Pemandangan Keren dari Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran
Rabu, 14 Jan 2015 18:49 WIB
Darwance Law
Jakarta - Gunung Api Purba Nglanggeran adalah sebuah gunung yang menarik untuk didaki di Gunungkidul. Tak hanya menawarkan sejuta pesonannya, gunung ini pun aman untuk pendaki pemula.Istimewanya DI Yogyakarta itu memang tiada habisnya. Semua jenis objek wisata betul-betul berkumpul di sini, tak terkecuali gunung api purba yang berusia lampau. Adalah Gunung Api Purba Nglanggeran, nama gunung api purba yang kini ramai di kalangan para pendaki gunung.Menurut cerita, Gunung Api Purba Nglanggeran merupakan satu-satunya gunung api purba yang ada di Yogya yang terbentuk oleh kapur (karst). Secara administratif, gunung ini terletak di Desa Nglanggeran, Kecamatan Pathuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk mencapai kawasan kaki gunung tempat yang menjadi titik awal pendakian, pun cukup gampang.Setelah melewati gerbang utama Kabupaten Gunungkidul di daerah Bukit Bintang dengan jalan yang berkelok dan nak-turun, berbelok ke sebelah kiri atau arah timur. Oleh karena begitu banyak persimpangan, maka saya menyarankan untuk tetap mengikuti petunjuk arah yang ada. Hati-hati terutama yang membawa kendaraan roda empat, jalannya agak sempit sehingga harus pelan-pelan saat melewati jalan ini. Beberapa kilometer kemudian, sampailah di kawasan titik awal pendakian.Setelah sepakat dengan waktu, akhirnya pergilah kami menuju gunung api purba Nglanggeran. Sebelum betul-betul mendaki, kami beristirahat pada sebuah pendopo. Suasana di bawah cukup sejuk. Suara gemericik air yang di tata sedemikian rupa oleh pengelola membuat suasana tambah begitu natural. Dari bawah, gagahnya gunung apbi purba sudah bisa dirasakan. Batu-batu yang tampak tua namun tetap gagah, bertengger kokoh membentuk sebuah bukit raksasa.Itulah bongkahan batu-batu dengan beberapa pohon yang tumbuh di antaranya, saling bertumpukan membentuk gunung api purba. Sepertinya, kawasan ini dulu merupakan sebuah gunung berukuran raksasa sebelum akhirnya meletus. Itu hanya dugaan saya semata. Apalagi, gunung ini konon merupakan bagian dari gugusan Pegunungan Seribu.Siang mulai semakin terang, matahari pun kian semangat memancarkan cahayanya. Sebelum sang surya betul-betul tenggelam, kami bergegas hendak mendaki. Sebelumnya, kita harus membayar retribusi. Saat itu, seorang harus membayar Rp 5.000. Sekarang mungkin sudah berbeda harganya.Β Pelan-pelan kami mulai mendaki. Sejumlah penunjuk jalan yang ada di sepanjang jalur pendakian, membuat kami sangat terbantu. Pengelola betul-betul sudah mengembangkan objek ini dengan profesional. Mulanya, jalur pendakian sangat teduh oleh pepohonan yang tumbuh dengan ukuran raksasa. Selain itu, sejumlah gazebo juga bisa digunakan untuk berteduh saat lelah.Semakin tinggi, jalur pendakian kian terasa terjal. Jalan yang kami lewati pun berupa lorong yang sangat sempit, diantara dua batu raksasa yang saling berhadapan. Jadi, harap hati-hati bila melwati jalur yang satu ini. Selain sempit terkadang juga gelap, kadangkala jalur ini juga licin.Pada trek yang lain, para pendaki juga sangat terbantu oleh tangga yang terbuat dari kayu-kayu yang disatukan dengan paku. Sejumlah tali yang sengaja diikatkan pada sebuah batang, pun menjadi bagian yang sangat membantu pendakian kami di gunung api purba ini.Seperempat pendakian kami mulai disajikan oleh pemdangan yang mulai spektakuler, Yogya yang hijau dari kejauhan. Setengah perjalanan, pemandangan yang kami lihat pun semakin spektakuler. Pemandangan yang membuat kami selalu ingin bergaya ini itu untuk diabadikan dalam jepretan kamera.Sesekali setelah itu kami beristirahat pada pondok-pondok dengan pemandangan yang membuat rasa lelah kami menghilang, berganti dengan rasa kagum akan keindaham alam Indonesia yang ciptakan Tuhan. Ini sungguh luar biasa, pemandangan yang unik. Perpaduan antara pemandangan Yogya yang modern dengan BTS-BTS perusahaan seluler, dengan nuansa Yogya yang natural dengan hamparan sawah yang menghijau. Sungguh istimewa, bukan?Setelah kurang dari dua jam pendakian, akhirnya sampailah kami di puncak Gunung Api Purba Nglanggeran. Wow, setiap sisi adalah keindahan. Setelah puas memandang keindahan dari puncak, kami pun turun berteduh pada sebuah pohon-pohon rindang beralaskan rerumputan yang pun menghijau. Angin yang bertiup pelan menambah suasana kian terasa alami.












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru