Seperti dilansir smh.com.au, Selasa (3/1/2012) tudingan ini dilancarkan parpol Adhaalath yang cukup kuat di negara kepulauan yang terkenal indah ini. Mereka menilai aneka jasa spa dan pijat dari resor mewah adalah semacam wisata seks.
Tudingan itu tentu disambut berbagai penolakan, karena bisa mengancam industri pariwisata di Maladewa. Maklum saja, pada 2011, sekitar 850.000 turis mendatangi tempat ini dan menyumbang devisa sekitar US$ 1,5 milyar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada sekitar 100 klinik spa yang segera ditutup, termasuk klinik pijat yang tersebar di beberapa pulau tak berpenghuni. Harapan Partai Adhaalath, hal itu bisa mencegah prostitusi serta penyebaran narkoba dan alkohol di Kepulauan Maladewa.
Namun, para pelaku industri pariwisata Maladewa menyangkal klinik-klinik spa yang ada di berbagai resor mewah itu digunakan sebagai tempat wisata seks, bahkan prostitusi.
Banyak turis yang terbang jauh-jauh ke Maladewa, untuk melepas penat dan mencicipi rileksasi di resor-resor mewah itu. Bagaimanapun, tuntutan ditutupnya klinik-klinik spa itu membuat murung industri pariwisata yang menjadi tumpuan utama negara republik ini.
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Saat Gibran Ikut Memikul Salib Paskah di Kupang
Setuju Nggak, Orang-orang Jepang Paling Sopan?
Bayangkan Hidup Tanpa Matahari: Kisah Desa dengan Hujan 'Abadi'