Jakarta - Desa Mantar terletak terpencil di penjuru Sumbawa. Desa cantik di pegunungan inilah memiliki sejuta pesona yang ditawarkan ke wisatawannya.Tepat bulan Mei tahun lalu, saya berkesempatan untuk berkunjung ke Desa Mantar. Desa ini dapat ditempuh dalam 45 menit hingga 1 jam dengan mobil 4WD dari kota Taliwang.Track menuju desa yang berada di puncak ini sangat terjal, penuh dengan batu, onak, dan duri kehidupan. Bonusnya? Kiri kanan jurang. Belum lagi jika langit sedang mood untuk menangis, tambah becek dan curam perjalanan ke sana.Agar tidak terlalu fokus dengan jalanan yang mengocok perut, layangkanlah pandangan jauh ke utara, karena di situlah terlihat Selat Alas, selat yang memisahkan Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Jangan lupa pula untuk menekan shutter kamera kamu ketika melihat kegagahan Gunung Rinjani yang dipatri dengan kokoh oleh ibu pertiwi.Perjalanan yang sulit itu terbayar lunas ketika sampai di Desa Mantar, desa cantik setinggi 630 mdpl yang hampir selalu berselimutkan kabut. Keramahan penduduk Mantar tersirat dari senyum yang merekah ketika menyambut kami yang dengan berisik memasuki daerah mereka dengan gerungan mobil 4WD. Saya langsung bersemangat ketika menemukan sekelompok anak-anak yang sedang bermain bola dan menepok-nepok bulu alias bulutangkis!Dengan sedikit berlari saya menyambangi mereka untuk bergabung dan ikut bermain. Saya pun berkenalan dengan bocah berkulit hitam yang sepertinya senang sekali saya samperin,"Halo, aku boleh ikutan main ya. Nama kamu siapa?"Ia menjawab "Amar"."Waw, kalo begitu cocok nih kita main bulutangkis bareng!"Desa Mantar ini dulunya bernama Mount Tarry, yang artinya Gunung Tempat Tinggal. Bagaimana bisa disebut seperti itu? Sekitar abad 16, sebuah kapal dagang Cina yang berisikan orang-orang dari berbagai belahan dunia melakukan pelayaran. Ketika melewati Selat Alas Sumbawa, kapal karam dan terdampat di Kuangbusir yang sekarang terkenal dengan sebutan Bangkabelah.Orang-orang kapal itupun mencari tempat tinggal yang layak dan sampailah mereka ke bukit yang tinggi, tanahnya luas, datar, dan cocok untuk bermukim. Dinamakanlah tempat itu Mount Tarry namun seiring dengan perkembangan desa, desa tersebut lebih tenar dengan nama Mantar.Ketika ngobrol dengan para penduduk, Saya juga melihat ada beberapa anak albino. Ternyata ada sejarahnya yang berhubungan dengan karamnya kapal yang saya ceritakan di atas.Jadi di kapal tersebut ada 7 orang bule kulit putih, dan ketika pimpinan pelayaran (Abdul Rahman) akan meninggal, ia berpesan kalau di Desa Mantar tidak boleh ada lebih dari 7 orang kulit putih di dalam Desa Mantar.Sejak saat itu, mulai lahirlah bayi-bayi yang Albino seakan-akan sebagai pengganti 7 bule yang disebut oleh Abdul Rahman. Jumlahnya? Selalu 7 orang. Jika ada 1 yang meninggal, akan lahir 1 albino. Dan bila ada 1 yang lahir, tiba-tiba saja ada 1 albino yang meninggal. Aneh tapi nyata.Hari mulai gelap, dan tibalah saatnya kami mengucapkan selamat tinggal kepada penduduk terutama bocah-bocah serdadu kumbang yang sepanjang sore bermain dan berfoto bersama kami.Saat melemparkan salam selamat tinggal, sekali lagi saya menoleh ke belakang dan deretan rumah panggung yang senada mulai terlihat kecil. Di situ saya menemukan kesederhanaan yang tersirat dari desa Mantar, desa cantik di atas bukit yang selalu berselimutkan kabut. Selamat tinggal Desa Mantar, selamat tinggal para serdadu kumbang, sampai bertemu lagi!
Komentar Terbanyak
Ada Gerbong Khusus Merokok di Kereta, Kamu Setuju?
Terpopuler: Dedi Mulyadi Terancam Dicopot, Ini Penjelasan DPRD Jabar
Cerita Tiara Andini Menolak Tukar Kursi sama 'Menteri' di Pesawat Garuda