Waktu Sholat Jumat masih sekitar 2 jam lagi. Saya menyempatkan makan siang sebentar di sebuah rumah makan halal milik Orang India yang terdapat di lantai 3 sebuah mall di sekitar Morning Market. Rumah makan yang bernama Nazim ini Saya ketahui dari Istri Pedagang Pakistan tadi. Saya memesan Nasi Biriyani dan Masala Tea. Karena belum memiliki Kip (Mata Uang Laos), Saya diperbolehkan untuk membayar dengan Baht, Mata Uang Thailand.
Setelah makan Saya berencana untuk menukarkan Rupiah ke Mata Uang Laos, Kip di tempat penukaran uang terdektat. Tak jauh dari Morning Market tepat di depan mall tempat Saya makan siang tadi terdapat sebuah bangunan kecil yang bertuliskan Money Changer didepannya. Saya pun langsung menghampiri Money Changer tersebut dan mengeluarkan sejumlah rupiah yang Saya miliki untuk di tukarkan. Begitu petugas Money Changer tersebut melihat rupiah yang Saya berikan Ia menolak sambil menggelengkan kepala mengisyaratkan bahwa rupiah yang Saya berikan tersebut tidak bisa ditukarkan di tempatnya.
Kemudian Saya mencoba menukarnya di tempat lain. Mungkin saja Money Changer yang Saya datangi tadi sedang tidak ada stok rupiah pikir Saya. Saya coba memasuki sebuah bank yang melayani untuk melakukan penukaran uang. Saya datangi customer service bank tersebut dan menanyakan mengenai apakah rupiah Indonesia bisa ditukarkan di bank tersebut. Ternyata hasilnya juga nihil. Rupiah yang Saya miliki tidak bisa ditukar. Kemudian Saya mencoba menukarnya di sebuah bank milik Negara Malaysia.
Begitu Saya memasuki bank milik Negara Malaysia tersebut dan bertanya mengenai penukaran rupiah di bank ini kemudian si petugas merespon pertanyaan Saya dengan mengelengkan kepalanya. Saya semakin bingung karena tidak memiliki persediaan Kip di dompet Saya. Tiba-tiba Saya teringat dengan persediaan US Dollar yang Saya miliki. Semoga saja persediaan ini cukup untuk digunakan.
Waktu Sholat Jumat hampir tiba. Saya lupakan sejenak masalah rupiah Saya yang tidak laku ditukar di Laos. Saya kembali ke Morning Market untuk menemui Pedagang Pakistan yang akan mengajak Saya Sholat Jumat bersamanya. Pedagang Pakistan tersebut datang dengan menggunakan mobil bersama keponakannya. Kemudian Saya memasuki mobilnya dan menuju Masjid. Tak lama kemudian mobil berhenti di sebuah Masjid Vientiane yang bertingkat dua.
Di Masjid ini Saya bertemu dengan seorang pensiunan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Laos yang berasal dari Kota Medan. Saya berbincang-bincang cukup panjang dengan bapak tersebut yang ternyata beristrikan orang Laos. Ia menceritakan masalah yang sedang dihadapinya kepada Saya. Saya hanya bisa mendengar dan merasa prihatin dengan permasalahan yang dihadapinya. Semoga diberikan yang terbaik.
Jamaβah Sholat Jumat terus berdatangan memenuhi Masjid di Vientiane ini. Setelah berwudhu Saya pun mulai memasuki Masjid bersama jamaβah lainnya. Khatib mulai berkhutbah dengan menggunakan bahasa Laos.
Selesai Sholat Jumat Saya bertemu kembali dengan Bapak Pensiunan KBRI tersebut dan berpamitan. Kemudian Saya dan Pedagang Pakistan menuju mobil dan melanjutkan perjalanan ke Terminal Bus Dongdok. Saya diantar oleh Pedagang Pakistan tersebut menuju terminal bus yang memiliki rute keberangkatan ke Hanoi, Vietnam. Sebelum sampai di Terminal Bus Dongdok Kami mampir sebentar di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Laos untuk menanyakan permasalahan Rupiah Saya yang tidak bisa ditukar. Ternyata KBRI Laos masih tutup dan akan buka sekitar 1 jam lagi. Karena tidak bisa berlama-lama Kami pun melanjutkan perjalanan.
Akhirnya Kami tiba di Terminal Bus Dongdok, Laos. Setelah Saya mendapatkan tiket tujuan Hanoi, Vietnam kemudian Saya berpamitan dengan Pedagang Pakistan dan Keponakannya tersebut. Sebelum berpisah Ia meminta nomor kontak Saya yang dapat dihubungi. Ia mengatakan ingin mengunjungi Indonesia suatu saat nanti.
Tiket Bus Vientiane, Laos β Hanoi, Vietnam Saya beli dengan persediaan Dollar yang Saya miliki karena belum memiliki Mata Uang Laos. Kemudian dikembalikan dengan Dong, Mata Uang Vietnam. Saya menerima kembalian Dong tersebut yang dapat Saya gunakan saat tiba di Vietnam nanti. Harga tiket bus ke Vientiane - Hanoi ini jika di-Rupiahkan sekitar 250 ribu rupiah. Disini ternyata Dollar juga bisa digunakan tanpa harus menukarnya ke mata uang setempat terlebih dahulu. Persediaan Dollar Saya pun semakin berkurang.
Saya memasuki ruang tunggu Terminal Bus Dongdok. Tiket bus tujuan Hanoi berangkat jam 19.00 sehingga masih memiliki waktu yang cukup banyak untuk jalan-jalan sebentar di Kota Vientiane. Sebelum keluar Saya menukarkan beberapa Dollar yang Saya punya ke Mata Uang Laos di Money Changer yang terdapat di dalam terminal. Setelah menukar Dollar kemudian Saya keluar menuju halte bus yang terdapat tak jauh dari Terminal. Saya menaiki Tuk-tuk dengan membayar 5000 Kip. Jalanan disini kendaraannya menggunakan jalur kanan sehingga membuat sedikit bingung saat Saya hendak menyebrang jalan. Selama menyusuri jalanan di Kota Vientiane ini seringkali Saya melihat debu jalanan berterbangan dimana-mana.
Setelah puas mengelilingi Vientiane kemudian Saya mampir di sebuah warnet untuk memberikan kabar kepada keluarga. Di warnet yang dimiliki oleh non-muslim ini Saya juga menumpang Sholat dan diterima dengan baik oleh si pemilik warnet.
Hari pun semakin sore. Saya kembali ke Terminal Bus Dongdok dengan menggunakan Tuk-tuk. Setibanya di terminal Saya mampir sebentar membeli 2 buah roti Laos yang sangat besar seharga 20.000 Kip. Tepat jam 7 malam bus berangkat meninggalkan Vientiane.
Bus Vientiane, Laos β Hanoi, Vietnam ini merupakan Sleeper Bus yang kursinya tidak seperti bus pada umumnya tetapi berbentuk tempat tidur sehingga posisi kaki hanya bisa lurus ke depan. Sekitar pukul 2 dinihari bus tiba di perbatasan Laos β Vietnam tepatnya di Kota Namphao. Di perbatasan ini bus berhenti menunggu hingga Imigrasi Laos buka dipagi hari. Banyak juga bus lainnya yang berhenti dan menunggu disini.
(gst/gst)











































Komentar Terbanyak
Ketika Perbedaan Bahasa Indonesia-Malaysia Mengundang Tawa
Viral Turis China Dilecehkan Warlok Bali, Berawal dari Salaman Lalu ke Kemaluan
Indonesia Bakal Punya Negara Tetangga Baru, Siap Merdeka di 2030