Malam ini di kota Pontianak sebagian orang mungkin sedang beristirahat melepas lelah setelah siang hari mereka bekerja di ladang, di pasar atau di perkantoran. Namun sebagian lagi ada yang baru memulai kehidupan.
Di antara mereka ada muda mudi yang sedang asyik maksyuk di alun-alun pinggir sungai Kapuas sambil menikmati indahnya temaram cahaya lampu dan deburan ombak saat dilintasi kapal-kapal besar. Adapula sekumpulan orang yang tengah menyeruput kopi hangat dan pisang goreng Pontianak yang terkenal itu sambil mengobrol soal banyak hal yang mungkin mereka sendiri tidak tahu ujung pangkalnya.
Beberapa area kosong mulai disi oleh tenda-tenda pedagang pecel ayam atau pecel lele yang siap menyajikan menu khasnya untuk memenuhi keinginan perut mereka yang sedang begadang malam baik karena urusan pekerjaan atau hanya sekedar menikmati malam.
Tepat pukul 21.00 WIB, jalanan dipenuhi bis-bis besar jurusan Pontianak-Kuching/Brunei Darussalam yang mulai bergerak membelah malam mengantar penumpangnya ke tempat tujuan. Bis-bis ini sampai ke pintu perbatasan Indonesia-Malaysia di Entikong waktu shubuh. Tepat pukul 06.00 WIB pintu perbatasan pun dibuka.
Yang lebih menarik dari itu, di pinggiran sepanjang jalan Teuku Umar durian terhampar dijajakan oleh para pedagangnya. Bagi mereka yang maniak durian, di sinilah tempatnya. Selain karena harganya yang murah, kenikmatannya pun tidak kalah dari durian impor. Makin malam makin ramai orang berkumpul. Belum habis durian dibeli orang sudah datang lagi mobil-mobil mengantarkan durian dari daerah perbatasan ini. Konon durian ini berasal dari hutan-hutan yang masih tersisa di Kalimantan.
Selamat Ulang Tahun Kota Pontianak ke -241. Terus berbenah agar lebih baik dari Kota Kuching di negeri tetangga
(gst/gst)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Penundaan Massal di Bandara-bandara AS, Ada Apa?