Sst, Ada yang Mirip Bromo di Bondowoso
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Sst, Ada yang Mirip Bromo di Bondowoso

Pradikta Kusuma - detikTravel
Minggu, 24 Jan 2016 15:04 WIB
loading...
Pradikta Kusuma
Sudut Keindahan Kawah Wurung
Mendaki Salah Satu Bukit Di Kawah Wurung
Gunung Ijen Tampak Malu Malu Di Kejauhan
Hanya Ada Damai Yang Kami Rasakan
Pemandangan Kawah Wurung Dari Ketinggian
Sst, Ada yang Mirip Bromo di Bondowoso
Sst, Ada yang Mirip Bromo di Bondowoso
Sst, Ada yang Mirip Bromo di Bondowoso
Sst, Ada yang Mirip Bromo di Bondowoso
Sst, Ada yang Mirip Bromo di Bondowoso
Jakarta - Namanya Kawah Wurung. Lokasinya berdekatan sekali dengan Kawah Ijen. Pemandangannya cantik seperti di Bromo!Menurut masyarakat sekitar Kawah Wurung berarti kawah yang tak jadi atau bisa kalian artikan kawah yang telah mati. Secara kasat mata memang kawasan ini seperti sebuah komplek aktifitas vulkanis di masa lampau yang akhirnya membentuk beberapa bukit dengan kawah kawah mati di dalamnya. Secara kasat mata pula kawah wurung ini mirip dengan miniatur pegunungan Bromo.Sebuah lubang raksasa seperti kaldera mengelilingi bukit bukit yang menjulang di tengahnya. Warna hijau rumput menambah anggun gundukan tanah vulkanis yang telah tertidur ini. Sepanjang mata memandang hanyalah rerumputan hijau diselingi dengan sedikit pohon yang memiliki gradasi warna yang agak berbeda dengan sekitarnya. Bagi pecinta fotorgrafi lanskap ini adalah tempat yang sempurna untuk berburu gambar. Karena di antara rerumputan hijau bak di film Teletubbies ini, background pegunungan sekitar pun menambah keindahan dari Kawah Wurung. Jika kondisi cuaca sedang bagus di kejauhan akan tampak bibir kaldera Ijen yang menganga lebar bersanding dengan puncak merapi di sampingnya. Melepas pandang ke arah berbeda maka akan nampak juga Gunung Raung dengan kalderanya yang super terjal.Tak hanya bisa kita nikmati dari kejauhan saja keindahan Kawah Wurung ini, namun kita juga bisa kita ekplor lebih jauh di kawasan savanna hijau ini. Setelah sedikit memutari kawasan kaldera aku menemukan sebuah bukit hijau yang nampak tak begitu tinggi dan dari kejauhan nampak jalur yang bisa untuk dilakukan pendakian. Insting pecandu ketinggian seketika pun muncul. Aku akhirnya memutuskan untuk mencoba mendaki bukit indah ini.Mobil kami parkir di kaki bukit dan segera mencari jalur untuk menuju ke atas bukit. Jalur pun kami temukan dengan setapak kecil di antara ilalang rumput. Jalur ini nampak jelas dan kemungkinan telah sering dilalui oleh orang-orang. Yang pasti mereka juga cinta akan ketinggian karena tak mungkin seorang gembala beserta sapinya naik ke bukit yang miring seperti ini.Di punggungan bukit yang berkontur datar keindahan kawasan Kawah Wurung pun sudah nampak sangat indah. Rumput rumputan bak permadani hijau yang terhampar luas, di bawah sana tampak savanna yang mulai menguning berpadu dengan ladang persawahan yang sedang menunggu untuk di garap sang tuan tanah. Dari bawah aku memperkiraan pendakian hanya butuh 30 menit untuk mencapai puncak bukit. Bukit ini tak begitu tinggi namun memiliki jalur yang cukup miring aduhai, apalagi tanjakan setelah punggungan yang pertama jalur semakin miring dengan batuan kerikil yang mudah lepas. Jalur bukit ini seperti De Javu dari Gunung Guntur. Ya, gunung kecil yang cabe rawit.Gersang adalah kalimat pertama yang bisa aku ceritakan saat menginjakkan kaki di puncak bukit. Tak ada pepohonan tinggi hanya ada ilalang yang mulai menguning dan sebuah rongga besar yang ternyata sebuah kawah mati. Banyak sekali kawah pikirku dalam hati, dan memang pantas jika kawasan ini dinamai kawah wurung. Dan aku mendaki bukan di sebuah bukit namun gunung vulkanis purba. Sepi hanya aku seorang di puncak saat itu, si Dek Fita dan kawan-kawan yang kelelahan hanya menunggu di punggungan datar. Mungkin belum banyak yang tahu jika bukit teletubbies ini menyimpan sebuah kawah mati yang sangat indah dan bisa didaki hanya dengan waktu sekejap saja. Tak ada sampah dan tak ada vandalisme, betapa indahnya alam ini jika tanpa campur tangan manusia seperti ini. Sebelum aku beranjak turun, aku masih bersyukur dapat menikmati keindahan gunung purba ini seorang diri dan semoga kelestariannya tetap terjaga hingga nanti.Dahulu masyarakat sekitar memanfaatkan Kawah Wurung hanya untuk menggembala ternak sapi atau kambing mereka, karena begitu melimpahnya rumput di kawasan ini. Namun saat ini dengan kemajuan jaman dan internet di mana-mana, keindahan tempat terpencil seperti ini pun lebih mudah diketahui orang-orang di sudut Nusantara. Tak ayal popularitas Kawah Wurung pun meningkat akhir akhir ini. Dan sering dijadikan tujuan alternatif wisatawan setelah berkunjung ke Kawah Ijen yang notabene bertetangga saja dengan Kawah Wurung.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads