Melihat Lebih Dekat Kehidupan Suku Baduy
Jumat, 20 Feb 2015 17:25 WIB
Muhammad Catur Nugraha
Jakarta - Suku Baduy, atau juga disebut Urang Kanekes, adalah suatu kelompok masyarakat adat yang mendiami wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Mereka punya adat istiadat tersendiri dan tertutup dari dunia luar. Melihat kehidupannya dari dekat, pasti menarik!Walaupun masyarakat Kanekes, khususnya bagian dalam sangat ketat mengikuti adat istiadatnya, namun mereka tetap terbuka bagi para pengunjung yang tertarik terhadap wisata budaya.Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Suku Baduy semakin meningkat sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, terlebih pada saat weekend. Banyaknya orangβorang yang menawarkan jasa travel untuk mengunjungi dan mengenal lebih dekat Suku Baduy.Saya sendiri juga merupakan salah satu orang yang minat untuk mengetahui lebih dekat dengan suku ini. Sebab pada saat SMA, yang diperkenankan untuk mengunjungi Suku Baduy adalah siswa IPS.Sepulangnya dari sana mereka menceritakan keseruan dan keakraban dengan masyarakat di sana. Oleh sebab itu, saya pun tertarik ketika ada rekan saya yang mengajak untuk mengunjungi Suku Baduy.Perjalanan kami mulai dari Stasiun Tanah Abang. Kami naik kereta Rangkas Jaya yang berakhir di Stasiun Rangkas Bitung. Sekitar 2 jam perjalanan, sampailah kami di Stasiun Rangkas Bitung, kemudian kami menuju ke tempat di mana minibus yang akan mengantarkan kami menunggu.Dari Rangkas Bitung menuju Desa Ciboleger memakan waktu perjalanan sekitar 1 jam. Desa Ciboleger ditandai dengan adanya monumen keluarga petani yang seolahβolah menyambut kedatangan para pengunjung. Di sini terdapat beberapa orang Suku Baduy Dalam yang siap menjadi guide bagi para pengunjung.Ditemani oleh guide, kami berjalan menuju wilayah Suku Baduy Dalam. Sekitar 4 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di wilayah dalam. Di sini kami tidak diperkenankan untuk mengambil gambar, sehingga tidak ada dokumentasi mengenai Baduy Dalam.Kami beristirahat di rumah guide dan keluarganya yang menyambut kami dengan sangat ramah. Malam hari tidak ada lampu, yang ada hanya lampu penerangan tradisional berupa sumbu yang diberikan minyak sayur sehingga menyala.Malam hari adalah waktu yang tepat untuk mengakrabkan diri dengan mereka. Walaupun mereka mengisolasikan diri dari budaya luar, namun mereka tetap fasih berbahasa Indonesia, sehingga obrolan kami terasa sangat lancar dan nikmat.Pagi hari kami berpamitan kepada tuan rumah, namun kami tetap ditemani oleh sang guide untuk kembali menuju Desa Ciboleger. Sesampainya di Desa Ciboleger, biasanya sang guide meminta alamat dan nomor yang bisa dihubungi kepada kita.Jika kita memberikan alamat kepada mereka, maka jangan kaget jika sewaktuβwaktu kita akan dikunjungi balik oleh mereka. Karena itu adalah salah satu dari adat mereka untuk berkunjung balik kepada siapa yang telah mengunjungi.Rasanya bermalam satu hari masih kurang untuk mengenalnya lebih dekat. Saya pun merindukan suasana Baduy.












































Komentar Terbanyak
Wanita Palembang Nekat Nyamar Jadi Pramugari, Batik Air Buka Suara
Nyeleneh! Jemaah Zikir di Candi Prambanan: Mau Lepaskan Kutukan Roro Jonggrang
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama