang yang dalam seakan selalu mengingatkan kami untuk selalu berhati-hati. Setelah satu jam, tibalah kami di Desa Dueibey, Sebuah desa kecil dengan rumah-rumah kaki seribu dan perkebunan di sekelilingnya. Masyarakat Desa Dueibey dengan ramah menyapa kami setiap kali kami berpapasan dengan mereka.
Selepas desa, perjalanan ekstrim berikutnya menanti kami. Kali ini selain mendaki lebih terjal, juga dihiasi dengan debu karena cuaca beberapa hari ini sangat panas dan kering. Setelah beberapa bukit kami lalui, sekitar setengah jam berikutnya, kami melewati desa bernama Indabri yang berdekatan dengan desa berikutnya, Imbenti. Lagi-lagi, keramahan penduduk desa kami rasakan setiap kali kami berpapasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Desa Susipun telah kami lalui. Perjalanan berikutnya terasa lebih ramah, Jalan datar dan lebih luas. Disisi kiri dan kanan jalan membentang hamparan rumput, semak, perdu dan pohon-pohon sedang. Hanya sesekali saja melewati pohon besar. dalam setengah jam berikutnya, di kejauhan, Distrik Anggi dan Danau Gigi telah tampak. Rasa lelah perjalanan pun berganti dengan harapan baru, bermain di tepi danau.
Masyarakat yang tinggal di wilayah Pegunungan Arfak sendiri terdiri dari empat sub suku; Hatam, Moilei, Meihag dan Sohug. Mereka termasuk dalam suku besar Arfak. Setiap suku terdiri dari beberapa Marga dan dipimpin oleh Kepala Suku. Sebagai contoh, Suku Moilei terdiri dari marga-marga Sayori, Ullo, Ayok, Indouw, Wonggor dan lain-lain. Mereka hidup berdampingan sejak jaman dulu, dengan bercocok tanam dan mencari ikan di danau. Distrik Anggi terasa begitu damai dan nyaman. Disekitar rumah-rumah mereka tumbuh bunga abadi Rhododendron sp. berwarna-warni. Tumbuhan markisa, tomat, kentang dan bawang berada tak jauh dari tangga rumah-rumah mereka. Sungguh menjadi pemandangan dan suasana yang menyenangkan. Ditambah lagi dengan keramahan Pak Mathias Saeba dan Istrinya yang dengan santunnya menjawab pertanyaan-pertanyaan kami yang tak habis-habisnya. Dan benar saja, sekarung kentang dan daun bawang, serta dua ikat Rhododendron menjadi oleh-oleh untuk kami.
Kunjungan kamipun selesai. Kami harus segera kembali ke Manokwari sebelum sore dan kabut turun. Tapi yang terjadi, kabut tak mau menunggu sore kali ini. Dan perjalanan lebih mendebarkan pun menanti kami.
Manokwari, 23 Oktober 2010
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Waspada! Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Seluruh Dunia yang Harus Kamu Tahu
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Gara-gara Monyet, Komodo di Singapore Zoo Telan Boneka yang Dilempar