Menggapai Langit di Puncak Gunung Sumbing, Dahsyat!

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Menggapai Langit di Puncak Gunung Sumbing, Dahsyat!

Muhammad Catur Nugraha - detikTravel
Rabu, 18 Nov 2015 15:10 WIB
loading...
Muhammad Catur Nugraha
Kabut senantiasa menemani perjalanan kami waktu itu
Awal jalur dari basecamp menuju Pos 1
Gunung Sindoro dilihat dari Pasar Setan
Pasar Setan Gunung Sumbing
Kami saat sampai di Puncak Kawah Gunung Sumbing
Menggapai Langit di Puncak Gunung Sumbing, Dahsyat!
Menggapai Langit di Puncak Gunung Sumbing, Dahsyat!
Menggapai Langit di Puncak Gunung Sumbing, Dahsyat!
Menggapai Langit di Puncak Gunung Sumbing, Dahsyat!
Menggapai Langit di Puncak Gunung Sumbing, Dahsyat!
Jakarta - Gunung Sumbing menawarkan petualangan seru untuk traveler pecinta alam. Menggapai langit di puncak gunung ini sungguh sepadan dengan perjuangan yang dilakukan. Dahsyat!Gunung Sumbing merupakan salah satu dari seven summit of Java, dengan ketinggian puncaknya yang mencapai 3371 mpdl. Gunung Sumbing menduduki peringkat ketiga di bawah Gunung Semeru dan Gunung Slamet.Untuk mencapai puncak Gunung Sumbing kita bisa melewati beberapa jalur diantaranya adalah Jalur Garung, Cepit, Bowongso dan Mangli. Kami pada saat mendaki Gunung Sumbing lebih memilih Jalur Garung, karena memang jalur ini merupakan jalur yang paling pendek dengan pemandangan yang bagus, serta kemudahan akses untuk mencapai titik awal pendakian.Kami mendaki Gunung Sumbing dalam rangka mengisi libur tahun baru. Perjalanan kami mulai pada hari terakhir tahun 2014, dengan naik bus kami pergi menuju Wonosobo karena Jalur Garung dekat dari Wonosobo. Sesampainya di Wonosobo kami lanjut naik mikro bis tujuan Magelang lalu turun di Desa Garung, terdapat plang penunjuk arah menuju basecamp, dari jalan raya kami berjalan kaki ke basecamp.Akhirnya sampai juga kami di Basecamp Gunung Sumbing Jalur Garung. Kami mendaftarkan diri dan membayar uang retribusi. Oleh petugas basecamp, kami diberi kertas yang berisi sketsa jalur dari basecamp hingga puncak, disertai dengan penjelasan rute jalur dari pos ke pos.Langit tidak begitu bagus, kala itu hujan ringan disertai kabut menemani awal perjalanan kami. Dari basecamp kami berjalan menuju Pos 1. Sebenarnya kita bisa mempersingkat waktu perjalanan ke pos 1 yakni dengan naik ojek yang ongkosnya Rp 20–25 ribu. Jika naik ojek maka hanya memakan waktu 15 menit, sedangkan dengan jalan kaki sekitar 1 jam melewati jalur berupa batu–batu yang tersusun rapi.Sampai di Pos 1 kami pun beristirahat sejenak, di pos 1 terdapat pondokan yang bisa dijadikan tempat istirahat bagi pendaki. Selain itu, di sini juga ada warung kecil yang menjajakan panganan seperti pisang dan tempe goreng, serta minuman hangat. Lumayan untuk pengganjal perut yang sedang lapar.Setelah beristirahat, kami lanjutkan perjalanan ke Pos 2 (Genus), perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 agak panjang. Kami melewati hutan dengan jalur yang terus menanjak. Sekitar 1,5 jam berjalan dari Pos 1, sampailah kami di Pos 2 yang memiliki nama Genus. Karena sudah masuk waktu makan siang kami beristirahat sembari mengisi perut dengan bekal yang kami bawa. Selepas itu kami teruskan perjalanan dengan target sampai di Pos IV atau Watu Kotak, karena berdasarkan referensi yang kami baca sebelumnya, tempat tersebut paling aman untuk mendirikan tenda karena dilindungi tebing yang tinggi.Perjalanan menuju Pos 3 (Sedulupak Roto) cukup menguras tenaga karena tidak ada bonus, melainkan tanjakan yang seolah tiada habisnya. Sampai di Pos 3 kami terus melanjutkan perjalanan hingga di pertengahan antara Pos 3 dengan Pasar Setan. Perjalanan kami hari itu terpaksa berhenti sampai di sini karena kami melihat jalur menuju Watu Kotak sudah tertutup kabut tebal karena hari telah sore. Tak mau mengambil resiko, kami pun mendirikan tenda di sini, setelah mendapatkan tempat yang dirasa cukup rata dan bisa melindungi kami dari angin kencang di malam hari.Keputusan kami untuk berhenti di lokasi tersebut cukup tepat karena selepas maghrib turun hujan begitu lebat disertai dengan angin yang sangat kencang. Rasa takut menyergap dan berdoa semoga tenda tempat kami berlindung aman dan tidak roboh. Tidak bisa dibayangkan apa jadinya jika kami mendirikan tenda di Pasar Setan yang berupa tanah lapang tanpa ada pepohonan tinggi di sekitarnya. Angin kencang tidak kunjung berhenti hingga pagi tiba. Hal ini membuat kami berpikir ulang untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak. Namun dengan tekad yang kuat serta persiapan perlengkapan, bekal yang cukup kami memutuskan untuk lanjut ke puncak.Kami menerobos angin badai dari Pasar Setan ke Watu Kotak, sampai di Watu Kotak angin kencang tidak terasa lagi karena tempat ini dibentengi oleh dinding tebing yang tinggi namun selepas Watu Kotak angin kencang kembali menerpa kami.Perjalanan makin sulit karena jalur kini berupa batu–batu besar yang licin jika di pijak. Hampir saja kami menyerah, namun gunung setinggi apapun pasti ada puncaknya, dan kami pun sampai di persimpangan yang keduanya sama–sama menuju puncak, bedanya ke kanan menuju Puncak Kawah, sedangkan lurus ke Puncak Buntu.Kami memilih ke kanan terlebih dahulu, kami pun akhirnya sampai di Puncak Gunung Sumbing ini, kami langsung sujud syukur setibanya di sini. Apabila cuaca cerah maka akan terlihat kawah Gunung Sumbing dari sini, namun karena saat itu angin dan kabut masih tebal membuat kami tidak punya banyak pilihan selain beranjak segera dari sana lalu menuju puncak buntu, setelah itu kami turun kembali ke tenda kami.Hari telah malam ketika kami sampai kembali di Pasar Setan, karena bekal kami sudah habis maka kami putuskan untuk segera turun malam itu juga kembali ke basecamp. Beruntung bagi kami berdua karena perjalanan turun tidak ada hujan serta angin, namun rasa takut tetap menyelimuti karena kami hanya berjalan berdua saja di tengah hutan, namun dengan perlengkapan seperti senter yang cukup terang membuat kami merasa aman.Akhirnya kami pun sampai kembali dengan selamat di basecamp. Kami langsung kembali bersujud karena kembali dalam keadaan sehat tanpa kekurangan apapun, meski kami baru saja bertaruh nyawa menentang angin badai Gunung Sumbing. Cerita perjalanan mendaki Gunung Sumbing di awal tahun 2015 inilah yang paling mengerikan bagi saya sepanjang saya mulai menggeluti hobi ini hingga sekarang.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads