Menyentuh Atap Sumatera Barat
Senin, 13 Jun 2016 10:20 WIB
Muhammad Catur Nugraha
Jakarta - Gunung Marapi yang berada di Sumatera Barat tepatnya di Kabupaten Agam merupakan salah satu gunung favorit pendaki. Tingginya 2.891 mdpl, menawarkan pengalaman seru.Gunung ini lokasinya berada tidak jauh dari dari Kota Bukittinggi dan Kota Padang Panjang. Untuk mencapai puncaknya terdapat beberapa jalur namun yang paling populer ialah Jalur Koto Baru. Bersama seorang teman asal Bukittinggi, saya mencoba mendaki gunung yang memiliki ketinggian puncak 2.891 mdpl ini.Dari Bukittinggi kami mengendarai sepeda motor menuju Koto Baru yang kami tempuh selama 45 menit. Setelah sampai di basecamp ternyata kami disambut oleh hujan lebat disertai angin kencang, sempat ragu untuk melanjutkan pendakian namun selang beberapa menit kemudian langit kembali cerah hal ini membuat kami kembali semangat untuk segera memulai pendakian.Setelah mendaftarkan diri serta membayar retribusi pendakian, kami mulai melangkahkan kaki menuju Puncak Marapi, target pendakian kami hari itu sampai di Cadas dan mendirikan tenda untuk beristirahat kemudian esok harinya baru ke puncak.Di awal jalur kami disuguhkan pemandangan berupa ladang perkebunan milik warga, nampak sayur β sayuran tumbuh subur disini. Setelah 15 menit berjalan kami sampai di tempat lapang yang disebut Pesanggrahan, disini banyak sekali kelompok pecinta alam yang mendirikan tenda, selain karena tempatnya lapang dari sini disuguhkan pemandangan indah berupa Gunung Singgalang.Setelah beristirahat dari Pesanggrahan kami lanjutkan lagi perjalanan dan kali ini kami telah memasuki kawasan hutan, awalnya berupa hutan bambu lalu kemudian berupa pepohonan.Karena memulai pendakian terlalu sore menyebabkan kami masih berada di jalur pendakian ketika hari telah gelap, beruntung perlengkapan yang kami bawa cukup lengkap seperti head lamp dan senter yang bisa kami gunakan untuk menerangi perjalanan kami.Melakukan aktivitas pendakian di Gunung Marapi perlu berhati β hati sebab banyak binatang liar yang aktif di malam hari seperti babi hutan, kami waktu itu berjumpa dengan rombongan babi hutan yang sedang melintasi jalur, beruntung babi tersebut tidak menyerang kami.Setelah 5 jam pendakian kami telah sampai di Pintu Angin yang artinya sudah dekat dengan Cadas namun karena pertimbangan ramainya pendaki waktu itu membuat kami memutuskan untuk mendirikan tenda sebelum Cadas dimana tidak banyak pendaki yang mendirikan tenda disana.Pagi menjelang, hawa dingin menyapa dan membangunkan kami dari tidur. Usai shalat dan sarapan kami pun melanjutkan perjalanan menuju Puncak Marapi. Pagi itu cuaca sangat cerah, dari kejauhan terdengar suara siamang yang bersahutan β sahutan dari balik rimbanya hutan. Gunung Singgalang dan Tandikek menyapa dari seberang, pemandangan yang sungguh indah.Meski berupa bebatuan cadas, jalur menuju puncak sangat jelas. 1 jam dari tempat kami mendirikan tenda akhirnya kami sampai di puncak tertinggi Gunung Merapi yang diberi nama Puncak Merpati. Kami sangat bersyukur sekali bisa sampai disini.Selain Puncak Merpati, ada satu lokasi lagi yang biasanya dikunjungi oleh para pendaki yaitu Taman Edelweiss, dari puncak Merpati kami harus menuruni jalur terjal, perjalanan kami tak sepenuhnya mulus karena sempat dihadang oleh kabut pekat yang menutupi jalur, setelah menunggu sekian lama kabut mulai menghilang dari pandangan. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Taman Edelweiss hingga akhirnya kami sampai juga disebuah tempat yang dihiasi oleh bunga β bunga abadi ini.












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Protes Keras Upacara Adat di Bali, Terganggu Suara Musik
Investor Serbu Gunungkidul, GKR Mangkubumi: Kita Adalah Jogja, Bukan Bali
Cerita Pilot Wanita Garuda Terbangkan Bryan Adams dan Diundang ke Konsernya