Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Selasa, 08 Jul 2014 14:55 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Everest Base Camp, Perjalanan ke Kaki Atap Dunia

d'Traveler
Menatap puncak Everest
Menatap puncak Everest
Saya dan tim di Everest Base Camp
Saya dan tim di Everest Base Camp
Pemandangan puncak Everest dari Kalapattar
Pemandangan puncak Everest dari Kalapattar
Pelangi di Everest
Pelangi di Everest
Pagi di Namche
Pagi di Namche
detikTravel Community - Everest, puncak gunung tertinggi di dunia itu memang ibarat sebuah magnet yang senantiasa menyihir para pendaki gunung dari seluruh belahan Bumi. Mereka tentu mencoba menjejakkan kaki di atap dunia itu.Berawal dari sebuah mimpi dan obsesi, mewujudkan mimpi untuk menyaksikan dan menjejakkan kaki di Everest Base Camp, titik awal pendakian sebelum mendaki puncak Everest yang sesungguhnya. Selangkah demi selangkah.Kali ini saya akan menceritakan pengalamanku selama menjelajahi Himalaya hingga ke Everest Base Camp, tempat nge-camp awal bagi everest summitter sebelum memulai pendakian ke puncak berketinggian 8.848 mdpl itu.Perjalanan ke Everest Base Camp (EBC) sudah direncanakan sejak September tahun 2013 lalu. Mulai dari browsing 'how to get there'-nya hingga persiapan-persiapan yang perlu dilakukan.Setelah menemukan waktu yang pas, yakni di bulan Mei, dimana di bulan itu banyak hari libur. Saya mulai kontak dengan beberapa trekking provider yang menawarkan jasa mengantar para trekker ke beberapa destinasi yang ada di Himalaya, termasuk ke EBC.Provider sudah ditentukan, tiket sudah di tangan, dan perhitungan mundur sudah saya lakukan. Saatnya melakukan beberapa persiapan, khususnya persiapan fisik. Mulai dari berlatih fisik secara rutin di gym, hingga melakukan latihan secara langsung di lapangan.Beberapa gunung di Indonesia kembali saya kunjungi, mulai dari Slamet, Cikuray, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing di Pulau Jawa. Lalu lanjut Rinjani di Lombok hingga Kerinci di Sumatra. Semua masuk dalam daftar tempat pelatihan fisik saya.Salah satu latihan yang juga saya lakukan di rumah adalah latihan beradaptasi di suhu dingin, dimana hal ini saya lakukan dengan cara 'hidup' di kamar dalam suhu 16 derajat, dengan hanya menggunakan baju dan celana yang tipis serta tidur tanpa selimut.Hal ini saya lakukan agar terbiasa berinteraksi di suhu dingin, yang kemungkinan di sana akan berada di suhu ekstrem di bawah nol derajat.Bulan Mei tiba, dan hitungan mundur semakin mendekati angka nol. Segala persiapan fisik dan peralatan sudah mulai dibuatkan check list, termasuk melakukan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan bahwa saya akan siap secara fisik dan mental untuk memulai perjalanan 'mengejar mimpi' ini. Restu orang tua dan atasan di kantor dalam bentuk approval cuti pun sudah dikantongi.Hari-H pun tiba. dengan langkah pasti saya menuju ke airport untuk terbang ke Kathmandu, Ibukota Nepal, dengan sebelumnya transit di Kuala Lumpur. Setelah terbang selama 6,5 jam ditambah, transit selama 2 jam di KLIA 2, saya tiba di Tribhuvan International Airport di Kathmandu.Setelah melewati imigrasi dan membayar USD 40 untuk VOA, saya melangkah memasuki negeri Nepal yang menjadi idaman para traveler ini. Ngima, trekking provider yang saya tunjuk di Nepal telah stand by di arrival hall dan membawaku ke Hotel Namaslu, tempatku menginap.Saya akan stay di Kathmandu untuk aklimatisasi selama 2 hari, sambil melakukan city tour sebelum bertolak ke Himalaya.Saatnya pun tiba, saya dan Gabriella Daphine, rekan dari Argentina serta Ngima yang akan bertindak sebagai guide selama di Himalaya bergerak meninggalkan hotel menuju Tribhuvan Airport untuk bertolak menuju Tenzing - Hillary Airport di Lukla, bandara yang masuk dalam kategori "Top 10 the most dangerous airport in the world."Betapa tidak, airport yang terletak di ketinggian 2.800 mdpl ini hanya memiliki landasan pacu 460 meter dan berada tepat di bibir tebing. Penerbangan ke Lukla yang hanya bisa dilakukan oleh pesawat kecil sejenis twin otter dan helikopter ini sangat tergantung cuaca.Setiba di Lukla, kami mampir sebentar di sebuah lodge untuk beristirahat, sekalian berkenalan dengan Dorji, Sherpa yang akan bertindak sebagai porter.Target kami hari ini adalah Phakding yang berada di ketinggian 2.656 mdpl. Pasti bingung ya, karena Lukla sendiri berada di ketinggian 2.800 mdpl. Di situlah letak uniknya Himalaya, karena menyusuri barisan dan rangkaian pegunungan, kita tidak bisa berpatokan dari ketinggian saja untuk menjadi parameter target atau pun prestasi perjalanan.Perjalanan ke sebuah titik akan diwarnai dengan naik-turun, serta bisa menyeberangi beberapa gunung dan sungai yang pastinya menguras tenaga.Perjalanan ke Phakding ditempuh dalam waktu 3 jam. Karena hari pertama melakukan trekking, kami melaluinya dengan penuh semangat. Canda tawa mewarnai perjalanan yang di sepanjang jalan disuguhi pemandangan yang sangat indah.Saya mengawali hari ke 2 selepas salat subuh, dimana saya hanya bisa ternganga melihat pemandangan dari balik jendela kamar yang menakjubkan. Sebuah puncak gunung bersalju berwarna kekuningan yang diterpa sinar matahari, adalah suguhan sarapan pagi yang takkan terlupakan.Ini untuk pertama kalinya saya melihat puncak gunung bersalju dari dekat. Kemarin saat dalam penerbangan ke Lukla, saya juga melihat beberapa puncak Himalaya, tapi dari kejauhan.Perjalanan di hari ke 2 akan sangat menguras tenaga. Betapa tidak, target kami hari itu adalah Namche yang berada di ketinggian 3.450 mdpl. Konon perjalanan akan di tempuh dalam waktu 7-8 jam, dan jika beruntung akan bisa menyaksikan Puncak Everest, walaupun masih dari kejauhan.Di sisi lain, tiba di Namche adalah sesuatu hal yang sangat saya nantikan, walaupun agak sedikit kecewa karena tidak bisa tiba di sana pas hari Sabtu.Di setiap hari sabtu di Namche, akan ada bazaar yang menjual peralatan camping bekas namun masih layak dipakai. Peralatan tersebut milik trekker yang dijual murah ke penduduk lokal demi menghemat bagasi. Namun sayang sekali saya tidak bisa di sana pada hari Sabtu. Namun hal itu tidak menyurutkan keinginan untuk segera tiba di Namche.Desa yang mirip kota kecil ini dikembangkan oleh Sir Edmund Hillary, orang pertama yang menginjakkan kaki di Puncak Everest, bersama dengan sang sherpa Tenzing Norgay pada 29 Mei 1953.Di desa ini ada sekolah, rumah sakit, dan beberapa fasilitas umum yang didirikan oleh sang pelopor demi membantu para warga sherpa yang bermukin di Himalaya. Di Namche ini juga kita akan beristirahat selama 2 malam untuk melakukan proses aklimatisasi.Setelah berjalan selama 8 jam, akhirnya kami tiba di Namche. Cuaca dingin sudah menyambut pertama kali saya menjejakkan kaki di desa yang dikelilingi dengan gunung-gunung berpuncak salju ini.Sesaat setelah check in, saya dan Gaby memutuskan untuk berkeliling Namche. Puas berkeliling, kami memutuskan untuk mampir ke sebuah cafe yang memutar film "Into Thin Air" lewat DVD player. Malamnya kami habiskan dengan bermain kartu di dekat perapian di restoran lodge.Hari ke 2 di Namche akan kami isi dengan mendaki sebuah puncak bukit hingga di ketinggian 4.000 mdpl. Tepatnya di Everest View Hotel, tempat kita bisa menyaksikan secara langsung Puncak Everest, Ama Dablam, dan beberapa puncak Himalaya lainnya. Tentu saja jika cuaca bersahabat.Kami beruntung, karena sesaat kami tiba di Everest View Hotel, cuaca cerah dan langit biru menyambut kami. Gugusan puncak-puncak di Himalaya terhampar dengan indah di hadapan kami, termasuk Everest, sang atap dunia.Puncaknya berhiaskan salju nan indah. Semua moment itu kami abadikan dengan baik dalam kenangan, dan tentu saja kamera kami.Setelah melewatkan aklimatisasi di Namche, kami melanjutkan perjalanan ke Tengboche di ketinggian 3.867 mdpl. Kali ini perjalanan terasa lebih ringan dibandingkan perjalanan sebelumnya.Namun seiring bertambahnya ketinggian, serta semakin dinginnya suhu dan cuaca, bayang-bayang AMS (Acute Mountain Sickness) sudah mulai menghantui. Khususnya bagiku, dimana setiap langkah di ketinggian ini adalah rekor ketinggian baru, karena titik tertinggi yang pernah saya capai di Indonesia adalah 3.805 mdpl, yakni di Gunung Kerinci.Setiba di Tengboche, kami menyempatkan diri mengunjungi Monastery (kuil). Kebetulan, setiap hari jam 3-5, kuil di buka untuk peribadatan. Dimana kami juga bisa bertemu dengan para biksu.Selepas dari monastery, selebihnya kami menghabiskan waktu dengan bermain kartu di dekat perapian di restoran lodge, tempat ternyaman dalam cuaca dingin seperti ini.Menjelang subuh, saya terbangun karena merasakan sakit kepala yang teramat sangat. Saat say melihat ke penunjuk suhu yang saya bawa, suhu menunjukkan -5!!Keesokan harinya, perjalanan kami lanjutkan ke Periche di ketinggian 4.252 mdpl. Sama seperi di Namche, kami juga akan melewatkan waktu 2 malam untuk melakukan aklimatisasi.Perjalanan menuju EBC semakin dekat, dan tantangan pun semakin berat. Mulai dari rasa lelah yang sudah menerpa jiwa dan raga, dinginnya suhu, serta rasa makanan yang disajikan di lodge yang 'semakin aneh.'Untuk menjaga stamina, saya banyak mengkonsumsi vitamin dan air mineral yang harganya cukup tinggi dan sangat tergantung ketinggian. Semakin tinggi letak tempatnya, semakin mahal air mineralnya.Selepas dari Periche, tujuan kami berikutnya adalah Lobuche di 4.930 mdpl. Di tempat ini sudah sangat dingin, dan jika malam hingga pagi hari, semua permukaan tanah dan atap-atap lodge akan di selimuti salju, begitu kata Ngima, sang guide. Tentu saja saya penasaran untuk membuktikannya.Selepas salat subuh di suhu -7 derajat Celcius, saya melangkah keluar lodge. Ternyata Ngima benar, di pagi buta saat yang lain masih tertidur meringkuk di balik selimut ataupun sleeping bag-nya, saya seorang diri melangkah di atas hamparan salju. Bukan apa-apa, saya belum pernah melihat dan menyentuh salju.Seusai sarapan, kami meninggalkan Periche menuju Gorak Sheep. Tempat berketinggian 5.184 mdpl ini adalah lodge terakhir sebelum EBC. Hari itu adalah puncak perjalanan kami. Yah, hari itu kami akan menuntaskan perjalanan hingga ke Everest Base Camp di ketinggian 5.357 mdpl.Sesaat setelah tiba di lodge tempat kami menginap di Gorak Sheep, kamiĀ  check in dan beristirahat sejenak, lalu melanjutkan perjalanan ke EBC. Jantungku berdegup kencang sepanjang perjalanan.Yah EBC, tempat yang selama beberapa bulan terakhir ini selalu saya saksikan di youtube dan saya baca segala artikelnya. Hari ini akan saya datangi.Perjalanan dari lodge, kami di Gorak Sheep ke EBC. Memakan waktu selama 3 jam, hingga kami tiba di sebuah gundukan batu yang berhiaskan bendera-bendera berwarna-warni khas Himalaya. Inilah EBC, tempat para pengejar Puncak Everest memulai perjalanan yang sesungguhnya, dengan melakukan aklimatisasi berminggu-minggu di sini.Sebuah sujud syukur, disertai air mata haru dan bahagia, mewarnai detik-detik awal ketibaanku. Sungguh saya merasakan sebuah perasaan yang tak terlukiskan.Cuaca dingin dan tiupan angin yang lumayan menusuk tulang tak lagi saya hiraukan. Dengan dibantu rekan-rekan seperjalanan, kami lalu mengabadikan momen-momen bersejarah itu.Sebuah pemandangan indah tersuguhkan melengkapi keberuntungan kami, di mana sesaat sebelum kami turun, ada 3 rangkaian pelangi yang mengitari Puncak Everest. Membuat kami semua hanya bisa tertegun, menyaksikan fenomena alam yang sangat indah itu.Setelah puas berfoto, kami memutuskan kembali ke lodge di Gorak Sheep untuk mempersiapkan perjalanan yang akan kami mulai besok jam 4 pagi, menuju Gunung Kalapattar. Gunung Kalapattar di ketinggian 5.545 mdpl adalah tempat terbaik untuk menyaksikan Puncak Everest.Agar bisa menyaksikan sunrise dari Puncak Kalapattar, kami harus rela menahan dingin yang menusuk tulang, dengan bangun pukul 3.30 pagi dan berkemas. Segelas teh hangat kami minum untuk melawan dingin dan memulai perjalanan.Melewati hamparan salju dan cahaya headlamp sebagai penerang jalan, tantangan sendiri dalam perjalanan hari ini. Saya yang sudah mulai merasakan kelelahan selalu tertinggal di belakang.Sungguh berat perjalanan mendaki Kalapattar, tapi saya terus menyemangati diri demi menyaksikan Puncak Everest dari sudut pandang terbaik. Sekedar gambaran juga, bahwa jika ada tim yang melakukan pendakian Puncak Everest, Gunung Kalapattar juga menjadi tempat stand by sebagian tim untuk memonitor pergerakan Team Summit.Setelah mendaki selama 3 jam tanpa bonus (lahan datar), akhirnya tibalah saya di Puncak Gunung Kalapattar. Saat saya menoleh ke belakang, Masya Allah! Puncak Everest dengan anggunnya berdiri bermandikan sinar mentari pagi.Semua rasa lelah seperti menguap, bersama uap salju yang mulai menghilang diterpa cahaya mentari pagi. Sungguh sebuah pemandangan karunia Ilahi yang sangat luar biasa.Ingin rasanya saya berlama-lama di tempat itu, andai saya tidak diingatkan oleh Ngima bahwa kita harus segera kembali ke lodge untuk packing dan turun.Seusai sarapan, kami berpamitan ke seluruh trekker yang masih ada di lodge untuk segera bergerak turun. Kami masih harus melewatkan waktu 2 malam di transit lodge sebelum tiba kembali di Lukla.Dalam perjalanan turun, kami mengambil beberapa jalur berbeda dari sewaktu naik. Kali ini kami memilih jalur Deboche dan menginap semalam, sebelum melanjutkan perjalanan ke Namche.Perjalanan turun tentu tak seberat perjalanan saat naik. Dalam perjalanan turun kami lebih rileks. Setelah menginap semalam lagi di Namche, kami lalu bergerak kembali ke Lukla. Di Lukla akan menginap semalam juga, sebelum terbang kembali ke Kathmandu.Kami sempat diwarnai ketegangan, karena di hari terakhir dalam perjalanan dari Namche ke Lukla, sepanjang jalan kami diguyur hujan. Ini juga membuat kami gelisah, karena dengan cuaca buruk seperti itu maka kami tentu saja tidak meninggalkan Lukla.Di hari terakhir, dimana rencananya kami akan meninggalkan Lukla dengan pesawat pertama di jam 8 pagi, menjadi tertunda karena hujan turun dengan derasnya. Untungnya jarak lodge tempat kami menginap sangat dekat dengan bandara, jadi kami bisa menunggu hujan reda di restoran lodge.Setelah menunggu hingga jam 11, kami mendapat kabar kalau pesawat sudah meninggalkan Kathmandu menuju ke Lukla. Artinya kami bisa kembali ke Kathmandu hari itu juga.Kami lalu bergegas menuju ke airport dan segera melakukan check in dengan cara manual. Beberapa jam berikutnya, kami sudah duduk dalam pesawat twin otter yang akan membawa kami kembali ke Kathmandu, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan lewat darat selama 7 jam menuju ke Pokhara.Perjalanan lengkap ke EBC ini akan saya tulis dalam sebuah buku, yang semoga bisa menjadi referensi buat para traveler yang memiliki 'mimpi' yang sama.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA