Cantiknya Maumere Bikin Paus Yohanes Paulus II Datang ke Sini
Rabu, 07 Jun 2017 13:48 WIB
Neny Setiyowati
Jakarta - Maumere identik dengan keindahan bawah lautnya. Tapi ternyata tidak laut saja, wajah alamnya pun indah. Sampai-sampai Paus Yohanes Paulus II datang ke sini.Maumere yang lebih di kenal sebagai kota nyiur melambai ini bisa menjadi pilihan tepat saat traveler sedang melakukan perjalanan overland di Flores. Karena merupakan pintu gerbang wilayah timur dari pulau tsb. Bisa menjadi titik awal atau titik akhir.Saya sendiri lebih memilih sebagai penutup dari serangkaian tour di Flores. Tidak ada pertimbangan apa-apa, melainkan karena tiket penerbangan ke Flores sudah terbeli dengan tujuan Labuan Bajo.Jadi keluar dari Flores saya memilih Maumere yang adalah ibukota dari kabupaten Sikka dan merupakan kota terbesar di Flores. Terletak di sekitar pantai dan pelabuhan membuat suhu di kota ini panas. Memiliki pesona tersendiri selain budaya dan alam ada juga wisata rohani. Sampai-sampai Paus Yohanes Paulus II berkunjung ke kota ini pada tahun 1989. Bila traveler cuma punya waktu setengah hari di kota ini datang saja ke Bukit Tanjung Kajawulu. Disini bisa mendapat wisata alam sekaligus rohani. Letaknya hanya 45 menit dari kabupaten Sikka. Traveler bisa memakai jasa ojek dengan ongkos Rp 30.000 untuk PP. Abang ojek dengan senang hati menemani tour layaknya tour guide. Akses jalan menuju lokasi pun sudah cukup bagus dengan jalanan beraspal mulus menelusuri garis pantai utara Maumere ke arah barat. Melewati hutan bakau yang bisa di singgahi terlebih dahulu. Menikmati indahnya pantai Tanjung dengan pasir putih dan bersih yang di sekelilingi oleh perbukitan berwarna hijau dengan tipikal bebatuan yang semakin menambah kecantikannya. Bukit Tanjung Kajawulu ini tidak di kelola seperti obyek wisata pada umumnya, sehingga tidak ada tiket masuk menuju lokasi. Kendaraan bisa parkir di pinggir jalan tepat di bawah tempat pendakiannya. Dengan melewati anak tangga berjumlah sekitar 500 yang di bangun dari bahan semen, membuat pendakian menjadi mudah tanpa takut tergelincir. Selama mendaki cobalah untuk sesekali melihat ke belakang, tampak indahnya pemandangan laut dengan langit biru dan hijaunya perbukitan. Meskipun terik matahari menyengat terasa di atas bukit, tapi dengan angin dari arah laut membuat udara menjadi segar tanpa polusi. Keindahan alam sekitar yang memanjakan mata akan membuat pikiran segar kembali. Waktu yang terbaik untuk mengunjungi bukit ini adalah sekitar bulan April sampai Juni, dimana padang rumput savana terhampar di atas bukit. Karena bila musim kering atau kemarau tiba bukit menjadi gersang dan tandus. Setelah melewati 500 anak tanggaΒ akan sampai di taman Salib. Disini umat nasrani bisa sekalian melakukan kegiatan rohani. Berteduh dan beristirahat sejenak sambil menikmati indahnya pemandangan di sekitarnya. Salib setinggi 2,5 meter terbuat dari keramik ini di sebut Lado. Dibangun untuk mengenang seorang biarawan yang meninggal akibat kecelakaan di daerah setempat. Taman Salib ini bukanlah puncak tertinggi di bukit Tanjung. Traveler yang senang mendaki masih bisa melanjutkan pendakian lebih tinggi lagi, bisa juga mencapai bukit di belakangnya. Namun tidak ada anak tangga yang terbuat dari semen, melainkan jalur trekking ke puncak bukit pada umumnya, tanah asli di sekelilingi padang rumput savanna tapi juga mudah untuk dilalui. Tidak ada pedagang makanan dan minuman di sekitar bukit. Untuk itu bawalah perbekalan sendiri setidaknya air minum.












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Sebelum Bikin Patung Macan Putih Gemoy, Seniman di Kediri Sempat Mimpi Aneh