Nias dalam Negara Pancasila
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Nias dalam Negara Pancasila

- detikTravel
Rabu, 01 Jun 2011 14:43 WIB
Sumatera Utara - NBC – Tanggal  1 Juni  adalah hari bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Hari itu 66 tahun lalu, di depan para tokoh pejuang kemerdekaan yang masih menghadapi tekanan besar akan dasar negara yang akan mereka lahirkan, Bung Karno tampil menawarkan Pancasila sebagai alternative. Kemampuan Bung Karno mengorasikan konsepsi Pancasila  membuat membuat semua yang hadir dalam pertemuan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai terpesona.

Begitulah sebuah kontrak politik lahir. Sebuah falsafah dasar kehidupan bernegara lahir. Semua sepakat mengesampingkan perbedaan dan menerimanya demi mencapai cita-cita  bernegara. Setelah melalui beberapa perbaikan redaksional, rumusan Pancasila resmi di sampaikan pada tanggal 18 Agustus 1945.

Keadilan social merupakan salah satu sila  yang mesti diwujudkan dalam kehidupan nyata. Negara yang akan  dibentuk mesti  mampu mengubah masyarakat terjajah  menuju  tatanan yang berkeadilan. Hasil perjuangan mesti  dirasakan bersama. Nias yang terkenal dengan sebutan Nusa Indah Andalan Sumatera yang berada didaerah pesisir pantai Barat Sumatera ini juga berhak atas keadilan social.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kini setelah lebih dari setengah abad, kehidupan rakyat Nias, masih  sangat jauh dari harapan dan cita-cita bangsa itu. Kehidupan sosial kemasyarakatan sangat memprihatinkan. Dibandingkan dengan wilayah lain di Indonesia, perekonomian tertinggal akibat  sumber daya manusia  yang tidak berkembang.

Sekali-kali  lihatlah bagaimana kehidupan tukang pandai besi di Nias. Mereka adalah kelompok  masyarakat yang hidup dengan mempertaruhkan keselamatan jiwa. Semenjak pagi mereka  membanting tulang dengan peralatan sederhana yang terdiri dari arang tempurung kelapa, martil dan 2 batang pinang yang telah dilubangi tengahnya. Dengan asupan gizi yang terbatas orang-orang perkasa itu mencoba bertahan hidup dengan menempa besi-besi tua.

Meski pendapatan yang tak pasti, bahkan tak untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, para tukang pandai besi mencoba bertahan dalam pekerjaan. Mereka setiap hari setia menempa, mengolah  besi-besi tua untuk dijadikan alat-alat sederhana seperti pisau, parang, dan alat penyadap karet. Harga jual produksi tak seberapa dibanding keringat dan pengorbanannya.

Sebilah pisau  hanya dijual antara Rp. 6.000 sampai dengan  Rp. 25.000 tergantung dari tingkat kesukaran dan lamanya pembuatan barang tersebut. Parang dijual hanya dengan Rp. 18.000 sampai dengan Rp. 25.000. Pengerjaannya  butuh waktu  3-4 jam plus resiko terkena serpihan besi panas pada saat penempaan.

Berapapun pisau atau parang terjual, saban hari  ia  mesti sanggup menyediakan beras  seharga Rp. 13.000/kilogram untuk makan keluarganya. dipasaran, membuat hati iba dan meneteskan air mata, betapa kerasnya kehidupan dalam negara pancasila ini tanpa adanya uluran tangan dan perhatian dari pemerintah.

Melalui ini saya mencoba menggugah hati para pembaca, jika seandainya ada ide/gagasan cemerlang dalam memberikan perubahan seperti kehidupan para tukang pandai besi. Mereka perlu dientaskan, baik dari segi peralatan, cara kerja serta bahan baku pekerjaannya.

Bila ada langkah-langkah  untuk mengentas kehidupan orang-orang kecil seperti pandai besi terwujud  saya yakin akan ada perubahan berarti.  Perekonomian  masyarakat akan tumbuh  ke tingkat yang lebih baik. Dampaknya pasti bakal  positif bagi  ketentraman dan kebahagiaan masyarakat negara termasuk Nias kita tercinta.

Penulis:

Marlius Telaumbanua

Wakabid Litbang GMNI Nias

(adt/adt)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads