Menikmati Secangkir Kopi Tarik di Pulau Penawar Rindu

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Menikmati Secangkir Kopi Tarik di Pulau Penawar Rindu

Yogaku Puspita Rini Sagal - detikTravel
Rabu, 22 Agu 2018 12:30 WIB
loading...
Yogaku Puspita Rini Sagal
Menikmati kopi tarik
Pengunjung Kedai Kopi Ameng
Pengayuh becak yang terlelap
Bu Ningsih dan Pak Dhe
Pangkalan Ojek Penawar Rindu
Menikmati Secangkir Kopi Tarik di Pulau Penawar Rindu
Menikmati Secangkir Kopi Tarik di Pulau Penawar Rindu
Menikmati Secangkir Kopi Tarik di Pulau Penawar Rindu
Menikmati Secangkir Kopi Tarik di Pulau Penawar Rindu
Menikmati Secangkir Kopi Tarik di Pulau Penawar Rindu
Jakarta - Mungkin nama Pulau Penawar Rindu di Batam masih asing terdengar di telinga traveler. Selain namanya yang unik, pulau ini juga terkenal akan kopi tariknya.Siang itu pelabuhan pancung (perahu kayu khas Melayu) Sekupang, Batam tampak sibuk. Kegiatan tambat dan labuh bergantian susul menyusul, tak memberi jeda sedikit pun pada penjual karcis untuk menghisap rokoknya dengan nikmat.Tiket seharga lima belas ribu berwana merah jambu telah bergepok-gepok laku. Beberapa penumpang sudah menyusun diri dengan rapi di dalam pancung, siap pergi ke tujuan yang sama, Pulau Belakang Padang, si penawar rindu.Lima belas menit saja setelah pancung melaju, ia mulai melambat hingga akhirnya suara mesin padam. Sudah sampai. Sebuah dermaga bercat kuning menyambut dibarengi dengan semilir angin yang mengusir gerah. Deretan motor terparkir di kanan-kiri dermaga memanjang dari ujung ke ujung, mereka tampak seperti para penyambut tamu.Di ujung dermaga, giliran para penarik becak menawarkan jasa. Mereka siap menghantar, ke mana pun tujuan kita. Namun kali ini kami memilih berjalan kaki saja, sembari bertanya pada Google kedai kopi mana yang paling banyak peminatnya.Perjalanan tanpa rencana ini tujuannya sederhana, mencoba kopi dan teh tarik kondang khas Belakang Padang. Sisanya, biarkan para indra bersepakat dan bebas memilih mau ke mana.Kedai Kopi Ameng Double PeachDari dermaga ke arah kanan, sebuah kompleks pertokoan dengan bangunan yang terkesan lama berjajar. Toko kelontong, toko pakaian, onderdil kendaraan hingga tempat makan tampak sebelah menyebelah. Inilah kawasan pasar Belakang Padang.Sambil mengikuti petunjuk dari Google, mata pun memicing tiap kali lewat di depan kedai kopi, berharap menemukan plang bertuliskan nama kedai kopi yang kami cari. Dari sekian banyak kedai kopi di pulau ini, pilihan memang jatuh pada Kedai Kopi Ameng Double Peach.Sejak tahun 1980, kedai kopi ini sudah menjadi tempat hangout warga setempat. Pelanggannya banyak dan datang dari berbagai kalangan.Meja dan kursi tersusun sejak dari halamannya, dinaungi sepasang pohon beringin sehingga panas tak langsung menerpa. Masuk ke dalam, beberapa meja sudah berpenghuni.Ada engkong-engkong dengan obrolan hangat yang terkadang diselingi tawa tiba-tiba di sudut kanan, sementara di meja lain seorang anak muda duduk sendiri menikmati makan siang ikan asam pedas dan minum es kopi tarik.Ibu-ibu dengan keluarganya, bapak-bapak dengan teman-temannya hingga pengunjung seperti kami yang datang karena penasaran mengisi ruang kedai kopi ini. Tak jarang pula para pejabat mampir menyesap kopi di sela-sela kesibukannya berkunjung ke sana ke mari.Tak menunggu lama, es teh tarik pesanan datang. Langsung kuseruput saja es teh tarik itu. Aroma teh yang khas lengkap dengan rasa kelatnya bercampur sempurna dengan manis creamy kental manis double peach. Rasanya pas, tak berlebihan.Setelah es teh tarik tandas, giliran es kopi tarik yang dicoba. Sama dengan es teh tariknya, es kopi tarik di sini pun pas. Kopi Tanjungbatu yang jadi bahan utama tak mengecewakan.Sayang, prata yang katanya enak sudah habis sejak pagi tadi. Coba saja masih ada, terbayang lengkapnya jelajah rasa siang itu.Sejarah dan Rujak Buah yang RamahJam menunjukkan hampir pukul empat sore. Tak terasa sudah hampir empat jam kami ngobrol di Kedai Kopi Ameng. Entah sudah berapa meja yang berganti penghuni. Akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalanan.Sembari jalan, banyak hal menarik tertangkap mata. Salah satunya rumah tua berarsitektur Belanda yang tak jauh dari Pangkalan Ojek Penawar Rindu.Sekilas rumah ini tampak biasa saja, tapi bagiku rumah ini mematik rasa penasaran. Pertanyaan tentang sejarah pulau ini pun mencuat.Lapangan bola di salah satu gang menarik perhatian. Arah langkah pun berbelok ke sana. Tak cuma karena ramainya orang di sekitar lapangan bertribun biru itu, tapi juga karena ada tulisan Rujak Buah di kedai pinggir jalan. Pasti segar.Seorang ibu-ibu paruh baya dan suaminya dengan logat jawa yang masih kental menyambut kami dengan hangat. Mengiyakan pesanan dan mulai meracik rujak buah andalannya.Namanya Bu Ningsih dan Pak Dhe. Beliau pindah ke Belakang Padang sejak tahun 1993. Kala itu pekerjaan mereka masih membawa bahan-bahan tekstil dari Singapore untuk dijahit di Belakang Padang.Kata Bu Ningsih, dulu Belakang Padang adalah kecamatan dari kepulauan di sekitarnya, termasuk Batam. Wajar saja jika fasilitas pemerintahan lengkap ditemukan, kantor imigrasi kelas II, bea cukai, syahbandar hingga Pos Angkatan Laut pun ada.Bahkan sebagian dari gedung-gedung tersebut memanglah peninggalan zaman kolonial. Terjawab sudah pertanyaan tadi.Bu Ningsih dan Pak Dhe sendiri merupakan transmigran asal Surabaya. Mereka bukanlah satu-satunya pendatang di Pulau ini. Setidaknya ada lima suku besar yang mendiami pulau seluas 68 km2 ini, yakni Melayu, Jawa, Bugis, Minang dan Tionghoa.Usai menikmati rujak buah Bu Ningsih, kami coba untuk menjelajah kampung-kampungnya. Iseng-iseng mencari Pantai Pasir Putih yang jadi salah satu atraksi ketika berkunjung ke sini.Selama perjalanan, ada satu hal yang begitu mengena. Penduduk Belakang Padang ramah-ramah. Kami bertegur sapa hampir dengan setiap orang yang sedang santai di depan rumah.Mereka selalu bertanya hendak ke mana sambil kemudian tersenyum. Ciri khas tegur sapa yang sama dengan di tempatku dilahirkan.Semakin masuk ke kampung, suasana semakin bersahaja. Sederhana lengkap dengan warga yang menyapu halaman, lalu membakar sampahnya, anak-anak bermain sepeda dan kejar-kejaran, ibu-ibu yang menghabiskan sore dengan bersantai di teras rumah.Senja dan Gemerlapnya Negara TetanggaLangit semakin senja, Pantai Pasir Putih semakin sepi dan kami memutuskan kembali berjalan ke arah dermaga. Kamilah pengunjung terakhir sore itu.Sekitar lima belas menit berjalan, pasar yang kami singgahi siang tadi sudah ada di depan mata. Masih saja ramai.Senja begini, kedai-kedai makan kecil di sebelah dermaga telah buka. Mereka menyediakan tempat untuk siapa saja yang ingin bersantai malam.Pulau Sambu di depan mata menjadi pemadangan utama. Lampu-lampunya menerangi tangki-tangki minyak besar sehingga menyuguhkan nuansa berbeda.Melirik ke sebelah kiri, gemerlap negeri tetangga seakan tak mau kalah. Marina Sand Bay samar-samar terlihat dari kejauhan.Puas melihat pergantian hari, akhirnya kami memutuskan pulang. Tak perlu khawatir, pancung selalu ada 24 jam dari dan ke Belakang Padang. Jadi, jika pulang malam pun tak menjadi masalah.Sebelum pulang, aku ingat satu ujaran Melayu mengenai Pulau Belakang Padang yang diucapkan Bu Ningsih tadi, Kalau engkau lah kene air Belakang Padang, engkau pasti kembali datang. Itulah sebab pulau mungil ini dikenal sebagai Pulau Penawar Rindu.Hmmm nampaknya itu akan benar. Sekarang saja sudah ada rencana untuk pergi pagi-pagi agar bisa sarapan sambil mencicipi prata dan kopi tarik.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads