Jejak Perjuangan Bung Karno di Berastagi & Parapat, Sumut

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Jejak Perjuangan Bung Karno di Berastagi & Parapat, Sumut

Rudi Chandra - detikTravel
Minggu, 17 Jan 2016 13:17 WIB
loading...
Rudi Chandra
Rumah pengasingan Bung Karno di Berastagi
Patung Bung Karno di pelataran depan rumah pengasingan
Rumah pengasingan Bung Karno di Parapat
Arsitektur rumahnya masih asli
Saya berfoto di depan rumah pengasingan Bung Karno
Jejak Perjuangan Bung Karno di Berastagi & Parapat, Sumut
Jejak Perjuangan Bung Karno di Berastagi & Parapat, Sumut
Jejak Perjuangan Bung Karno di Berastagi & Parapat, Sumut
Jejak Perjuangan Bung Karno di Berastagi & Parapat, Sumut
Jejak Perjuangan Bung Karno di Berastagi & Parapat, Sumut
Jakarta - Jejak perjuangan Bung Karno bisa traveler temukan di Kota Berastagi dan Parapat, Sumut. Di sana terdapat rumah pengasingan yang pernah digunakan semasa dibuang oleh Belanda.Soekarno adalah presiden pertama Republik Indonesia. Beliau juga seorang pejuang yang gigih dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bahkan Bung Karno sampai beberapa kali diasingkan pihak Belanda karena beliau terus melawan kolonial Belanda.Bung Karno pernah diasingkan sampai ke Ende, Bengkulu, hingga Sumatera Utara. Di Sumatera Utara sendiri terdapat dua tempat yang pernah menjadi lokasi pengasingan Bung Karno, Sjahrir, dan Haji Agus Salim oleh pihak Belanda selama masa Agresi Militer Belanda II. Kedua tempat tersebut adalah Berastagi dan Parapat.Di Berastagi, Bung Karno, Sjahrir, dan Haji Agus Salim diasingkan pada tanggal 22 Desember 1948 di sebuah rumah Di Desa Lau Gumba, Berastagi. Rumah tersebut bergaya Belanda dan dibangun pada tahun 1719 dari kayu jati dengan ukuran 10 x 20 meter.Dulunya rumah ini tempat tinggal seorang perwira Belanda. Beliau ditahan di sini selama 12 hari sebelum dipindahkan ke Parapat karena masalah keamanan. Pada saat itu di Tanah Karo terdapat basis perjuangan kemerdekaan yang dikenal dengan nama Laskar Rakyat.Meski hanya tinggal 12 hari di sini, tetapi Bung Karno telah mendapat tempat khusus di hati masyarakat Karo. Bahkan mereka menjuluki Bung Karno sebagai Bapak Rakyat Sirulo yang berarti Bapak Lambang Kemakmuran Rakyat. Masyarakat Karo mencintai Bung Karno karena ajaran-ajaran beliau sama dengan nilai-nilai masyarakat Karo seperti gotong royong, pluralisme dan solidaritas.Pada tanggal 1 Januari 1949, Bung Karno bersama Sjahrir dan Haji Agus Salim dipindahkan ke Parapat, sebuah kota kecil yang terletak di tepian Danau Toba. Kota ini termasuk dalam wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.Di sini mereka diasingkan di sebuah rumah bergaya bangunan Eropa yang terletak persis di pinggiran Danau Toba. Hingga Akhir Januari 1949 Bung Karno dan Haji Agus Salim dipindahkan ke Pulau Bangka. Konon Bung Karno paling suka memandang Danau Toba dari balkon rumah ini.Saat ini kedua rumah pengasingan Bung Karno, Sjahrir dan Haji Agus Salim ini masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik. Keaslian arsitektur bangunannya pun masih terjaga.Namun sayangnya, kedua rumah yang menjadi saksi sejarah perjuangan Bung Karno ini tidak dijadikan sebagai objek wisata sejarah di Sumatera Utara, malah dijadikan sebagai mess pemprov Sumut, sehingga tidak dibuka untuk umum seperti rumah-rumah pengasingan Bung Karno di tempat lain.Sangat disayangkan, karena seharusnya rumah ini bisa menjadi sumber belajar perjuangan Bung Karno bagi generasi penerus bangsa.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads