Yuk, Berkeliling Keraton Kasunanan Solo
Selasa, 02 Des 2014 14:25 WIB
Lenny Permata Kusuma
Jakarta - Solo merupakan kota budaya penting di Indonesia, selain Yogyakarta. Hingga saat ini, Keraton Kasunanan sebagai simbol keluhuran budaya Jawa masih berdiri kokoh di Solo. Anda bisa mengunjungi keraton ini di kala liburan.Keraton Kasunanan tak bisa dipisahkan sebagai salah satu pusat budaya di Kota Solo. Karenanya, belum sah rasanya kalau tak mampir ke keraton saat berwisata ke Solo.Keraton yang selesai dibangun 1745 ini memiliki luas sekitar 54 hektar, mulai dari Alun- Alun Utara hingga Alun-Alun Selatan. Kompleks yang bisa dijelajahi juga luas. Sehingga ada baiknya menyiapkan diri untuk berkeliling komplek keraton.Saat masuk, saya masuk melalui pintu loket Alun-alun Utara di seberang Pasar Klewer. Bagian keraton pertama yang kami masuki adalah pendopo besar dengan patung-patung ksatria Jawa. Selanjutnya saya melewati bangunan beratap biru bernama Sasana Sewayana. Di bangunan ini terdapat meriam di sisinya yang konon bernama Kyai Pancawura dan Kyai Sapu Jagad.Selain Sasana Sewayana, ada pula gedung kuno dan lapangan dengan banyak pohon burahol yang sedang berbuah. Salah seorang abdi dalem menawari jus buah tersebut yang diyakini bermanfaat untuk mencegah panas dalam. Segelas cukup membayar Rp 5.000.Selanjutnya, sebelum masuk ke dalam ekraton saya harus menyeberang sebuah pertigaan dengan gerbang Kori Gapit. Lalu berjalan lurus ke lokasi penyimpanan kereta dan mobil-mobil bersejarah milik Sultan Solo. Setelah puas melihat-lihat koleksi kendaraan keraton, saya pun masuk ke dalam keraton. Di dalam, terdapat museum dengan beragam koleksi benda bersejarah dan berharga.Tak lupa, saya masuk ke taman keraton Sasana Sewaka yang beralas pasir pantai selatan dan Gunung Merapi. Untuk masuk, saya diwajibkan melepas alas kaki dan mengaggumi bangunan bergaya Jawa dan Eropa di depan. Serta melihat dari luar menara bersemedi Sultan berjuluk Panggung Sangga Buwana.Selama mengunjungi keraton, saya kagum akan kebesaran dan kekayaan budaya Indonesia. Sayangnya, sejak awal masuk hingga di dalam ekraton, tak ada satu pun guide yang menjelaskan mengenai sejarah seputar keraton. Sehingga pengetahuan mengenai lokasi wisata ini hanya diwakili oleh buku sejarah yang dijual di loket masuk sebelumnya.












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru