Petualangan Indiana Jones di Toraja

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Susan Stephanie|5147|SULBAR & SULSEL|50

Petualangan Indiana Jones di Toraja

- detikTravel
Rabu, 09 Mar 2011 10:37 WIB
SULAWESI SELATAN - Tujuan perjalanan kami pagi ini ke lokasi wisata Kuburan Erong Lombok Parinding, atau sering disebut Lombok saja.
Berbeda dengan Lombok yang artinya cabai, di Toraja ini Lombok artinya lembah.
Dan memang, Kuburan Lombok ini terletak di sebuah lembah di Dusun Parinding Matampu Kecamatan Sesean, sekitar 7 kilometer dari kota Rantepao.

Sesampainya di sana, kami disambut oleh pemandangan ribuan tengkorak yang berserakan dimana-mana.
Perasaan ngeri pun langsung muncul seketika, tapi langsung lenyap ketika melihat latar belakang dinding gua yang penuh stalaktit bergantungan.

Tempat ini merupakan kuburan Toraja yang sudah berusia ratusan tahun.
Terbukti dari banyaknya tengkorak yang tadinya berwarna putih kini berubah menjadi warna hijau karena lumut.
Tetapi yang menarik, banyak dari kepala tengkorak di sini, yang gigi-giginya masih utuh dan bagus.
Katanya, orang Toraja jaman dahulu itu, sering menggosok giginya dengan batu supaya rapih dan bersih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dan dari cerita Bang Agus, kuburan ini merupakan kuburan keluarga bangsawan, jadi hanyalah keturunan dari merekalah yang boleh dimakamkan di sini.
Cara penguburannya menggunakan peti dan satu peti itu biasanya untuk satu keluarga, alias peti yang sama diisi oleh beberapa orang yang tentu saja meninggal dalam jangka waktu yang berbeda.
Bentuk peti-peti tersebut bermacam-macam, ada yang yang berbentuk kerbau, babi, bahkan peti yang ujungnya terdapat ukiran kepala naga.
Detil-detil ukiran pada peti-peti ini sangat luar biasa, terbayang betapa sulitnya membuat motif dan gambar-gambar itu.

Sekilas, tumpukan peti dan tengkorak yang diselingi daun-daun merambat mengingatkan akan setting film Indiana Jones ketika menjelajahi makam-makam di kota mistik Akator.
Tapi Lombok ini jauh lebih keren jika dibandingkan dengan film tersebut, nyata dan sejarah panjang tempat ini yang patut dibanggakan.
Sayangnya, objek wisata ini kurang terawat, terlihat dari peti-peti kayu yang mulai rusak dan patah, sehingga corak ukirannya hilang.
Selain itu akses masuk ke tempat ini tidak semudah objek wisata lain di Toraja.
Semoga tempat yang satu ini tidak lekang dimakan waktu, supaya lebih banyak lagi orang-orang yang datang berkunjung dan mengenal sejarahnya.
(gst/gst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads