Raja Ampat, Wisata Mahal yang Terbayar Lengkap
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Raja Ampat, Wisata Mahal yang Terbayar Lengkap

- detikTravel
Minggu, 03 Jun 2012 12:24 WIB
Indonesia, Papua Barat, Sorong - Tak jarang wisatawan rela membayar mahal untuk pergi ke sisi timur Indonesia, tepatnya ke Kepulauan Raja Ampat. Uang yang dikeluarkan rupanya terbayar lengkap. Sebanding dengan keindahan alam.
Raja Ampat adalah pecahan kabupaten Sorong sejak 2003. Kepulauan ini terletak di barat laut kepala burung Pulau Papua dan memiliki empat pulau besar yakni Misol, Salawati, Bantata dan Waigeo. Berdasarkan Survei Bakosurtanal tahun 2011, penduduknya sekitar 90 ribu orang yang tersebar di 1884 pulau.

Di tahun 2011, jumlah wisatawan yang datang ke Raja Ampat sebanyak sekitar 8400 orang. 8000 Di antaranya adalah wisatawan mancanegara yang kebanyakan dari benua Eropa, Amerika dan Asia, sedangkan sisanya pelancong tanah air. Maklum, untuk ke Raja Ampat wisatawan harus merogoh kocek dalam-dalam dengan kisaran 20-30 juta rupiah.

Angka ini jelas terhitung mahal. Tak ayal banyak orang bertanya, sepadankah uang yang dikeluarkan dengan pesona alam yang ditawarkan? Izinkan detikcom mewakili mereka-mereka yang pernah ke Raja Ampat: sepadan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Raja Ampat menawarkan paket wisata lengkap, yang mengedepankan aspek keanekaragaman hayati baik di laut maupun daratan dengan panorama yang begitu memikat. Wilayah ini memiliki keanekaragaman hayati yang terlengkap di dunia.

Wilayah ini memiliki 553 jenis koral, dengan presentase 70 persen dari yang ada di lautan dunia. Selain itu, wilayah perairan Raja Ampat juga memiliki 1432 jenis ikan, 699 moluska, 16 jenis ikan mamalia serta satu jenis dugong.

"Itu yang membuat keanekaragaman hayati Raja Ampat terbaik di dunia," tutur Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat, Yusdi Lamatenggo, kepada detikcom di kepulauan Wayag. Kepulauan ini adalah salah satu ikon gambar yang banyak mewakili Raja Ampat.

Lengkapnya keanekaragaman hayati itu membuat perairan Raja Ampat menjadi surga bagi diver ataupun snorkeler. Cantiknya warna koral atau terumbu karang di bawah air, bahkan bisa disaksikan dari atas kapal yang melintas di permukaan.

Ditambah lagi, Raja Ampat merupakan wilayah yang menjadi perlintasan ikan paus karena lokasinya yang berada di bibir Samudera Pasifik. "Rombongan paus melintas ke sini pada periode Juni-Oktober," tutur Yusdi sambil menunjuk laut Raja Ampat yang menghadap Samudera Pasifik.

Selain itu, Raja Ampat juga memiliki sejumlah spesies bawah laut yang masuk dalam kategori langka di antaranya adalah hiu karpet, dan walking shark atau hiu berjalan.

"Hiu berjalan ini unik. Dia seringnya berjalan dengan sirip, bukan berenang seperti ikan lain," ujar Yusdi yang sudah pernah menyaksikan langsung walking shark di perairan Raja Ampat.

Itu baru wisata bawah air. Membicarakan Raja Ampat memang tidak ada habisnya karena untuk wilayah di atas permukaan, wilayah ini juga menyajikan destinasi yang tak kalah memikat.

Gugusan pulau-pulau yang dikenal dengan sebutan The Four King ini memiliki formasi karst (batu kapur) yang tiada duanya dipadu dengan kehadiran burung-burung langka seperti Cenderawasih Merah, Cenderawasih Wilson, serta Maleo Waego.

"Coba daerah mana yang memiliki keindahan lengkap seperti di sini. Di bawah air bagus, di atasnya tak kalah indah," tukas Yusdi sembari tersenyum.

Seperti pemandangan yang detikcom dan rombongan wartawan lain temui di kepulauan Wayag, Sabtu (2/6/2012). Formasi karst dengan berbagai ukuran dan bentuk tersebar dan dipisahkan oleh perairan yang bening.

Melaju dengan kecepatan sedang menggunakan perahu boat milik warga setempat, kami menembus celah-celah batuan karst seukuran pulau-pulau kecil. Begitu menjulurkan pandangan ke bawah menembus beningnya air, kami dapat melihat koral dan karang dengan dominasi warna biru dan hijau.

Mirip seperti di film The Beach yang dibintangi oleh Leonardo di Caprio dengan mengambil seting di Phi Phi Island, Thailand. Tapi kami serombongan kompak mengatakan, apa yang kami temui di Raja Ampat lebih indah dari apa yang ada di film itu.

Bayangkan saja, susunan formasi karst yang begitu mempesona itu dipadu dengan keindahan bawah laut yang memikat. Perpaduan inilah yang ditawarkan Raja Ampat.

Tapi itu baru sebatas pemandangan sporadis karena kami hanya bisa melihat satu demi satu pulau-pulau kapur beserta perairan indah yang memisahkan mereka.

Kami akhirnya memutuskan untuk menepi di salah satu pulau kapur dan memanjat ke atas. Tak mudah untuk mencapai puncak pulau itu. Dengan ketinggian 174 meter, pulau yang bentuknya seperti tumpeng ini memiliki tingkat kecuraman kurang lebih 85 derajat dan cukup licin.

Setelah memanjat layaknya spiderman selama 40 menit, akhirnya kami sampai juga di puncak pulau kapur ini. It's worth to climb. Rentetan kalimat keluhan ketika memanjat, berhenti seketika menjelma menjadi perasaan riang tiada dua.

Bagaimana tidak, dengan sekali memandang kami dapat melihat rentetan pulau kapur di antara perairan bening yang memancarkan warna hijau karang. Di sisi yang lain kami dapat memandang tembok-tembok karst yang membentengi sekaligus menjadi pembatas kepulauan surga ini dengan Samudera Pasifik.

Sayangnya keindahan di Kepulauan Wayag Raja Ampat itu tidak didukung warna langit di hari itu. Cuaca kebetulan mendung disertai hujan gerimis.

Sekitar setengah jam di puncak bukit, kami lantas kembali turun ke bawah. Perjalanan ke bawah ternyata jauh lebih sulit karena kemiringan bukit kapur yang begitu ekstrim. Sesampainya di pinggir bukit kapur, kami menyempatkan diri mencebur dan mencicipi beningnya perairan yang disempurnakan warna indah karang di bawahnya.

Taburan pasir putih bersih di setiap pulau kapur di depan kami seolah melambai agar kami mendekat ke sana. Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama. Salah seorang warga setempat mengatakan di perairan itu ada ikan pari yang beracun. Sementara kami mencebur tanpa persiapan dengan hanya bertelanjang kaki.

Kami memutuskan untuk kembali ke atas perahu dan merapat ke KRI Banjarmasin -- tempat kami para wartawan menginap selama mengikuti Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) Expo 2012 dengan tema Jelajah Raja Ampat-- yang parkir di depan gerbang masuk kepulauan Wayag.

Edon, salah seorang penduduk setempat menuturkan dia pernah memandu turis Malaysia yang datang ke Raja Ampat. Begitu sang turis muncul di permukaan setelah selesai menyelam di perairan Wayag, dia bilang "Ini surga yang jatuh ke bumi."

Well, jika Anda sudah pernah melihat sendiri Raja Ampat, celetukan spontan sang turis dari negeri Jiran itu kiranya tidak akan terasa berlebihan.

Fajar Pratama - detikNews
(gst/gst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads