Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 30 Nov 2018 14:55 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Tak Ada Hari Nyepi dan Ngaben di Desa Terkuno Bali Ini

Kartika Nofiyanti
d'Traveler
Bale Agung di tengah Desa Tenganan Bali
Bale Agung di tengah Desa Tenganan Bali
Suasana Desa Tenganan yang tampak sepi
Suasana Desa Tenganan yang tampak sepi
Manuskrip lontar yang digunakan pada zaman dahulu
Manuskrip lontar yang digunakan pada zaman dahulu
Seni Lontar yang dijual sebagai kenang-kenangan khas Bali
Seni Lontar yang dijual sebagai kenang-kenangan khas Bali
Sedia Tolak Angin sebagai obat mengatasi masuk angin waktu menyambangi Desa Tenganan
Sedia Tolak Angin sebagai obat mengatasi masuk angin waktu menyambangi Desa Tenganan
detikTravel Community - Di saat banyak pariwisata Bali mengikuti perkembangan zaman, desa ini masih sangat sederhana. Bahkan dinobatkan sebagai desa terkuno di Pulau Bali.Ditempati oleh masyarakat keturunan Bali Aga (Bali asli) yang jelas masih patuh mengikuti aturan budaya kuno Bali. Inilah Desa Tenganan, terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali Timur.Seorang kawan memberikan sebuah petuah kepada saya, "Kalau ingin mengenal Bali dari sisi kuno, cobalah sambangi Desa Tenganan Pegringsingan." Berkali-kali saya mencari referensi tentang Tenganan. Semakin mempelajarinya, semakin saya dibuat penasaran. Bagaimana tidak? Ia dinobatkan sebagai desa terkuno di Pulau Dewata karena telah dihuni oleh masyarakat Bali asli sebelum Kerajaan Majapahit terbentuk dan masyarakat Jawa bermigrasi ke Pulau Bali.Tak ada perayaan Hari Raya Nyepi, bahkan tradisi Ngaben untuk berkabungpun diabaikan. Lebih uniknya, masyarakat Tenganan mengabdi pada Dewa Indra, Sang Dewa Perang. Terbukti dengan adanya Perang Pandan yang menjadi tradisi termahsyur setiap tahunnya di Desa Tenganan. Pun, Perang Pandan dilakukan secara damai dengan menggunakan daun pandan sebagai senjata dan sebuah perisai sebagai pertahanan diri. Goresan luka yang dihasikan akan menjadi persembahan bagi Sang Dewa Perang.Meskipun mendewakan Sang Dewa Perang, bukan berarti suasana Tenganan terasa menegangkan seperti Kota Sparta yang telah memuja Dewa Perang Ares pada masa Yunani Kuno. Justru sebaliknya, desa ini tampak begitu asri dan damai. Rumah-rumah kuno berdinding batu pualam menampilkan pemukiman tradisional khas Bali tampak berjejer rapi di sepanjang jalan desa dan di tengah pemukiman terdapat sebuah tempat perkumpulan masyarakat yang disebut Bale Agung. Suasana tampak sepi, tidak ada kendaraan yang berlalu lalang, hanya tampak bapak-bapak memakai kemeja dan sarung bermotif batik berkumpul di sebuah gardu.Saya dibuat antusias ketika memperhatikan seorang laki-laki bernama Nyoman tengah duduk serius membuat ukiran yang begitu rumit di atas daun tal. Daun tal yang lebih dikenal dengan lontar dibentuk lempiran dengan berbagai ukuran, lantas diukir menggunakan semacam pisau runcing yang disebut penguprak. Ukiran demi ukiran dilakukan dengan hati-hati dan rumit, lalu diolesi kemiri yang sudah dibakar agar tampak berwarna.Beratus-ratus tahun silam, lontar digunakan para pangawi dalam tradisi menyampaikan pesan yang bernilai sejarah, filsafat, agama, pengobatan, sastra dan ilmu pengetahuan lainnya. Ia diyakini memiliki kekuatan suci sebagai perwujudan pengabdian pada Sang Hyang Aji Saraswati. Maka tak heran, sebelum para penyalin memulai menggoreskan pengrupak di atas lempiran lontar, mereka melakukan ritual kecil memohon kepada Ida Sang Hyang Aji Saraswati.Kekuatan manuskrip lontar tetap utuh dalam menjaga warisan adat dan budaya Bali. Ia banyak tersebar di berbagai pura dan perpustakaan di Bali, bahkan tersimpan di beberapa rumah masyarakat sebagai warisan turun-temurun. Kini, lontar beralih fungsi sebagai bahan kenang-kenangan khas Bali. Lontar yang dijual dibentuk menjadi kalender hingga lukisan wayang dan peta Pulau Bali dengan tetap memuliakan aksara Bali sebagai tulisan pengantar.Tak apa, setidaknya masih banyak para seniman lontar yang tetap menjaga tradisi kesenian lontar agar tidak hilang ditelan masa. Seperti halnya Tolak Angin yang tetap menjaga tubuh agar tidak terserang masuk angin. Saya selalu membawa Tolak Angin kemanapun saya pergi untuk mengatasi masuk angin. Inilah yang membuat saya yakin mampu menjelajahi sendiri Desa Tenganan dan mengenal lontar lebih dalam.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA