Seperempat perjalanan awal pemandangan berselang-seling antara pemukiman dengan rumah-rumah apung-kebanyakan tampak mukanya sudah menghadap sungai, tempat usaha dan hutan. Katanya hutan di sepanjang tepian sungai bukan lagi hutan alami, tapi sudah hutan sekunder. Bagi saya, bisa melihat pohon-pohon endemik Kalimantan, diantaranya pohon karet sungai dan rotan, menjadi sangat luar biasa.
Hingga kami melewati desa pertama, Desa Tumbang Rungan, arus Sungai Kahayan masih tenang. Tidak jauh dari desa ada pertemuan Sungai Kahayan dan Sungai Rungan sehingga arus air lebih kencang. Kapal diarahkan memasuki Sungai Rungan.
Setelah itu terlihat umbul-umbul kain berwarna kuning dan beberapa patok kayu di tepian sebelah kiri dan beberapa bangunan kayu yang tampak sudah lapuk di tepian sebelah kanan. Itu adalah Keramat Pasah Patahu tempat menaruh sesaji dan Tajahan tempat bersemedi. Ini merupakan bagian dari kepercayaan Hindu Kaharingan, akulturasi dari kepercayaan Hindu dan kepercayaan Dayak Ngaju. Ada dua sub suku Dayak yang menempati wilayah Palangkaraya dan sekitarnya, Dayak Ngaju dan Dayak Ma'anyan.
Dari desa pertama nyaris tak melewati pemukiman, hanya hutan dan penambang-penambang emas tradisional di atas sungai. Saat sedang memandangi burung kingfisher beterbangan di atas permukaan air, terdengar suara berisik dari tepian sebelah kanan. Segerombolan monyet abu-abu ekor panjang (macaca fuscicularis) bergelantungan dan berlompatan diantara pepohonan. Selain mereka memakan buah-buahan juga ikan-ikan kecil di sungai.
Sebelum melewati desa terakhir, Petuk Katimpun, awan mendung sudah berganti dengan langit biru cerah. Desa ini lebih ramai karena juga bisa diakses dari Jalan Tjilik Riwut. Beberapa anak baru pulang dari sekolah melambaikan tangan dan langsung berpose saat melihat kamera mengarah pada mereka.
Sekitar 15 menit dari desa itu, sungai terbelah oleh sebuah pulau kecil, Pulau Hapapak. Kecepatan kapal dikurangi, suara motor lebih perlahan, pemandu mengingatkan saya untuk tidak melambaikan tangan atau membuat kegaduhan. Peraturan ini berlaku bagi semua yang melewati pulau ini karena di dalamnya ada orangutan dalam masa pra-pelepasliaran.
Tidak lama kemudian, kapal berhenti di sebuah dermaga kecil dengan pondok kayu sederhana dan dua rumah panggung dari kayu. Kami berganti dengan jukung (kano) lalu mendayungnya perlahan dan hati-hati karena banyak jaring penangkap ikan milik warga sekitar. Kapal tidak boleh masuk ke danau agar tidak mengagetkan ikan di danau. Suara motor akan menyebabkan ikan tidak bisa bertelur dan tak ada ikan yang bisa ditangkap nantinya.
Banyak danau di sungai-sungai di Kalimantan seperti Danau Rawet di Sungai Rungan. Berada di tengah danau seluas 600 m2 yang di sepanjang tepinya hutan hijau, sengatan sinar matahari pukul 2 siang terabaikan.
Jukung diarahkan menuju rimbunan pohon di tepi danau. Salah! Itu belumlah pinggir danau melainkan pepohonan yang 'tenggelam'. Itu adalah pohon galam yang daging kayunya berwarna merah. Ketika saya ciduk, air danau berwarna seperti teh pekat, dengan kedalaman rata-rata 10 meter, itulah yang membuat air danau berwarna hitam.
Jukung tidak bisa lebih jauh ke dalam karena apu-apu tumbuh subur di sini. Tanaman gulma semacam eceng gondok dan warga sekitar memanfaatkannya untuk campuran pakan ternak.
Sebelum keluar dari danau, kru kapal dan pemandu mengajak saya ke selambau. Jaring ikan yang dikaitkan ke tiang-tiang kayu dan bisa diatur kedalamannya dengan menggunakan katrol. Kami membawa ikan lais besar yang terjerat dan melepaskan kembali ikan-ikan kecil dan membawanya ke pondok di dermaga. Ternyata penjaga pondok telah menyiapkan hidangan berupa nasi, sayur asem bening dan ikan lais yang telah diasinkan.
Hujan gerimis turun tepat saat kami hendak kembali ke Palangkaraya. Setelah setengah jam, gerimis berhenti, memberi kesempatan untuk menikmati sunset di atas sungai di tengah hutan Kalimantan meskipun tak ada pelangi dan mendung. Dan sisa perjalanan kami lalui dalam hujan lebat dan angin kencang.
Sudah ada dua operator tur menyusuri sungai di Palangkaraya. Keduanya sama-sama menawarkan pengalaman tak biasa dan tak akan mudah dilupakan.
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Lagi, Finlandia Dinobatkan Jadi Negara Paling Bahagia Sejagat
Duh, Jembatan Ikonik Suramadu Jadi Sasaran Pencurian, 480 Kg Besi Raib
Tak Biasa, Pantai di Bantul Sepi Wisatawan Saat Libur Lebaran