Junghuhn, Petualan yang Memilih Jalan Sepi
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Junghuhn, Petualan yang Memilih Jalan Sepi

- detikTravel
Rabu, 03 Apr 2013 20:51 WIB
Indonesia, Jawa Barat, Bandung - Setelah menikmati hiruk pikuk Bandung dan lembang, cobalah sedikit menepi dari keramaian. Kunjungilah Junghuhn di Jayagiri. Makam seorang hebat terletak di sana.
Tak jauh dari pasar Lembang, tuju saja Jayagiri dan tanya pada orang-orang Taman Junghuhn, orang akan menunjukan sebuah cagar budaya tempat dikuburkannya seorang peneliti hebat, unik dan besar jasanya.
Jasanya sangat besar untuk pulau jawa. Dialah orang pertama yang berhasil memetakan topografi pulau Jawa. Identifikasi tanaman dan pemetaan tumbuhan juga merupakan sumbangsihnya. Dari hasil penjelajahan dan bukunya tumbuh teori-teori baru yang menjadi tulang punggung perkembangan keilmuan indonesia.
Itulah dr. Franz Wilhem Junghuhn (26 Oktober 1809) seorang dokter Belanda yang berasal dari Mansfeld Jerman. Lelaki yang lebih memilih jalan sepi dan tak mudah untuk mencintai Sunda dan Jawa. Segala kecintaan dan hasratnya ditumpahkan di Jawa dan sebagian Sumatera. Maka dijelajahi Jawa yang eksotik hampir selama 30 tahun. Penjelajahan sekaligus penelitiannya ditumpahkan dalam berbagai tulisan dan sketsa indah. Junghuhn menulis "Di sana aku menghargai dan memelihara ilmuku bagaikan benda keramat, selama 12 tahun aku menjelajahi gunung-gunung dan hutan-hutan Kepulauan Sunda yang mempesonakan itu. Dengan sengaja aku mengikuti jalan setapak yang sepi, dan tidak ada petunjuk jalan lain yang menemaniku kecuali KECINTAAN pada pekerjaan itu dan ANTUSIASME.” Kecintaan dan antusiasme yang bagi sebagian orang disebut kegilaan, menjadi spirit penjelajahannya di tanah Jawa. Hasil karyanya menjadi sumber tak terkira untuk perkembangan keilmuan.
Lelaki dengan petualangan yang tak terbayangkan ini dimakamkan di Jayagiri Lembang. Menghadap ke arah Tangkuban Parahu. walalu tak terpelihara, namun tempatnya bisa dijadikan untuk menjadi tempat merenung sekejap dan menikmati sedikit dari aura Junghuhn.
"Hanya di ketinggian pegunungan saya dapat bahagia!" katanya. β€œBetapa senangnya, betapa mudahnya hati ini tersentuh saat berada di atas gunung, sementara angin berhembus sepoi menerpa pohon kasuarina dan bintang berkelip menembus atap gubuk hijau tipis. Tiada genting yang menghalangi kita dari tatapan langit yang ramah. Tiada tembok gelap yang menyesakkan kita. Di sini kita bernafas lega dan bebas.” (Junghuhn di atas Gunung Kawi, 1844).
Seperti jalan hidupnya, kuburnya pun sepi. paling ada beberapa pasangan muda mudi memadu kasih.
(gst/gst)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads