Kisah Kelenteng yang Berusia 4 Abad di Ternate
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kisah Kelenteng yang Berusia 4 Abad di Ternate

Robert Adolf Izak - detikTravel
Minggu, 07 Feb 2016 10:55 WIB
loading...
Robert Adolf Izak
Bagian dalam kelenteng
Salah satu ornamen penting kelenteng
Informasi pemugaran
Tampak luar
Salah sudut luar kelenteng
Kisah Kelenteng yang Berusia 4 Abad di Ternate
Kisah Kelenteng yang Berusia 4 Abad di Ternate
Kisah Kelenteng yang Berusia 4 Abad di Ternate
Kisah Kelenteng yang Berusia 4 Abad di Ternate
Kisah Kelenteng yang Berusia 4 Abad di Ternate
Jakarta - Liburan Imlek di Ternate, sempatkan mampir ke Kelenteng Thian Hou Kiong. Kelenteng 400 tahun ini begitu kokoh dan menyimpan kisah toleransi beragama.Perayaan Tahun Baru Imlek 2016, saya teringat kembali perjalanan singkat di Ternate. Dari sekian banyak objek menarik saya di ajak berkunjung ke sebuah Vihara.Kelenteng Thian Hou Kiong sudah berusia 400 tahun lebih. Pertama kali di bangun tahun 1657. Mengalami pemugaran tahun 2007. Letaknya di sentra ekonomi Kota Ternate, Jalan Topekong, Kecamatan Gamalama.Saat memasuki komplek kelenteng, terlihat sepi dan sama sekali tidak ada kegiatan ibadah. Sempat ragu karena pintu pagar terlihat di gembok. Ternyata tidak terkunci rapat dan gembok dapat dengan mudah dibuka. Kebingungan selanjutnya kepada siapa saya permisi untuk melihat-lihat sambil memotret. Menyadari saya memasuki bukan rumah ibadah dari agama yang saya anut maka perlu sopan santun, menghormati serta mematuhi yang barangkali ada larangan tertentu di tempat tertentu.Sama sekali tidak ada niat selain berkenalan dan melihat-lihat bangunan bersejarah meski tidak ada penjaga saya merasa leluasa untuk masuk ke dalam. Keberadaan pertama kali kelenteng ini tidak lepas dari kedatangan bangsa China daratan ke Ternate. Jauh sebelum kehadiran bangsa Portugis dan Belanda.Sebagai negeri kaya akan rempah-rempah, mereka dengan tujuan utama membeli rempah-rempah, untuk selanjutnya di jual kembali di negerinya. Orang-orang Tiongkok sudah mengenal cengkeh, rempat-rempah sebelum abad masehi. Berbeda dengan kedatangan bangsa EropaΒ  yang bertujuan merampas dan menguasai kekayaan bumi di sini, orang-orang China daratan murni berdagang. Sama sekali tidak ada tujuan merampas. Tujuan kedua adalah berdagang. Membawa barang-barang dari Negeri Tirai Bambu untuk dijual di sini.Kedatangan mereka sifatnya sementara. Untuk kembali ke negerinya mereka menunggu kondisi cuaca dan laut tenang. Butuh waktu berbulan-bulan menunggu waktu baik untuk pulang.Sambil menunggu, oleh penguasa setempat mereka di persilahkan tinggal di tempat yang sekarang menjadi cikal bakal kampung China di Ternate. Pembangunan kelenteng tidak lepas dari kebutuhan untuk menjalankan ibadahnya. Inilah awal mula keberadaan kelenteng.Seiring perjalanan waktu, sikap keterbukaan warga setempat dan para pedagang Tiongkok, terjadilah proses pembauran. Antara lain pernikahan dengan warga setempat. Waktu itu agama Islam sudah berkembang di Ternate.Kabarnya, tidak sedikit pendatang dari China yang akhirnya menikah dan memilih menetap, beralih dan memeluk agama Islam. Namun keberadaan kelenteng tetap terjaga.Tradisi dari agama sebelumnya tetap di pertahankan. Antara lain berkunjung di kelenteng. Warga setempat pun tidak keberatan. Inilah bukti sikap toleransi dari penguasa dan warga Ternate.Bagaimana dengan perayaan Tahun Baru Imek di Kampung China Ternate? Dari dulu sampai sekarang masih dilaksanakan. Meski sudah sering terjadi proses pembauran, masih ada komunitas kecil yang memelihara tradisi perayaan Imlek.Hanya saja tidak seperti di kota-kota besar yang memasang petasan, Barongsai, di sini Imlek di rayakan secara sederhana. Dulu tahun baru Imlek bertepatan dengan musim buah.Maka warga yang merayakan menggelar pasar malam dan pawai menggunakan kereta kuda yang di sebut Hela Kereta. Sekujur kereta dihiasi buah-buah hasil bumi kota Ternate. Sederhana namun meriah.Selama 400 tahun vihara ini tetap terjaga. Sempat mengalami fase berat, 2 kali masa penjajahan yaitu Belanda dan Jepang. Pernah juga menjadi penampungan korbang letusan Gunung Gamalama sebelum mengalami pemugaran. Sampai sekarang masih di gunakan untuk ziarah atau sembayang para jemaat di Ternate. Saat berkunjung terasa takjub akan sikap toleransi warga setempat. Apalagi letaknya tidak jauh dari Masjid Raya di Kota Ternate.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads