Semarang, Kota Rasa Tiongkok dan Eropa
Kamis, 16 Okt 2014 14:20 WIB
Lenny Permata Kusuma
Jakarta - Ada banyak objek wisata yang bisa didatangi di Semarang. Mulai dari klenteng yang membuat Anda merasa di Tiongkok, hingga kawasan kota lama yang membuat serasa sedang di Eropa. Keren!Tujuan perjalanan saya kali ini adalah Kota Semarang. Alasannya cukup sederhana, karena ingin berjalan-jalan di dalam kota cantik yang satu ini. Waktu perjalanan darat dari Jakarta menuju Semarang atau sebaliknya pun tak terlalu lama, dengan menggunakan bus saya pun berangkat menuju Semarang.Perjalanan sepanjang Pantura terbilang lancar, bahkan sudah sampai di Terminal Terboyo sebelum subuh. Saya bersama seorang teman di perjalanan memutuskan untuk menunggu hingga terang di mushala terminal. Menjelang pagi hari, kami mulai menuju ke penginapan di jalan Pandanaran. Karena belum bisa check-in pagi itu, kami mencoba berkeliling kota dengan mengandalkan mobil yang kami sewa.Tujuan pertama yaitu Klenteng Sam Poo Kong di Simongan, perjalanan dari Pandanaran hanya sekitar 10 menit. Dari luar pohon-pohon besar terlihat menutupi keindahan di bagian dalam. Namun, begitu masuk ke dalam rasa takjub saya muncul. Lapangan luas dengan bangunan-bangunan beraksen Tiongkok bertebaran disana-sini. Mirip komplek perguruan Shaolin yang biasanya Anda lihat di TV. Hanya saja tidak ada jagoan kungfunya.Oh ya, meski namanya klenteng, tapi ada juga mushala untuk ibadah umat Muslim yang berkunjung ke sana. Di ujung komplek terdapat sepasang pintu besar dan patung Laksamana Cheng Ho di luarnya. Konon, Laksamana Cheng Ho yang merupakan utusan Tiongkok beragama Islam sempat singgah ke Semarang ratusan tahun silam. Sehingga klenteng ini dibuat sebagai bentuk penghormatan kepada beliau.Setelah puas mengagumi Klenteng Sam Poo Kong, perjalanan kami lanjutkan menuju hotel untuk check-in dan beristirahat. Sebenarnya ketika perjalanan pulang, kami melintasi wilayah Tugu Muda dengan gedung Lawang Sewunya yang misterius. Tapi kami merencanakan untuk mengunjunginya besok.Setelah puas beristirahat, Museum Rangga Warsita di wilayah Kali Banteng menjadi destinasi kami selanjutnya. Museum ini menceritakan sejarah Jawa Tengah, mulai dari zaman pra sejarah hingga masa perjuangan merebut kemerdekaan. Selain itu, hasil-hasil kebudayaan masyarakat Jawa Tengah seperti batik atau gerabah juga ditampilkan.Tak hanya di dalam gedung, di bagian luar juga terdapat berbagai macam benda koleksi sejarah. Seperti patung dan arca dari berbagai daerah di Jawa Tengah.Perjalanan hari ini dituntaskan dengan mengelilingi kota lama Semarang dengan berfoto-foto di depan Landmark Gereja Blenduk. Rasa lapar pun mulai menyerang, seporsi sate kambing di Sate 29 yang berada di seberang Gereja Blenduk pun jadi incaran kami untuk disantap.Esok hari, kami berniat mengunjungi Lawang Sewu. Saat itu cukup ramai pengunjung, baik turis lokal maupun mancanegara. Kebetulan sedang ada pameran mengenai dunia perkeretaapian Indonesia. Sampai saat ini, Lawang Sewu memang dimiliki oleh PT Kereta Api.Ada untungnya menginap di kawasan pusat kota seperti Pandanaran. Apa lagi kalau bukan berbelanja oleh-oleh, Yup kawasan ini memang terkenal sebagai sentra oleh-oleh khas Semarang. Mulai dari lumpia, bandeng presto dan tahu pong tak lupa mengisi tas kami. Eits, untuk wingko babat, ternyata kami menemukan sentra produksinya di gang belakang hotel. Sehingga kami memutuskan untuk membeli langsung dari produsennya. Lebih fresh from the oven.Sore hari menjelang, setelah check-out dan mengembalikan mobil rental akhirnya kami harus kembali ke Jakarta. Lagi-lagi bus malam jadi andalan karena ongkosnya yang relatif murah namun cukup nyaman membawa kami tidur sepanjang perjalanan pulang.












































Komentar Terbanyak
Waspada! Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Seluruh Dunia yang Harus Kamu Tahu
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Gara-gara Monyet, Komodo di Singapore Zoo Telan Boneka yang Dilempar