Masjid unik di Pantai Ngobaran
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Masjid unik di Pantai Ngobaran

- detikTravel
Jumat, 17 Feb 2012 21:25 WIB
Indonesia, DI Yogyakarta, Gunungkidul -




Pantai Ngobaran merupakan salah satu pantai di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Pantai Ngobaran kurang lebih berjarak jarak sekitar 65 km dari kota Jogja atau dengan kata lain memerlukan waktu kurang lebih 2 jam untuk mencapainya menggunakan kendaraan. Akses menuju pantai ini cukup mudah mengingat jalan yang sudah diaspal dengan baik walaupun ada beberapa titik kerusakan ketika kita telah mendekati wilayah pantai. Untuk mencapainya, kita bisa melalui jalur Imogiri-Panggang ataupun dengan menyusuri Jalan Wonosari. Kalau memilih Jalan Wonosari, patokan pertama dan utamanya adalah memilih persimpangan ke kanan ketika kita telah mencapai traffic lights pertigaan Lapangan Gading (lapangan terbang di Gunungkidul). Sedikit hambatan yang mungkin akan dijumpai adalah kurangnya petunjuk jalan menuju pantai ini sehingga kadang kita harus menggunakan β€œGPS tradisional” alias bertanya kepada warga sekitar agar tidak nyasar.


Jalan masuk menuju Pantai Ngobaran memang kecil, bergelombang, dan juga sedikit becek, akan tetapi dapat dimasuki kendaraan roda empat. Keunikan utama dari pantai ini adalah nuansa multikultural yang tampak jelas dengan adanya berbagai bangunan peribadatan dari beberapa kepercayaan yang dianut orang-orang di negeri ini. Menurut warga sekitar, setidaknya terdapat 4 tempat peribadatan dari kepercayaan yang berbeda yaitu Hindu, Kejawan, Kejawen, dan Islam. Bangunan yg menurut saya paling unik adalah Masjid Aolia, yaitu masjid yang mihrab alias tempat imamnya mengarah ke selatan, ke laut lepas. Namun yang pasti, walaupun arah masjidnya ke selatan, warga sekitar yang melakukan sholat disana tetap mendirikan sholat dengan menghadap ke kiblat. Menurut cerita dari warga sekitar, hal itu tidak lepas dari pengaruh kepercayaan kepada Prabu Brawijaya V.

Asal-usul nama pantai inipun sangat erat hubungannya dengan Prabu Brawijaya. Ceritanya berawal pada jaman Prabu Brawijaya V yang juga merupakan raja terakhir kerajaan Majapahit. Pada saat itu, popularitas Kerajaan Demak dibawah pemerintahan Raden Patah yang juga adalah anak kesayangan Brawijaya sedang menanjak. Pengikut aliran Kejawan merujuk pada salah satu putra Prabu Brawijaya V yang bernama Bondhan Kejawan. Kejawan sendiri sangat dekat tautannya dengan aliran Kejawen yang ada. Lokasi peribadatan dari kepercayaan Kejawan berada di sebuah joglo dekat masjid, sedangkan pengikut Kejawen mendirikan sebuah bangunan di atas bukit karang. Menurut legenda setempat, Brawijaya tidaklah mati melainkan muksa. Sang Prabu dipercaya melakukan upacara muksa dengan cara membakar diri. Kobaran api dari upacara muksa itulah yang menjadikan nama pantai ini Ngobaran.
(gst/gst)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads