Liburan Panjang ke Bandung, Coba Desa Wisata Cireundeu
Kamis, 24 Des 2015 13:25 WIB
Fajr Muchtar
Jakarta - Liburan panjang Natal kali ini, pasti banyak traveler pergi ke Bandung. Tapi kalau mau yang berbeda, coba ke Desa Wisata Cireundeu di Leuwi Gajah.Desa wisata ketahanan pangan demikian disebutnya. Desa ini dikenal karena keunikannya menggunakan singkong sebagai konsumsi hariannya. Selain itu ada upacara menarik yang layak diikuti seperti upacara seren tahun.Berbekal informasi dari seorang sahabat, saya mengarahkan motor ke arah Leuwi Gajah. Ya Leuwi Gajah adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah dari kota Bandung. Setelah terjadi ledakan, pembuangan sampah dialihkan ke tempat lain. Walau sempat berputar-putar di Kota Cimahi, akhirnya TPA ini saya temukan."Terus saja hingga menemukan gerbang Desa Wisata Cireundeu," Kata teman saya.Sambil mengendarai motor dengan pelan, saya mencoba membayangkan saat TPA ini menjadi tempat pembuangan sampah. Saat saya melihat, masih terlihat kepulan asap di sana-sini. Kata teman saya, asap itu bukan karena sengaja dibakar tapi karena uap yang dihasilkan tumpukan sampah yang luar biasa dan mengeluarkan gas.Setelah melewati area TPA, akhirnya saya temukan gerbang masuk ke desa wisata Cireundeu. Suasana saat itu sedang ramai. Ada acara seren tahun (pergantian tahun Sunda) yang dilakukan selama beberapa hari. Saat saya datang sudah memasuki hari kedua dan puncaknya adalah malam ketiga dan hari ketiganya. Walaupun bukan pada puncaknya, saya menyaksikan keramaian di desa itu.Awalnya saya membayangkan desa adat Cireundeu ini seperti Kampung Naga yang relatif lebih menjaga diri dari budaya luar. Desa ini sebetulnya sepeti desa lainnya. Rumah kebanyakan penduduknya juga sudah permanen dan ditembok. Sudah ada listrik dan TV. Nah di mana keunikan desa ini?Menurut saya, yang paling unik dan membedakan desa adat Cireundeu dengan yang lainnya adalah makanan konsumsi hariannya. Jika kita lebih sering mengkonsumsi nasi, di Cireundeu makanan pokoknya adalah singkong. Hampir semua makanan diolah dari bahan singkong. Nasinya dibuat dari singkong dan disebut rasi atau beras singkong. Panganan lainnya seperti kue dan camilan juga dari singkong. Semua serba singkong. Dengan keunikan itu tak heran jika desa ini kemudian disebut sebagai Desa Wisata Ketahanan Pangan (Dewi Tapa).Acara seren tahun sendiri merupakan acara penutup tahun dan sambutan untuk tahun yang akan datang. Secara perhitungan kalender saka sunda, tahun ini sudah menginjak tahun 1949. Acara ini biasa dilakukan pada tanggal 1 Sura.Di acara seren tahun ini, saya ikut menikmati hidangan serba singkong itu. Saat saya mengambil rasi alias beras singkong, Ki Yusbach mengingatkan agar tak mengambil banyak banyak."Sedikit saja. Sedikit juga sudah mengenyangkan," kata Ki Yusbach. Betul saja, saya sudah merasa kenyang memakan rasi walaupun hanya mengambil sedikit.Inti dari acara seren tahun ini sendiri adalah manifestasi syukuran kepada Yang Maha Kuasa. Oleh karenanya, dalam acara ini berbagai macam sesajen hasil bumi turut disediakan dalam proses upacara. Maka mulai dari gerbang hingga pusat upacara, berbagai hasil bumi dijadikan hiasan. Uniknya semua orang boleh mengambil dan menikmatinya.Acara kesenian tak ketinggalan ikut meramaikan upacara seren tahun ini. Maka ramailah suasana dengan lagu-lagu yang kebanyakan isinya adalah ajakan bersyukur kepada Yang Maha Kuasa. Diringi suling, kecapi, gendang, celempung dan karinding menambah suasana semakin hangat. Namun pagelaran wayang adalah yang ditunggu masyarakat.Panggung wayang terletak di depan Bale Saresehan. Saat dalang sedang melakukan aksinya, Bale Saresehan dipenuhi oleh banyak orang. Memang Kegiatan seren tahun dipusatkan di tempat ini. Di situ berkumpul para tetua adat dari berbagai kabuyutan dan juga dari pemerintahan. Kata Ki Yus Bach, kabuyutan itu sangat dekat dengan istilah ahlul bait atau shahibul bait dalam khazanah Islam karena kabuyutan berasal kata dari baytun yang artinya rumah.Bersama Ki Yus Bach dan Ki Asep acara seren tahun ini saya akhiri dengan ziarah ke makam leluhur dan pendiri desa adat Cireundeu yang terletak di belakang rumah Ki Asep. Doa disampaikan kepada Yang Maha kuasa agar bumi Pasundan tetap asri dan terjaga.












































Komentar Terbanyak
Jokowi Klaim Tak Tahu Ada Ritual Injak Kepala Kerbau, PDIP Tidak Percaya
Provinsi Jawa Barat Mau Ganti Nama Jadi Sunda, Budayawan Cirebon Tanya Urgensinya Apa?
Kasihan! Tapir yang Viral di Lampung Disembelih Warga, Dimasak Jadi Rica-rica