Bangunan satu lantai berwarna merah ini tampak biasa saja jika dilihat dari luar. Dulu, ini merupakan pos penjagaan rel kereta api Stasiun Makassan, hingga pada 17 Oktober 1993 diubah menjadi museum. Apa yang ada di dalam museum ini tercermin oleh patung yang berdiri di halamannya: pekerja pria dan wanita yang mendorong roda raksasa. Sebuah roda sejarah.
Thai Labour Museum dibangun sebagai mesin waktu yang menceritakan sejarah perjuangan buruh Thailand selama ratusan tahun. Patung "Dignity of Labour" alias "Martabat Para Buruh" adalah representasi harapan para buruh akan adanya kesamaan hak. Soalnya, perjuangan mereka rupanya tak main-main. Selama kurang lebih 300 tahun para buruh Thailand berada di bawah kaki penguasa, terseok untuk mendapat kehidupan yang layak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di ruangan pertama, terdapat foto-foto dan beberapa peralatan yang digunakan para buruh mulai tahun 1700-an. Pada periode ini, penyiksaan budak sangat lazim. Tanpa dibayar sepeser pun, mereka bekerja sangat keras hingga banyak yang meninggal dunia. Mereka adalah korban sistem pemerintahan feodal.
Di ruangan kedua terdapat bukti kemajuan para buruh ketika sang raja, King Rama V, menghapus perbudakan mulai tahun 1873. Di periode ini, para buruh mulai dibayar dan para pria diperbolehkan mencari pekerjaan sendiri.
Tapi, perjuangan para buruh Thailand tak sampai di situ. Ketika Perang Dunia II dan Perang Dingin, pendudukan Jepang menyebabkan pengangguran dan inflasi di Thailand. Para buruh lalu dianggap tidak menguntungkan bagi investasi negara itu. Mereka lalu bergabung dan membentuk asosiasi dan gerakan bawah tanah. Bukti tentang inilah yang bisa Anda lihat di ruangan ketiga.
Di ruangan keempat terdapat bukti pergerakan Reformasi Politik tahun 1932. Anda bisa melihat cetakan leaflet dan koran yang dikeluarkan oleh kaum pekerja. Ini adalah koran pertama yang menjunjung kesamaan hak, serta memberi informasi dan dorongan moril untuk reformasi buruh di Thailand.
Para pemimpin buruh bernasib buruk ketika berada di bawah kekuasaan Panglima Tinggi Sarit. Mereka juga disiksa dan dibiarkan pengangguran. Gerakan buruh dianggap sebagai ancaman terhadap pembangunan ekonomi dan menimbulkan kehancuran investasi. Bukti-bukti dan dokumen tentang ini bisa Anda lihat di ruangan kelima.
Ruangan terakhir diisi oleh berbagai bukti pergerakan buruh Thailand baru-baru ini. Salah satunya, adalah partisipasi kaum buruh dalam memperjuangkan demokrasi pada Mei 1992.
Selain keenam ruangan itu, terdapat pula ruang suvenir dan Prof Nikom Chandravitoon Library. Perpustakaan ini punya banyak koleksi buku, dokumen, dan berbagai penelitian tentang buruh di Thailand.
Thai Labour Museum terletak di Makassan Road, Ratchatewi, Bangkok. Anda bisa menyambangi museum ini mulai Rabu-Minggu pukul 10.00-17.00 waktu setempat. Museum dan perpustakaannya bisa dimasuki tanpa biaya alias gratis.
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Bisa-bisanya Predator Seks Pati Ngaku Lagi Jalani Ritual di Makam Raden Gunungsari
Pesawat Garuda Berputar-putar 4,5 Jam di Langit India, Terhalang Uji Coba Rudal
Bukan Cuma Riau, Ini Deretan Kota Penghasil Minyak Bumi Terbesar di Nusantara