Lasem, Tiongkok Kecil di Tanah Jawa
Rabu, 03 Feb 2016 10:20 WIB
Novi Kusumayanti
Jakarta - Lasem di Jawa Tengah bisa dibilang sebagai Tiongkok kecil. Tidak mengapa, di sana traveler bisa melihat akulturasi budaya Tionghoa Jawa yang tampak dari sejumlah bangunan peninggalannya.Yang terbayang oleh saya saat mendengar nama Lasem adalah kain batik tulis motif tiga negeri dengan warna yang sangat indah. Namun saya salah, selain batik tulis, Lasem juga memiliki akulturasi budaya Tionghoa dan budaya Jawa.Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit dari Rembang, akhirnya saya sampai di Lasem. Tempat pertama yang dikunjungi bukan rumah pengrajin batik melainkan menuju ke tempat pembuatan tegel atau ubin. Di zamannya, pabrik tegel dengan merk dagang LZ adalah pabrik tegel yang sangat terkenal. Di tempat ini masih terlihat sisa-sisa tegel hasil produksi dengan beraneka motif. Di bagian belakang bangunan merupakan rumah pemilik pabrik tegel yang masih terawat dan dilengkapi dengan berbagai furniture antik. Terpajang juga foto mendiang pemilik pabrik tegel, Lie Thiam Kwie. Sayang pabrik tegel ini harus tutup karena kalah bersaing dengan tegel modern.Melanjutkan perjalanan di Lasem, saya melewati Pesantren Kauman di Desa Karangturi. Yang unik dari pesantren Kauman ini adalah bangunan utama pesantren yang berupa rumah bergaya Tionghoa, serta terdapat tulisan beraksara Tionghoa di tangga masuk. Sayang tidak ada terjemahan dalam Bahasa Indonesia untuk tulisan ini. Saya pun hanya bisa menduga-duga tulisan tersebut, mungkin berarti untuk melepas alas kaki sebelum masuk ke dalam ruangan.Tidak lama kemudian saya sampai di Rumah Batik Sekar Kencana yang dimiliki oleh Bapak Sigit Witjaksono. Di sini saya melihat proses pembuatan batik tulis, dari mulai menggambar desain dan pewarnaan sampai peluruhan lilin malam. Sempat juga berbincang-bincang dengan Pak Sigit dan mendengar langsung kekhawatiran beliau mengenai masa depan Batik Lasem. Karena semakin sedikit generasi muda yang mau meneruskan usaha batik di Lasem. Sebagian besar dari mereka lebih tertarik untuk bekerja di luar Lasem dan bukan di dunia perbatikan.Puas memilih-milih batik dan membeli beberapa lembar batik tulis saya beranjak menuju Lawang Ombo, sebuah bangunan besar yang dulunya adalah rumah seorang saudagar Tionghoa. Entah mengapa disebut Lawang Ombo, mungkin karena pintu rumah yang lebar atau justru karena rumah yang cukup luas. Rumah ini sekarang dibiarkan kosong, baik isi maupun penghuninya. Hanya terlihat meja persembahan di ruang depan dan beberapa barang tidak terpakai di kamar tidur. Bagian belakang rumah tampak tidak terawat dengan rumput yang meninggi. Di halaman belakang ini terdapat makam yang diyakini adalah makam pemilik Lawang Ombo.Lawang Ombo pun pernah dikenal sebagai rumah candu. Konon dari rumah ini bermula peredaran candu di tanah Jawa. Terlebih di dalam rumah ini terdapat lubang terowongan untuk menyelundupkan candu ke suatu tempat.Tidak jauh dari Lawang Ombo dengan berjalan kaki akan sampai di Klenteng Cu An Kiong yang merupakan klenteng tertua di Jawa. Di depan klenteng dulunya terdapat sungai besar. Kabarnya di sungai ini kapal laksamana Cheng Ho bersandar. Klenteng Cu An Kiong dihiasi dengan ukiran yang yang sangat indah dengan berbagai warna.Perjalanan saya di Lasem ditutup dengan menanti matahari terbenam di Pantai Karang Jahe sebelum kembali ke Rembang.












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun