Pagi hari setelah selesai sarapan dan mempercantik serta memperganteng diri kami, ditambah dengan serangkaian peristiwa tengah malam yang tidak bisa kami lupakan...Bagaimana mungkin dilupakan kalau baru saja sampai, travel bag saya jebol dan sekitar jam 3 pagi ketika hendak tidur, ada teriakan minta tolong seorang wanita yang syukurnya itu beneran wanita ( awalnya saya pikir hantu ) setelah diketahui, ternyata suaminya kejang-kejang dan menyemburkan darah dari mulutnya..
Back to topic :
9.00 am
Pergilah kami menuju destinasi pertama yaitu Keraton Yogyakarta tapi sayangnya teman kami yang bernama Andri tidak bisa ikut karena ada UTS di kampus UII tercintanya.
Sesampainya di Keraton, saya sangat senang sekalikarena saya pribadi memang mencintai budaya asal saya, yaitu Jawa Tengah. Setelah membayar tiket masuk seharga Rp 5.000 dan tiket khusus kamera Rp 1.000, maka masuklah kami ke dalam area Keraton. Kami menyewa abdi dalem yang bertugas sebagai tour guide yang menjelaskan segala sudut didalam area Keraton.
Ketika memasuki gerbang utama, kami disambut oleh lambang keraton Jogja yang berukuran sangat besar, lalu tidak jauh dari gerbang utama, terdapat sebuah pendopo besar yang memiliki konsep terbuka dan interiornya sangat Jawa sekali ditambah dengan motif lantai yang memiliki corak dan juga langit-langit pendopo yang megah berhias lampu-lampu kristal.
Di dalam pendopo, ada serangkaian alat musik tradisional Jawa yaitu Gamelan yang sangat lengkap sekali. Disisi luar pendopo terdapat kursi-kursi kayu nan kokoh yang digunakan untuk turis yang akan menyaksikan pertunjukan di atas pendopo. Oya, pendopo ini berfungsi sebagai panggung acara kebudayaan yang ditampilkan oleh pihak keraton.
10.00 am
Kami memang sengaja untuk mendatangi Keraton untuk destinasi pertama, karena menurut sumber yang sangat terpercaya, berkata bahwa setiap Kamis ada pertunjukan gamelan di keraton jam 10 - 11 am.
Dan ketika waktu sudah menunjukan jam 10.00 am, mulailah terdengar alunan musik gamelan yang memecahkan kesunyian langit keraton Jogja dan menambahkan keindahan pagi hari ini. Nada demi nada yang terdengar semakin lama membuat saya terbius dalam keindahannya, membuat saya berimajinasi dengan liarnya, membayangkan kalau saya ini seorang puteri keraton yang setiap harinya menikmati keindahan pagi dengan iringan gamelan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bertambahlah kebahagiaanku karena mendapatkan pertunjukan spesial lainnya, bukan hanya gamelan saja ternyata yang dipentaskan pada hari ini, tapi juga ada sendratari yang dilakoni secara solo oleh seorang penari dari keraton. Bodohnya saya lupa nama tarian itu tapi yang jelas, perpaduan antara kelincahan sang penari dan merdunya alunan gamelan benar-benar merupakan paduan yang sangat indah sekali.
11.00 amSelesailah acara Gamelan dan Sendratarinya, kami melanjutkan tour keliling keraton yang dipandu oleh Pak de abdi dalem. Pak de menjelaskan fungsi dari berbagai bangunan yang ada di area keraton Jogja dan juga menceritakan kisah dibalik setiap bangunan tersebut. Pak de juga menceritakan sejarah Jogja dan memberikan kami pelajaran tentang nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam simbol-simbol yang ada di Keraton.
Pak de berkata bahwa kami akan mendapatkan momen bagus lagi dan bersabar menunggu momen tersebut kira-kira 10 menit lagi. Karena Pak de bilang, momen ini yang sangat jarang bisa dijumpai oleh turis yang berkunjung ke keraton.
Tibalah momen itu..
Ritual pemberian Sajian yang dilakukan oleh para abdi dalem wanita yang dituakan disana dan mereka memakai kemben ( pakaian khas wanita Jawa ) dengan motif batik tempo dulu. Sajian itu merupakan makanan kesukaan Sultan dan kalau tidak salah ingat, menu makanan tersebut merupakan warisan menu favorit sejak Sultan Hamengkubuwono I. Dan para abdi dalem ini tidak boleh berhenti sama sekali ketika menghantar sajian ini dari dapur menuju salah satu bangunan yang memang dijadikan sebagai tempat menaruh sajian ini. Hmmm, jadi agak repot ketika ingin foto karena kita harus sedikit mengikuti langkah mereka. But, i've got the best one loh :)
Setelah berlalunya para abdi dalem yang mengantar sajian itu, mulai lagi kami mengitari bangunan-bangunan yang ada di are keraton ini. Setiap bangunan memiliki fungsi yang berbeda-beda. Ada yang sebagai museum benda bersejarahnya Sultan HB I hingga sekarang lalu ada museum batiknya juga dan ketika kami akan melewati salah satu bangunan yang berisi lukisan-lukisan Sultan, saya terhenti karena melihat seorang abdi dalem yang sudah menjadi mbah, ingin sekali saya menjadikan beliau sebagai objek foto maka saya meminta ijin kepada beliau tapi saat selesai memfoto, beliau menyuruh saya duduk disebelahnya dan seketika itu pun tanpa ragu, beliau memegang tangan saya berkata bahwa senang sekali bisa bertemu dengan saya dan setelah itu, beliau memberi saya wejangan berbahasa jawa yang bercampur dengan bahasa Indonesia dan saya bingung sekali ketika melihat beliau yang berlinang air mata. Hati saya tersentuh sekali melihat mbah abdi dalem bisa seperti ini. Terima kasih mbah wejangannya :')
---Perjalanan mengelilingi area keraton kami lanjutkan dan tidak berasa ternyata kami sudah berada kembali di area panggung keraton, yang berarti selesailah tour keraton kami. Tapi seolah tidak puas dengan puluhan hasil foto yang sudah kami miliki, maka kami pun foto-foto lagi :) kapan lagi kan bisa ke Keraton bersama dengan sahabat-sahabat tercinta ini. hehe12.00 pmAndri pun selesai UTSnya dan datang kembali menjumpai kami di Keraton.Setibanya di Keraton, kami pun langsung berdiskusi akan pergi kemana lagi.. Pilihan pun jatuh ke Candi Prambanan tapi sebelum ke Prambanan, kami mencari makan siang yaitu makanan khas Jogja. Gudeg !!!Sampailah kami di jalan sentra gudeg yang tersohor di Jogja, kami memilih warung gudeg atas rekomendasi dari Andri.
---Setelah memesan dan makanan diantarkan ke meja, kami pun makan dengan lahap. kecuali saya yang jujur saja kurang suka gudeg karena menurut saya gudeg itu merupakan lauk yang terlalu manis dan saya kurang suka makanan berbahan dasar olahan nangka.Setelah semua selesai makan, Yan baru bilang kalau tiba-tiba perutnya eror alias eneg banget. Maklumlah, Yan sangat tidak suka makanan manis tapi dia tetap memaksakan dirinya untuk bisa menghabiskan gudeg tersebut. Kasihan sekali tapi sekaligus lucu, melihat ekspresi menahan enegnya dia lebih parah daripada ekspresiku heheheOke !!!Setelah perut terisi dan walaupun penuh perjuangan pada akhirnya, kami melanjutkan perjalanan ke...................Candi Prambanan !!!!!!! Yeeeeeeiiiiiyyyyy !!!!!
to be continued --
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Bule yang Ngamuk Dengar Warga Tadarusan di Gili Trawangan Ternyata Overstay
Viral 'Tembok Ratapan Solo', Politisi PSI: Bukti Jokowi Dicintai
Bandara Mencekam, Penumpang Panik-Ketakutan Saat Bos Kartel Tewas