Wajah Baru Pantai Tablanusu

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Ayos Purwoaji|22953|PAPUA 2|28

Wajah Baru Pantai Tablanusu

- detikTravel
Kamis, 17 Feb 2011 12:25 WIB
PAPUA - Syahdan, dulu yang terletak 45 kilometer dari Bandara Sentani ini tidak begitu menarik. Tidak banyak orang yang tahu kecuali para penduduk lokal dan nelayan yang singgah. Namun pantai ini memiliki keunikan yang jarang ditemui di pantai-pantai lain; pasirnya berupa kerikil koral, bukan pasir putih seperti biasa. Pantai dengan luas sekitar 230 hektar ini dihuni oleh beberapa suku, yaitu Suku Sumile, Danya, Suwae, Serantow, Wambena. Somisu, Yakarimlen, Apaserai, Yufuwai dan terakhir Selli.

Air laut di Tablanusu sangat tenang, karena ombak yang datang dari samudra dihalangi oleh beberapa pulau kecil di sekitar Teluk Depapre. Kebanyakan dari pulau ini tidak berpenghuni dan hanya ditumbuhi vegetasi kecil berupa pepohonan dan anggrek hutan. Pada sore hari biasanya menjadi tempat berteduh bagi burung-burung laut dengan bertengger di dahan-dahan pohon yang tersebar di seluruh pulau.

Saya suka sekali pantai yang tidak terlalu banyak orang datang, karena pantai yang tidak begitu populer kebersihannya relatif terjaga. Tablanusu salah satunya, saya jarang melihat sampah berserakan di pantainya, sehingga merasa nyaman untuk menceburkan diri di air laut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbagai potensi inilah yang membangkitkan semangat pemerintah untuk membangun Tablanusu. Berbagai proyek pengerasan jalan dan pembangunan jembatan pun dilakukan. Begitu pula dengan fasilitas penginapan yang ditawarkan, meberi banyak pilihan bagi wisatawan yang datang.

Ada dua jenis cara menginap di Tablanusu; cottage atau tenda. Untuk pilihan semalam, cottage yang ditawarkan seharga 350 ribu rupiah. Sedangkan tenda dome disewakan dengan harga 150 ribu per malam. Saya dan Mas Sukma jelas memilih tenda saja karena murah meriah.

Malamnya, kami menyewa kompor barbeque untuk membakar ikan. Empat potong ikan gabus menjadi santapan kami malam itu. Tidak usah pakai bumbu apa pun, karena dalam kondisi perut lapar semua makanan terasa lezat. Yamin, guide kami yang tambun itu, ternyata pandai mengolah boga. Empat ekor ikan tanpa bumbu tadi akhirnya bisa disajikan dengan sedikit rasa karena Yamin membuatkan sambal colo-colo ala Manado. (gst/gst)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads