Hidden Paradise: Sempu Island
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Hidden Paradise: Sempu Island

- detikTravel
Jumat, 13 Jul 2012 09:39 WIB
Indonesia, Jawa Timur, Malang - Perjalanan dimulai Sabtu pagi dari Surabaya. Kami berempat menuju terminal Bungurasih Surabaya pukul 09.00. Disana, kami segera naik bis patas AC tujuan Malang. Perjalanan ke Malang ternyata memakan waktu yang lama karena kami terjebak macet di kawasan Singosari, Malang. Tampaknya tidak hanya kami yang berniat berlibur ke kawasan Malang. Perjalanan yang normalnya hanya 2 jam pun membengkak hingga 3,5 jam.
Kami sampai di terminal Arjosari, Malang pukul 13.30 dan langsung menuju warung makan terdekat. Setelah makan, kami mencari mushola dan segera berangkat dengan angkot AG untuk menyewa tenda di suatu tempat. Namun, tempat tersebut ternyata sangat susah dicapai. Sehingga kami memutuskan untuk segera langsung menuju Pulau Sempu tanpa menyewa tenda.
Angkot AG mengantar kami hingga terminal Gadang. Dari situ, kami diberitahu untuk naik bis ke terminal Pasar Turen. Bodohnya, setelah naik bis, kami baru sadar bahwa uang perbekalan kami semua sudah menipis. Sepanjang jalan menuju Pasar Turen kami memasang mata untuk mencari setidaknya sebuah ATM. Namun yang ada hanyalah jalanan-jalanan rumah tua dan pohon-pohon. Sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda tersedianya sebuah ATM. Kami pun mulai mengatur rencana sekiranya kami tidak bisa mengambil uang tambahan. Seketat mungkin pengeluaran harus ditekan agar setidaknya kami bisa kembali lagi. Tapi Tuhan berkehendak lain, di ujung pemberhentian kami ternyata terdapat sebuah minimarket dengan ATM di dalamnya. Alhamdulillah! Rasanya ingin sujud syukur saat itu juga.
Kami sampai di Pasar Turen pukul 16.30. Setelah mengambil cukup uang, kami pun bertanya dengan orang-orang sekitar mengenai angkutan ke Sendang Biru. Ternyata ada angkutan terakhir menuju kesana, dan kami harus naik sejenis colt. Normalnya, bison atau colt seperti itu hanya cukup maksimal 10 orang. Namun karena keterbatasan angkutan di daerah tersebut, angkutan tersebut memaksakan isinya menjadi hampir 20 orang. Bisa dibayangkan betapa sesaknya angkutan tersebut.
Perjalanan ke Sendang Biru sangatlah melelahkan. Ada baiknya meminum obat tidur sebelum berangkat, agar di jalan bisa tidur dengan pulas. Bukan hanya karena perjalanannya yang jauh sekitar hampir 40 km. Tapi juga karena rutenya yang berkelok-kelok naik turun bukit. Kami saja baru sampai di Sendang Biru mendekati waktu sholat Isya.
Sesampainya disana, kami diantarkan ke salah satu rumah warga yang bernama Bapak Mamik. Beliau memiliki kamar-kamar yang disewakan untuk pengunjung namun katanya sudah penuh disewa untuk orang Korea yang akan datang malam itu. Kami pun diberi tenda dan disarankan untuk membuat tenda untuk tempat tidur kami malam itu.
Kami bangun pukul 05.00 keesokan paginya dan segera bersiap menuju Pulau Sempu! Seharusnya kami mengurus ijin terlebih dahulu ke kantor konservasi, tapi kata Bapaknya, biar ibunya saja nanti yang urus. Sebelum menyeberang, kami pesan mie kuah dengan telor lalu disuruh orang korea yang menginap disitu untuk mencoba kimchi. Rasanya? ASIN! Lebih baik jangan dicoba deh.
Pukul 07.30 kami naik perahu dan segera menyeberang ke Pulau Sempu. Disana kami harus treking sejauh 2,4 km. Untung saja jalanannya kering, sehingga tidak terlalu menyulitkan langkah kami. Setelah hampir satu jam berjalan, tadaaaaaaaa.. hamparan pasir putih mulai terlihat dan bau air laut mulai tercium. Kami rasa kami jatuh di surga. Rasanya tidak ingin pulang!
(gst/gst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads