Pada satu pendakian saya di kota solo, tepatnya di gunung lawu saya berangkat dengan 7 orang rekan saya. Pada saat kami melakukan registrasi di pos cemoro kandang, saat itu sedang berlangsung reuni akbar salah satu pecinta alam di gunung lawu. Sambil menunggu proses registrasi selesai kami menyempatkan diri untuk bercengkrama dan menikmati alunan lagu dari acara tersebut.
Registrasi selesai, kami pun siap untuk berangkat. Kami memulai pendakian pada sore hari, dalam perjalanan kami terlihat sosok Argo Dumilah ( puncak gunung lawu ) berdiri tegak di hadapan kami. Lelah yang dirasakan pun seakan hilang dengan memandang keindahan alam puncak gunung lawu.
Oke, ber jam - jam sudah berlalu malampun tiba. Karena faktor cuaca, fisik dan sebagainya kami memutuskan untuk mendirikan camp di pos 3 yang diberinama pos Penggek. Pagi datang kami dikagetkan dengan sosok Gunung Merapi yang terasa sangat dekat. Waktunya mengisi tenaga, masak dan packing untuk melanjutkan pendakian.
Kami berangkat kira kira jam 10 pagi, dengan tenaga baru kami memulai pendakian dengan sangat semangat, dalam perjalanan kami melewati pertigaan jalan yang arahnya entah kemana. Kami pun sepakat untuk melewati salah satu jalan tersebut, dan wahhh jalurnya nanjak banget ! sampe mau duduk aja ga perlu nekuk lutut, cukup bersender aja di sepanjang trek itu karena memang jalurnya yang sangat terjal.
Setelah beristirahat kami melanjutkan pendakian yang sepertinya sudah mulai dekat dengan argo dumilah, ya jelas saja terasa dekat toh jalur yang tadinya muter - muter kita potong tengahnya :p
Setelah ter-engah-engah dengan tajamnya trek yang kami lewati, akhirnya terlihat tugu di puncak lawu yang di sponsori kopassus dan kyky.
Raga yang terasa lelah dan super cuapeee perlahan pulih, semua keluh kesah selama perjalanan seperti terbayar sudah. Kembali menikmati keindahan alam yang tak lepas dari kuasa tuhan.
Oke, udah puas muncak dan nunggu sunrisenya. Sekarang kita balik lagi ke kehidupan kota. tapi sebelumnya kita harus turun dulu dong.. hehe
Perjalanan turun kami hanya memakan waktu yang singkat, tapi ada hal yang ga di pengenin banget bagi pendaki manapun terjadi sama kita. Karena kemaren pas muncak kita motong jalur tengah dan keasikan lewat situ pas turun pun kita putuskan untuk lewat situ lagi. dengan formasi 4 4, 4 didepan yang uda ngebet sampe kota jadi jalannya ngacir (termasuk saya) dengan carryl berisi peralatan, tanpa air tanpa makanan. nah 4 di belakang itu yang santai santai jalannya, air dan makanan semua ada di belakang.
Kita yang ber 4 uda yakin ini perjalanan turun ga bakal lama jadi ya hayoo aja jalan terus tanpa perbekelan makan dan minum. Seperti kemarin kita motong jalur tengah, ketemu pertigaan ada jalur muter kita ambil tengah, ketemu pertigaan lagi ada jalur muter kita ambil tengah lagi, wahh deket nihh uda sampe pos 3 aja. tanpa disadari kita kemarin kan motong jalur dari pos 3 menuju puncak, disini kita bablas dari pos 3 mau ke pos 2 kita masih motong jalur tengah. alhasil berjam jam jalan kok nggak ketemu pos 2, perasaan pos 2 ke pos 3 kmrn gak sejauh ini..
pikiran pikiran negatif dan emosi pun menghampiri karena rasa lelah, haus, dan lapar yang sangat. kita nyasar nih !! teriak salah satu rekan saya. kita cuma diam, dan gak tau harus ngapain. sampai salah satu dari kami melanjutkan perjalanannya sambil bilang terus aja bantai, gak ada kata mundur disini. kita ber 3 masih terdiam, dan entah kenapa kita mau ikut itu anak.
2 jam sudah kita terus berjalan melewati antah berantah entah dimana itu, jalur pendakian pun perlahan semakin mengecil dengan kiri kanan pohon duri. Langkah yang gemetar, suara jatuh dari rekan yang lelah, haus & lapar. wahh gak banget deh pendakian macem gitu lagi.
akhirnya dalam perjalanan kita ketemu seorang ibu yang terlihat seperti petani, kita pun ngobrol - ngobrol ama si ibu padahal sih mau minta minum tapi si ibu juga gak bawa tuh T_T
hasil ngobrol dengan si ibu tadi katanya sih kita salah masuk jalur, dan kita uda ada di bukit yang berbeda dengan pos pendakian. Tapi di bawah sih ada desa, ujar si ibu. yaudah kita lanjutin perjalanan ke desa terdekat kalo gitu.
setelah sekian lama berjalan akhirnya kita mulai ngeliat pesawahan dan rumah - rumah warga. wahh lega banget tuh rasanya, tanpa pikir panjang kita pun menghampiri salah satu pemukiman warga untuk meminta minum, si bapak yang punya rumah lagi ambilin minum kita - kita ngeliat ada kolam ikan yang airnya yaaa you know lah, bening bening gimana gitu.. Mata yang uda seger banget liat ada kerucukan air langsung aja kita minum itu air dari kolam ikan, ga perduli bersih apa kotornya dahh.. si bapak terheran teran liat kita. dan bertanya tanya kenapa kalian bisa sampe sini, sedangkan pos pendakian itu letaknya 4 km dari desa ini. Desa ini adalah desa gondosuli yang berada di kaki gunung lawu. alhasil kami pun menyewa angkot lagi untuk sampai pos pendakian, dan disana ternyata lagi heboh ama kita yang belom balik, padahal 4 rekan kami yang jalannya belakangan uda sampe dari tadi. :)
sekian pengalaman saya mendaki gunung lawu.
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Bandara Mencekam, Penumpang Panik-Ketakutan Saat Bos Kartel Tewas
Masjid Jamkaran dan Bendera Merah Balas Dendam
Daftar Negara Teraman Andai Terjadi Perang Dunia III, Ada Indonesia?