Warna merah mendominasi tiap sudut Klenteng Ban Hin kiong. Begitu pula dengan dekorasinya yang khas Tionghoa. Apalagi jika menjelang Imlek, suasana di sekitar klenteng akan dipenuhi oleh lautan manusia. Walaupun di sekitar klenteng juga terdapat masjid dan gereja, masyarakatnya tetap hidup rukun dan damai. Suatu keharmonisan yang patut dicontoh.
Klenteng ban Hin Kiong sudah menjadi destinasi favorit bagi para traveler jika berkunjung ke Manado. Selain bangunannya yang bersejarah, klenteng ini juga mempunyai dua meriam peninggalan VOC sejak tahun 1788 yang diberikan oleh pemerintah Belanda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Upacara dilanjutkan tanggal 22 Januari, yaitu upacara Tie Sik akhir tahun pada pagi hari. Malam harinya pukul 23.00 Wita, dilakukan upacara Tie Sik lagi untuk menyambut Imlek. Lalu, tanggal 24 Januari, diadakan upacara sembahyang Thau Ge untuk memohon restu dalam memulai kehidupan yang baru di tahun yang baru.
Kemudian, tanggal 26 Januari diadakan upacara Cie Sin untuk menyambut kembalinya Dewa Su Beng Cao Kun. Dalam upacara tersebut, umat yakin dewa tersebut telah membawa titah Tuhan tentang prosesi Imlek tahun ini berkenan direstui atau tidak oleh Tuhan. Caranya dengan melempar kayu poa poe, jika kayu satu tertutup dan satu kayu terbuka, maka perayaan Imlek akan diselenggarakan. tetapi jika dua kayu tersebut tertutup atau dua-duanya terbuka sampai 3 kali, maka Imlek tidak akan diselenggarakan. Sebagai bukti, pada dua tahun lalu, Imlek tidak diselenggarakan di klenteng ini karena kayu poa poe tidak menunjukan hasil untuk menyelenggarakan Imlek. Pada tanggal 6 Februari, barulah Imlek dirayakan.
Kita lihat saja, apakah tahun ini perayaan Imlek 2563 akan diselenggarakan di Klenteng Ban Hin kiong atau tidak.
(gst/gst)










































