Begini Suasana Ramadan di Perkampungan Industri Pulogadung
Senin, 21 Mei 2018 17:20 WIB
Reza Mardhani
Jakarta - Berkah ramadhan menghadirkan keriangan di tengah ibu kota. Begini suasananya di perkampungan industri Pulogadung.Pemandangan usaha-usaha yang marak hadir di bulan puasa ini ada di daerah Pulogadung, Jakarta Timur. Perkampungan Industri Kecil namanya.Orang-orang sekitar senang menyingkatnya dengan sebutan PIK. Pada momen menjelang maghrib, pusat industri yang pada umumnya adalah tekstil ini diramaikan oleh penjual makanan.Bahkan pada ujung jalan masuk terlihat penjual makanan berjejer di pinggir jalan. Menjajakan berbagai macam penganan dari yang umum seperti es buah dan kolak, hingga makanan yang kekinian yang belakangan santer terdengar di media sosial, seperti es kepal milo.Jika lurus terus agak jauh dari pintu masuk, akan nampak sebuah taman. Beberapa saat sebelum berbuka puasa, taman ini ramai oleh muda-mudi maupun keluarga lengkap dengan anaknya yang beraktivitas disana. Kebetulan saat itu juga ada sebuah komunitas Mamalia dan Reptil. Praktis, mereka jadi kerumunan orang-orang yang ingin melihat langsung binatang-binatang unik yang dibawa dengan kandang kecil berwarna-warni.Di bagian lainnya ada beberapa orang mungkin hanya ingin menikmati angin sore. Duduk di bangku yang telah disediakan pengelola di sekitaran taman. Sekumpulan anak remaja juga asyik dengan kameranya di atas jembatan kecil yang membelah sebuah kali. Puas berkeliling, saya beranjak keluar taman dan menyusuri kiri jalan besar. Di antara orang-orang yang berjualan, terlihat bianglala menjulang.Sejatinya, tempat ini adalah pasar malam. Tapi di bulan ramadhan, mungkin lebih tepat disebut pasar sore karena beraktivitas lebih awal. Sebuah lapangan bola dengan anak-anak yang bermain layangan di bagian lapangan sebelah kanan. Sementara di sisi satunya, anak-anak lain menikmati wahana.Sambil berkeliling, terlihat seorang anak melesat menaiki mobil-mobilan roda empat menyerupai RV. Mengikuti di belakang, dua anak masing-masing asyik dengan kuda berwarna cokelat dan putih yang dituntun oleh seorang penjaga. Melihat pemandangan ini, mungkin saya lupa sejenak bahwa saya berada di perkampungan industri karena memang malah lebih mirip taman bermain.Merasa hampir tiba waktunya berbuka puasa, saya bergegas kembali ke ke depan taman PIK, berhenti di pinggirannya, dan memesan jeruk peras kepada seorang ibu yang membawa dagangannya di atas gerobak sepeda. Lima ribu, katanya.Menunggu maghrib, saya menatap ke atas kepala dan samping kiri-kanan. Tenda mengelilingi taman ini, tak seperti biasa. Orang-orang menurunkan barang-barang yang entah apa dari mobil pick up atau dari atas kendaraan bermotor. Malam turum, saya memilih duduk dekat jembatan tengah taman. Bersamaan azan maghrib yang berkumandang, saya tandaskan segelas jeruk peras sebelum pulang. Ikut menikmati segelas berkah sebelum pulang ke rumah.












































Komentar Terbanyak
Bule Rusia Hajar Warga Banyuwangi gegara Sound Horeg, Korban Tempuh Jalur Hukum
Saat Gibran Ikut Memikul Salib Paskah di Kupang
Kedubes Korea Selatan Minta Warganya Hati-hati Liburan di Bali