"Kekayaan bumi kami diambil tapi akses transportasi tidak diperbaiki. Tak ada manfaat,"sambungnya. Ya, saya mengerti. Mungkin sedikit mengerti. Perjalanan kami diawali dengan menyusuri Sungai Kapuas untuk menuju desa-desa tertentu. Dan jujur itu membutuhkan waktu berjam-jam sampai pinggang saya agak pegal apalagi sebelumnya saya harus mual-mual di dalam mobil menikmati jalanan bergeronjal di sana-sini. Saya merasakan akses transportasi yang sulit di tengah kekayaan alam yang melimpah.
Pikiran negatif saya rupanya terhapus pada hari ke empat. Saat itu saya sedang singgah ke Teluk Aur. Di pagi hari saya menikmati matahari terbit dari balik pepohonan. Ada yang menarik di sana. Merah putih melambai-lambai tenang dihembus angin. "Ah, merah putihku," decak saya dalam hati. Nelayan-nelayan yang melintasi Sungai Kapuas juga banyak yang mengibarkan Merah Putih di kapalnya. Itu berarti Indonesia masih di hati mereka. Saya yakin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT












































Komentar Terbanyak
Adzan Menggema di London, Ini Sudut Paling Menggetarkan Hati Muslim di Whitechapel
Bule Australia Terlunta-lunta di Bali, Hidup di Bangunan Kosong-Kakinya Luka
Wisata Korea Tak Lagi Terpusat di Seoul, Kini Wilayah Lain Mulai Dilirik Turis