Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 24 Okt 2012 13:47 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Menembus Kabut Argopuro

d'Traveler
img_20121106081856_509865806e1b6.jpg
img_20121106081856_509865806e1b6.jpg
img_20121106082026_509865dae60f5.jpg
img_20121106082026_509865dae60f5.jpg
img_20121106083246_509868be77977.jpg
img_20121106083246_509868be77977.jpg
img_20121106083439_5098692f8a215.jpg
img_20121106083439_5098692f8a215.jpg
img_20121106082843_509867cba77d5.jpg
img_20121106082843_509867cba77d5.jpg
detikTravel Community - MENEMBUS KABUT ARGOPURO Oleh Winda Damayanti • 26 Desember 2011 Jalan setapak yang kami lalui pagi itu basah dan becek terguyur air hujan. Langitpun sepertinya sudah menumpahkan isinya di sebagian kawasan Gunung Argopuro. Hal ini terlihat dari kabut yang menyelimutinya. Cuti akhir tahun 2011 ini, kumanfaatkan untuk menjambangi salah satu gunung yang terkenal dengan treknya yang terpanjang di Pulau Jawa dan tidak ketinggalan pula dengan kisah-kisah mistisnya. Ada dua jalur pendakian menuju Gunung Argopuro yaitu melalui jalur Bremi (Kabupaten Probolinggo) dan jalur Baderan ( Situbondo ) Jawa Timur. Untuk jalur naik, atas saran seorang kawan, kami memilih jalur Bremi yang terjal menanjak dan turun melewati jalur Baderan yang landai namun panjang. Berkumpul di Terminal Surabaya, kemudian kami naik bus menuju ke terminal Probolinggo dengan tarif ekonomi Rp 12.000,00 , kemudian dilanjutkan ke Pajarakan dengan menumpang bus arah Situbondo cukup merogoh kocek Rp 5.000,00. Sesampainya di pertigaan Pajarakan, ada angkutan desa menuju arah desa Bremi yang menunggu kita. Lama perjalanan tak lebih dari 1 jam, tarifnya Rp 10.000,00. Sebenarnya ada bus yang trayeknya 2 kali sehari menuju desa ini. Kemudian di kantor Polsek Krucil Desa Bremi ini kita wajib melaporkan diri sebelum melakukan pendakian. Setelah melewati Perkebunan Ayer Dingin yang kebanyakan ditanami pohon sengon dan kopi, kami mulai memasuki kawasan hutan hujan tropis yang lebat. Hujan sudah reda kala itu. Sesekali terdengar suara babi hutan di lembah yang kami lewati. Target kami hari ini adalah mencapai Danau Taman Hidup. Info yang kami dapat dari keterangan di internet, cukup 3 jam untuk mencapai danau ini dari desa Bremi. Tetapi setelah berjam-jam kami mendaki dan menjajal terjalnya medan, belum sampai juga. Entah berapa petunjuk arah bertuliskan TAMAN HIDUP yang sudah kami lewati aku tidak menghitungnya lagi. Tiga jam mungkin untuk ukuran penduduk desa atau pendaki dengan daypack !’ ujarku menghibur hati. Ketika bertemu dengan 2 rombongan pendaki yang turun, jawaban mereka pun berbeda-beda saat kutanya,” 6 jam mbak !” dan “sekitar 7 jam mbak !” Jadi jangan percaya estimasi waktu pendakian yang ada di internet ! Kata salah seorang temanku. Hufff... Andai saat itu ada di rumah tentu nyaman sekali suasana sore ini, hujan lagi ! Beginilah yang selalu terlintas di kepala saat berada di gunung, tapi selalu, dan selalu aku mengulangnya lagi. Tobat sambel, kata orang. Sejak start, hujan seolah enggan meninggalkan kami, berhenti sebentar, kemudian datang lagi. Dan untuk kedua kalinya flysheet digelar di dataran sempit yang berhasil kami capai. Udara semakin dingin, malam pun menyapa. Karena berdiam diri terlalu lama hanya di bawah flysheet, salah seorang rekan kami mulai menggigil kedinginan. Khawatir ia terkena hipotermia, kami bertiga berbagi tugas. Ada yang bertugas membuat minuman jahe panas, dan mencari dataran yang agak luas untuk mendirikan tenda, Walaupun target ke danau tidak tercapai, malam itu kami baik-baik saja. • 27 Desember 2011 Setelah mengisi perut dengan makanan yang berkarbohidrat, perjalanan kami lanjutkan. Pagi itu bau tanah basah menyegarkan kepalaku kembali. Dengan semangat 45 akhirnya pukul 11.00 sampailah kami di pertigaan arah ke Danau Taman Hidup dan puncak Gunung Argopuro. Berbelok ke kanan kami segera menuju ke danau. Danau Taman Hidup merupakan tempat yang lumayan luas untuk berkemah. Tampak sisa-sisa bekas kemah pendaki lain semalam. Di sini pendaki juga bisa memancing ikan. Akan tetapi karena tepi danau berupa rawa-rawa, kita harus berhati-hati. Untuk mengambil air di danau, kita harus melewati dermaga kayu yang sudah mulai rusak. Perlu keseimbangan karena hanya satu sisi dermaga saja yang bisa dilewati. Tak berapa lama kemudian kabut tiba-tiba muncul kemudian hilang dan muncul kembali. Akhirnya setelah dirasa cukup beristirahat dan mengambil air untuk persediaan, kami segera melanjutkan perjalanan. Musim hujan memang bukan musim yang baik menurut pendapat sebagian besar pendaki. Jalur yang becek dan licin seolah menghambat perjalanan kami, belum lagi lintah atau pacet menambah ‘semarak’ perjalanan ini. Kehebohan terjadi saat aku berusaha melepaskan lintah yang menempel di kaki rekanku. Perjuangan yang sia-sia, si lintah tak mau lepas juga. Untungnya ada yang membawa tembakau, setelah diusapkan pada lintah, kemudian terlepaslah. Hmm...tak disangka ternyata kakiku pun menjadi persinggahan lintah, terbukti dengan adanya lima titik bekas gigitan yang mengeluarkan darah. Untung saja aku tak melihat proses ‘donor darah’ ini. Hiii...... Setelah kenyang, dengan sendirinya terlepaslah si lintah. Setelah itu lintah seolah menemani perjalanan kami, entah menempel di botol minuman, di cover, di tenda, dan di kaos kaki ! Seharusnya kami memakai gaiter, pelindung kaki. Dari Taman Hidup kami menyisir sisi kiri danau memasuki hutan lebat diantaranya hutan lumut menuju Cisentor. Pohon yang tinggi-tinggi menghalangi matahari menerobos masuk ke hutan ini sehingga pepohonanpun berselimut lumut. Sejuk dan segar sekali. Setelah itu kami harus meniti bibir tebing yang cukup menguras keringat. Pada satu tempat yang datar kami bertemu dengan serombongan pendaki asal salah satu SMK di Probolinggo, sedang diksar pencinta alam rupanya. Dan pengakuan jujur salah seorang dari mereka membuatku tersenyum, “ Lewat jalur Baderan ada yang nangis nih mbak karena nggak sampai-sampai.....!” u00EFu0081u008C Perjumpaan sesaat, setelah tukar-menukar nomor handphone, mereka pun berlalu. Hari mulai sore, beruntung hari ini cukup cerah, perjalanan yang tidak kami ketahui kapan akhirnya kami lanjutkan. Tak satupun dari kami berempat yang pernah mendaki Argopuro. Hanya peta dan kompas serta petunjuk arah andalan kami. Nekad ? Tentu tidak, dengan perbekalan dan peralatan yang cukup serta sedikit pengetahuan tentang gunung ini Insya Allah cukup. Setelah melewati Aeng Kenek, sebuah mata air kecil yang jernih, sampailah kami di sebuah bukit. Karena hampir magrib, kami putuskan untuk ngecamp di sini karena tidak tahu kapan akan menemukan dataran yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Seorang teman sempat mensurvei ternyata medan berikutnya adalah menuruni lembah dan tebing yang cukup curam. • 28 Desember 2011 Sejak semalam hujan turun dengan derasnya. Ditambah lagi angin bertiup cukup kencang menggoyang atap tenda kami. Setelah berbagai pertimbangan akhirnya diputuskan bahawa kami akan tetap berada di tempat ini ! Dua malam akhirnya kami terperangkap dalam tenda. Banyak cara untuk menghabiskan waktu diantaranya adalah dengan bermain tebak kata. Lumayanlah untuk mengurangi ketegangan akibat buruknya cuaca. Waktu pendakian yang kami targetkan adalah 4 hari dan itu sudah pasti molor ! • 29 Desember 2011 Hujan benar-benar tak bersahabat dengan kami rupanya. Akhirnya, di bawah rintik hujan kami membongkar tenda untuk melanjutkan perjalanan menuju Cisentor. Udara terasa sangat dingin. Tadi pagi saja suhu di dalam tenda 9 derajat Celcius ! Namun, indahnya pemandangan di luar tenda, menghibur kami. Sebuah bukit dengan pepohonan tinggi dan kabut. Cantik sekali. Tak kulewatkan moment ini. Klik ! Jalur berikutnya untuk menuju Cisentor atau Aeng Poteh masih berupa tebing curam dan semak-semak. Beberapa kali semak-semak rapat yang menutupi jalur pendakian harus dibabat dengan golok. Pendakian ke Gunung Argopuro memang tak seramai gunung lainnya hingga banyak semak-semak yang tertutup karena jarang dilalui. Agak jauh di belakangku terkadang terdengar suara babi hutan berkali-kali. Ngeri juga kalau tiba-tiba ia muncul. Huff.. untunglah tidak. Sepanjang perjalanan di jalur ini banyak ditumbuhi tumbuhan berduri halus atau ingas atau api-api. Banyak yang menyebutnya dengan daun ‘Djuancuk’ ( maaf ) karena tiap kali terkena daunnya, kata inilah yang terlontar dari mulut pendaki yang berasal dari daerah sekitar Jawa Timur. Daun ‘Awww.............’ kami menyebutnya begitu. Berapa kali tangan kami harus menyentuhnya akibat sempitnya medan sehingga tak bisa menghindarinya. Reaksi yang muncul adalah rasa panas yang hebat dalam beberapa menit. Terkadang bisa juga menimbulkan gatal-gatal di tangan atau kaki seperti yang kami alami. Sore pukul 15.30 kami pun tiba di Cisentor. Cisentor merupakan pertigaan pertemuan antara jalur Baderan dan jalur Bremi. Ada sebuah gubuk kayu di sana. Karena kosong, tenda kami dirikan di dalam gubuk supaya udara tak terlalu dingin. Di sekitar gubuk ditumbuhi bayam hutan. Lumayan untuk membuat sup bayam supaya badan kami hangat dan segar kembali untuk melanjutkan pendakian esok menuju puncak. Di Cisentor terdapat sebuah sungai yang berlimpah dan sangat jernih airnya. Malamnya tiba 5 pendaki dari Malang dan Jakarta yang sebelumnya sempat mengontakku terlebih dahulu lewat sebuah situs sosial. Rupanya mereka pun tertahan dua hari di danau Taman Hidup ! • 30 Desember 2011 Pukul 04.00 pagi kami mulai pendakian menuju puncak. Ada dua puncak yaitu Puncak Argopuro dan Puncak Rengganis. Satu jam pertama medan yang kami lalui berupa padang rumput. Di sisi kanan jalan terdapat mata air ‘Rawa Embik’, di sini airnya tidak terlalu banyak. Setelah itu kami melewati padang edelweis sebelum akhirnya bertemu dengan pertigaan dimana arah ke kanan menuju Puncak Argopuro ( 3088 m dpl ) dan ke kiri menuju Puncak Rengganis. Puncak Argopuro yang lebih tinggi menjadi target pertama kami. Jalurnya cukup curam dan berupa semak-semak basah dan rapat serta pepohonan cemara. Alhamdulillah setelah 3 jam mendaki dari Cisentor sampailah kami di Puncak Argopuro yang berupa punden berundak laiknya sebuah tempat pemujaan. Di bawahnya terdapat tanah datar yang cukup luas dengan batu-batu yang berserakan. Dari puncak Argopuro kami turun kembali ke pertigaan tadi untuk menuju puncak Rengganis. Medan menuju Puncak Rengganis berupa bebatuan. Alhamdulillah sampai juga kami di puncak. Bau belerang sangat terasa dari arah kawah. Pemandangan yang sangat indah, sangat susah untuk di ungkapkan lewat tulisan. Disini ditemukan bekas pura peribadatan Dewi Rengganis, putri Raja Majapahit. Sisa-sisa bangunan masih tampak. Setelah puas menikmati keindahannya kami segera turun karena target kami hari ini adalah menuju Cikasur. Jalur menuju Cikasur dari Cisentor diawali dengan trek yang lumayan terjal dimana kami harus mendaki dengan pohon ingas yang siap menyentuh di sisi kiri-kanan kami. Sempat terlihat seekor lutung saat kami harus melewati sebuah batang pohon yang roboh dengan susah payah. Di jalur berikutnya banyak kami temui savana, sebuah padang rumput yang indah. Tersenyum-senyum aku saat teringat sebuah film Hindustan yang menjadikan savana lokasi favorit untuk menari dan menyanyi memadu kasih. Sayangnya cuaca cerah hari itu hanya sebentar, guruh kemudian kerap terdengar dalam perjalanan kali ini sampai akhirnya hujan pun turun kembali sebelum kami mencapai Cikasur. Pukul 16.30 terbelalak mata kami melihat pemandangan berupa lapangan hijau yang sangat luas yang terhampar di depan. Itulah Cikasur yang berada di ketinggian 2500 m dpl. Di sini sangat cocok dijadikan tempat camp karena terdapat pula sebuah sungai jernih yang ditumbuhi selada air. Cikasur dulunya merupakan lapangan terbang yang dibangun sekitar tahun 1940-an pada zaman Belanda. Sisa-sisa bangunan masih tampak. Dari informasi yang kami terima di desa Baderan sampai sekarangpun lapangan terbang tersebut masih digunakan untuk kegiatan pembudidayaan binatang seperti macan, rusa, dan merak. Bunga-bunga berwarna-warni juga banyak bermekaran di sini. Namun karena sedang hujan dan suasana mistis yang menyelimuti wilayah ini mengurungkan niatku untuk mengambil foto. Banyak informasi yang menyebutkan saat pembuatan lapangan ini banyak pekerja rodi yang akhirnya mati diberondong peluru di dalam parit galian mereka sendiri di sekeliling lapangan terbang dengan maksud agar mereka tidak membocorkan keberadaan tempat ini. Tempat ini memang paling terasa mistisnya. Bau harum dan anyir darah sempat tercium oleh rekanku. Walaupun di tempat lainnya sempat tercium juga yaitu di kawasan puncak Rengganis dan hutan cemara panjang. Di Cikasur kami melihat beberapa ekor burung merak yang cantik. Sayangnya saat kami mendekat, mereka kabur. Sayangnya kami tak melihat rusa yang biasanya muncul di pagi hari di sekitar sungai. Karena saat itu gelap belumlah datang akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan Cikasur. Dan pukul 18.30 tenda kami dirikan di jalan datar yang kami temui setelah melewati padang rumput dan cemara panjang yang benar-benar panjang jalurnya. • 31 Desember 2011 Jalur Baderan ini memang terkenal lebih landai sehingga waktu tempuhnya lebih lama dibandingkan Bremi, terlebih hujan lagi-lagi menemani seolah berat melepas kepergian kami. Walhasil perjalanan turun inipun berjalan tersendat-sendat karena aliran air deras menerpa jalur setapak yang kami lewati hingga banjir. Beberapa pendaki sempat kami temui di sini. Sepertinya mereka akan merayakan malam tahun baru di Cikasur. Satu kelompok diantaranya pernah bertemu denganku di Gunung Arjuna dan Welirang saat lebaran. Akhirnya setelah break beberapa kali sambil menikmati lukisan alam yang sungguh menakjubkan dan di bawah rintik hujan pukul 17.00 kami sampai di Desa Baderan, Situbondo. Tak bisa kugambarkan dengan tepat bagaimana serunya pengalaman pendakian kali ini. Trek yang panjang melelahkan, hujan yang seolah enggan meninggalkan kami, lintah-lintah genit, savana yang membuat semangat menjadi begitu menggelora, keindahan Cikasur, serta puncak Rengganis yang cantik membuat kami berjanji suatu saat akan kembali lagi. InsyaAllah.


BERITA TERKAIT