Wisata Religi Makam Wali di Bali, Bisa!

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Wisata Religi Makam Wali di Bali, Bisa!

Iqbal Fardian - detikTravel
Rabu, 12 Nov 2014 11:50 WIB
loading...
Iqbal Fardian
Ziarah makam Wali
Ziarah makam wali
Para pengunjung sedang berziarah
Makam Raden Ayu Pemecutan
Wisata Religi Makam Wali di Bali, Bisa!
Wisata Religi Makam Wali di Bali, Bisa!
Wisata Religi Makam Wali di Bali, Bisa!
Wisata Religi Makam Wali di Bali, Bisa!
Jakarta - Bali ternyata tidak hanya menawarkan kecantikan wisata pantainya saja. Di Jembrana juga traveler bisa melakukan wisata ziarah ke makam penyebar agama Islam. Inilah bentuk kerukunan beragama di Pulau Dewata.Hari menjelang senja dan matahari sudah rebah di ufuk barat ketika bus yang membawa kami memasuki Kampung Loloan Barat di Kabupaten Jembrana, Bali. Perjalanan selama kurang lebih empat jam dari Glenmore, Banyuwangi pada pertengahan Mei lalu itu mengantarkan saya pada suasana yang tidak pernah kami bayangkan.Tidak ada penjor, janur kuning yang menjadi salah satu ciri khas pemukiman warga Bali. Tidak ada pula sesajen seperti yang biasa kami temukan. Senja itu kami disuguhi pemandangan Bali yang lain dari biasanya, suasana yang akrab dengan keseharian kami di kampung halaman. Padahal, Loloan Barat berada di Bali, pulau para Dewa.Rumah panggung khas Melayu-Bugis berdiri di beberapa sudut kampung. Penjual sate Madura tengah asyik melayani pembeli di gerobaknya. Beberapa lelaki berkopiah dan bersarung keluar masuk toko berpapan nama aksara Arab. Saya pribadi merasa seperti berada di Kampung Ampel, Surabaya.Aroma minyak wangi yang meruap menambah kuat kesan Kampung Ampel di Loloan Barat ini. Apalagi setelah kami mendekati kompleks makam Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar afaqih, salah satu ulama yang berjasa dalam penyebaran Islam di Bali."Loloan memiliki peran penting masuknya Islam di Bali," kata Ahmad Dasuki yang memandu kami.Lokasi makam yang tidak persis di pinggir jalan membuat kami harus menyusuri perkampungan ini. Tapi, kita bersyukur karena dapat berinteraksi dengan penduduk kampung yang membuat saya penasaran sedari tadi. Terlebih, logat bicara mereka mengingatkan saya pada dialog kartun negeri tetangga yaitu Upin dan Ipin."Bahasa Melayu sudah digunakan di sini sejak dua abad silam," ujarnya.Penutur awal bahasa Melayu datang dari Trengganu yang mengikuti migrasi penduduk Pontianak dan Bugis setelah Makassar jatuh ke tangan Belanda pada 1667. Warga Bugis di sini masih keturunan Sultan Wajo, kata Dasuki. Bahasa Melayu itu masih digunakan oleh komunitas Muslim hingga sekarang. Warga Jembrana menyebutnya bahasa Melayu Bali.Meski mayoritas penduduk Bali beragama Hindu, pemeluk Islam di Loloan tetap hidup tenang dan damai berdampingan dengan umat lain di dalam maupun di luar kampung. Jejak penyebaran Islam seperti makam Habib Ali turut dilestarikan. Selain mewariskan pesantren yang masih aktif hingga sekarang dan sejumlah kitab, Habib Ali adalah santri terakhir Kyai Kholil Bangkalan, ulama kharismatik dari Madura di masa perang kemerdekaan.Tidak mengherankan jika makam Habib Ali menjadi tujuan pertama wisata ziarah di Bali. Apalagi lokasinya paling dekat dengan Banyuwangi di ujung timur pulau Jawa. Di makam inilah kami berdoa semoga amal Habib Ali menebar ajaran Islam yang damai menjadi tabungan di akhirat.Dalam tradisi wisata ziarah di Bali, makam Habib Ali bukan satu-satunya lokasi yang menjadi tujuan wisatawan. "Ada tujuh wali dan kita biasa menyebutnya wali pitu," kata Ahmad Dasuki.Lokasi makam mereka berbeda dari ujung barat hingga ujung timur. Jika makam Habib Ali di Jembrana, makam Pangeran Mas Sepuh berlokasi di Badung. Adapun makam Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Khamid di Klungkung, Chabib Ali bin Zainul Abidin Al Idrus di Karangasem, Syeh Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi di Karangasem, Chabib Umar bin Maulana Yusuf Al Maghribi di Bedugul-Tabanan, dan The Kwan Lie atau Syekh Abdul Qodir Muhammad di Buleleng.Ziarah ke makam para wali di Bali bukan sekadar menambah wawasan saya tentang kekayaan Bali sebagai destinasi wisata utama, tapi juga memberikan pelajaran tentang kerukukan hidup sesama manusia dalam keyakinan yang berbeda. Saling menghormati adalah menjadi kunci penting merawat dan melestarikan warisan masa lalu sebagai kekayaan khazanah pariwisata Indonesia.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads