Sekitar jam 11 siang tanggal 27 Oktober 2010 kami telah selesai memuat perbekalan di Lanting (rumah terapung) Dinas Perhubungan Putussibau dan siap melanjutkan perjalanan. Sebelumnya kami telah diperingatkan untuk memasukkan barang-barang kami ke dalam plastik yang sudah disediakan. Dengan menggunakan sampan bermotor tradisional, kami berlayar ke arah timur melawan arus sungai Kapuas menuju ke hulu. Matahari yang sudah agak condong ke arah barat berada di belakang perahu kami sehingga tidak menyilaukan mata. Teriknya sang surya makin menambah kayanya warna yang bisa kami nikmati sepuasnya. Rimbunnya hutan di kanan dan kiri sungai memanjakan mata dengan warnanya yang hijau menyejukkan. Dengan latar belakang gumpalan awan putih di langit berwarna biru terang tentu saja membuat makin indahnya pemandangan alam.
Di sepanjang perjalanan kami dapat menyaksikan berbagai jenis burung terbang melintasi perahu atau sekedar mencari ikan di pinggir sungai. Suara bermacam serangga bercampur dengan suara deruman motor perahu terkesan menciptakan alunan lagu yang merdu. Di dahan-dahan pohon terdapat berbagai jenis primata bergelayutan atau bahkan berteriak kepada kami seakan mengucapkan selamat jalan. Mungkin cerita ini terkesan dilebih-lebihkan, tapi sejujurnya hal inilah yang saya rasakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum lama perjalanan kami lanjutkan, arus sungai langsung membuat detak jantung saya berdetak lebih kencang. Bagaimana tidak, perahu kami terkesan jalan ditempat karena derasnya arus. Sampan pun bergerak zig-zag dari satu sisi sungai ke sisi lainnya untuk menghindari jeram dan kayu berukuran besar yang mampu menenggelamkan sampan. Kami bersyukur motoris kami termasuk handal dalam mengendalikan laju perahu sehingga kami terhindar dari kemungkinan tenggelam. Bagaimana perahu bergerak meliuk menghindari rintangan menjadi atraksi tersendiri yang sangat menarik dan menegangkan.
Setengah perjalanan terakhir lebar sungai semakin sempit. Sampan tidak lagi memiliki ruang untuk menghindari jeram. Mau tidak mau kami harus berlayar melawan jeram yang cukup besar. Sampan terombang-ambing dengan kencang, kami harus berpegangan agar tidak terjatuh dan tenggelam. Percikan air tak henti-henti menyambar muka dan tubuh kami. Jujur saja, bukan takut yang saya rasakan, tapi ketegangan yang menyenangkan. Pengalaman arung jeram di sungai Citarik jawa barat kalah seru dibandingkan pengalaman kali ini.
Sekian cerita dari saya, semoga cukup menggambarkan ketegangan dan kesenangan yang kami rasakan. Bila Anda merasa cerita kami ini kurang dapat mewakili, saya sarankan untuk langsung datang ke tempat ini dan merasakannya sendiri. Untuk petualangan selama 2 hari 2 malam di Nanga Bungan, biaya yang dikeluarkan adalah 7 juta rupiah untuk satu rombongan dengan jumlah hingga tujuh orang. Perjalanan menuju tempat petualangan saja sudah sangat seru dan menyenangkan, apalagi pengalaman tinggal dan mengikuti aktifitas suku dayak Punan, saya yakin pasti akan lebih menngagumkan. Saya tidak sabar untuk segera bertualang di tempat ini dan menceritakan kembali pengalaman yang saya rasakan. Saya akan menuliskan kembali untuk Anda nanti, selamat menanti. (gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Jokowi Klaim Tak Tahu Ada Ritual Injak Kepala Kerbau, PDIP Tidak Percaya
Provinsi Jawa Barat Mau Ganti Nama Jadi Sunda, Budayawan Cirebon Tanya Urgensinya Apa?
Kasihan! Tapir yang Viral di Lampung Disembelih Warga, Dimasak Jadi Rica-rica