Pilot Ungkap Jalur Terberat di Langit Indonesia
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Pilot Ungkap Jalur Terberat di Langit Indonesia

Nyimas Amrina Rosada - detikTravel
Minggu, 01 Mar 2026 17:15 WIB
Keadaan di Bandara Internasional Komodo Labuan Bajo
Bandara Internasional Komodo Labuan Bajo (Istimewa)
Jakarta -

Ternate dan Labuan Bajo jadi rute penerbangan paling menantang di Indonesia menurut pilot. Berikut kesulitan yang dihadapi pilot hingga cara mendaratkan pesawat di rute menantang.

Indonesia merupakan negara dengan lanskap alam yang indah sekaligus ekstrem. Negara ini memiliki dataran pegunungan tinggi, hutan lebat, dan cuaca ekstrem yang berubah-ubah. Kondisi geografisnya membuat Indonesia memiliki sejumlah rute penerbangan yang sulit ditaklukan.

Para pilot menyadari bahwa tidak semua rute bisa dilalui dengan mudah meski teknologi penerbangan sudah semakin canggih. Kesaksian yang sama juga diungkap oleh Nurliza, seorang pilot wanita dari salah satu maskapai penerbangan besar di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dunia aviasi sering diidentikkan dengan laki-laki. Namun dewasa ini, banyak juga pilot wanita hebat. Salah satunya Nurliza.Nurliza, pilot perempuan Indonesia (Andhika Prasetia)

Dalam kesaksiannya itu, Nurliza membagikan pengalamannya selama menerbangankan pesawat dan menyebutkan beberapa rute paling menantang di Indonesia.

Nurzila mengungkap bahwa setiap penerbangan telah melalui perhitungan matang, mulai dari kondisi cuaca hingga kesiapan pesawat. Para pilot sudah dilatih untuk profesional dan tidak takut menghadapi medan-medan yang sulit itu.

ADVERTISEMENT

Rute Penerbangan Paling Menantang di RI

Mengutip arsip berita detikTravel, dikutip Minggu (1/3/2026), Nurliza mengatakan rute penerbangan tersulit yang ada di Indonesia adalah ketika melakukan penerbangan melintasi daerah Ternate dan Labuan Bajo.

1. Ternate, Maluku Utara

Rute penerbangan menuju Bandara Sultan Babullah, Ternate, dikenal menantang karena kondisi geografisnya yang unik. Bandara ini berada di pulau kecil dengan Gunung Gamalama di satu sisi dan lautan di sisi lainnya. Saat pesawat akan mendarat, pilot harus melakukan manuver dengan ruang yang terbatas karena dikelilingi laut dan medan berbukit.

Masalah utama pada rute Ternate adalah angin silang (crosswind) yang cukup kuat dan sering berubah arah. Kondisi ini membuat pilot harus sangat memperhatikan batasan angin saat pendaratan dan lepas landas.

Jika angin melebihi limit keselamatan, pesawat berisiko harus berputar di udara atau bahkan mengalihkan pendaratan ke bandara lain.

2. Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur

Rute menuju Bandara Komodo, Labuan Bajo, juga masuk dalam daftar rute tersulit meski terkenal dengan panorama alamnya yang indah. Bandara ini dikelilingi perbukitan dan wilayah laut terbuka, sehingga pola angin di sekitar landasan pacu cukup ekstrem dan tidak stabil.

Tantangan utama di Labuan Bajo adalah limitasi angin dan turbulensi, terutama saat musim tertentu. Angin kencang dari laut dapat mempengaruhi kestabilan pesawat ketika mendekati runway.

Selain itu, kondisi cuaca yang cepat berubah menuntut pilot untuk selalu siap mengambil keputusan cepat demi keselamatan penerbangan.

Kesulitan Terbesar: Limitasi Angin dan Turbulensi

Nurliza juga menjelaskan bahwa dua tantangan paling berisiko dalam menerbangkan pesawat adalah limitasi angin dan turbulensi. Menurutnya, butuh fokus lebih mendalam untuk memperhatikan limitasi angin saat menerbangkan pesawat di rute Ternate dan Labuan Bajo.

"Untuk penumpang mungkin pemandangannya bagus. Tapi untuk kita penggunaan runway-nya ada limitasi angin yang harus diperhatikan," jelas Nurliza dalam sesi Hub Talks 2023 di Plenary Hall, Jakarta Convention Center (JCC), dikutip detikTravel.

Seorang pilot dituntut untuk tidak mudah panik dan profesional dalam menghadapi situasi sesulit apa pun. Nurliza menjelaskan para pilot sudah dilatih untuk antisipasi dalam setiap cuaca ekstrem sekali pun.

"Sudah ditraining sebisa mungkin untuk bisa meminimalisir rasa panik. Jika terjadi cuaca buruk sudah antisipasi," ujarnya.

Selain faktor cuaca, turbulensi juga menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi para pilot saat menerbangkan pesawat. Fenomena ini sebenarnya tergolong lazim dalam dunia penerbangan dan bisa terjadi kapan saja, terutama saat pesawat melintasi awan tebal, perubahan tekanan udara, atau wilayah dengan perbedaan suhu ekstrem.

Meski demikian, turbulensi tetap memerlukan kewaspadaan tinggi karena dapat mempengaruhi kenyamanan hingga keselamatan penerbangan.

Dalam beberapa kasus, turbulensi tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penumpang, tetapi juga berpotensi berbahaya. Tercatat sejumlah insiden turbulensi parah yang menyebabkan penumpang maupun awak kabin mengalami luka serius, bahkan hingga menimbulkan korban jiwa.

Salah satunya terjadi pada pesawat Boeing 777-300ER milik Singapore Airlines dengan nomor penerbangan SQ321 dari London menuju Singapura yang mengalami turbulensi parah pada Mei 2024 dan menyebabkan satu penumpang meninggal dunia.

Prosedur Khusus Saat Mendarat di Bandara Menantang

Merangkum informasi dari situs Federal Aviation Administration dan Indonesia ICAO, terdapat standar global yang harus dipatuhi oleh pilot saat mendaratkan pesawat. Standar ini ditetapkan oleh otoritas penerbangan internasional yang diadopsi oleh otoritas nasional.

1. Penggunaan Instrumen Pendekatan

Sebelum mendarat, pilot harus mengikuti Instrument Approach Procedure (IAP) yang ditetapkan untuk masing-masing bandara. IAP mencantumkan data teknis seperti arah, ketinggian, titik check-point (waypoints), serta rute yang digunakan pilot untuk masuk ke fase pendekatan pendaratan.

Prosedur ini dirancang berdasarkan standar keselamatan internasional dan menjadi acuan utama saat cuaca buruk atau visibilitas rendah.

2. Ketentuan Kondisi Cuaca Minimum

Setiap bandara pasti punya batasan kriteria cuaca minimum yang diperbolehkan untuk melanjutkan pendaratan. Standar ini ditetapkan oleh badan seperti FAA dan ICAO.

Standar ini berfungsi untuk mengatur parameter seperti jarak pandang horizontal (Runway Visual Range) dan ketinggian saat landasan harus sudah terlihat (Decision Height/DH).

Jika batas ini tidak terpenuhi, pilot wajib melakukan pembatalan pendaratan dan mengikuti prosedur lanjutan seperti missed approach.

3. Prosedur Missed Approach

Jika pilot tidak dapat melihat landasan dalam batasan yang ditetapkan meskipun sudah berada di tahap akhir pendekatan, prosedur missed approach harus segera dijalankan.

Prosedur ini menjadi rencana cadangan yang sudah ditetapkan dalam approach chart, yang memberikan jalur dan ketinggian aman untuk menghindari hambatan dan kembali ke pola terbang menunggu kondisi lebih baik.

4. Koordinasi dengan Pengendali Lalu Lintas Udara (ATC)

Sepanjang proses pendekatan dan pendaratan, pilot bekerja sama ketat dengan ATC untuk menerima informasi kondisi landasan, navigasi, dan peringatan cuaca.

Informasi ini sangat penting saat mendarat di bandara yang kompleks. Di mana ATC memberikan panduan real-time untuk keamanan dan efisiensi pendaratan.




(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads